6 MODAL MEMBELI TIKET SURGA : RELIGIOSITAS ISLAM

Kehidupan Surga

WacanaMarzuki. Mendengar istilah surga kita akan terbawa dalam suatu bayang ruang dan waktu yang penuh dengan kenikmatan, keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan dan kemuliaan. Semua fasilitas surga dalam sebuah hadits qudsi digambarkan sebuah kenikmatan yang tidak pernah ditemukan di dunia, mungkin serupa namun tak sama dan tak pernah sedikitpun terlintas di benak manusia. Maka, surga adalah tempat yang paling indah dan tempat istirahat yang paling indah (diadaptasi dari: QS. Al-Kahfi [18]: 31).

Di dunia ini saya berpikiran tempat yang nyaman dan nikmat itu hotel. Berkeinginan makan dan ngopi tinggal pesan, tidur nyaman tanpa gangguan, tempatnya kinclong, bisa melirik lawan jenis yang menarik namun itu semua harus diganti dengan uang. Lagi-lagi uang. Namun, apapun penawaran yang diberikan hotel adalah kepalsuan dan kenikmatan semu dan sekejab. 

(Mengingat ajaran Bung Karno : JAS MERAH)

Surga milik Allah Swt, menawarkan kenikmatan yang sejati dan abadi (QS. An-Nisa` [4]: 122). Al-Qur’an membocorkan tentang kehidupan para penghuni surga yang membuat saya berdecak kagum sehingga memacu adrenalin untuk pesan tiket kesana.

Mereka duduk berhadapan di atas dipan-dipan (QS. Al-Hijr[15]: 47-48). Mereka mengenakan pakaian berwarna hijau yang terbuat dari sutra halus dan sutra tebal (QS. Al-Kahfi[18]: 31). Mereka mendapat perhiasan berupa gelang-gelang dari emas dan mutiara (QS. Al-Hajj[22]: 23). Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan (QS. Al-Furqon[25]: 16). Mereka tidak pernah berduka serta tak pernah merasa lelah dan tiada merasa lesu (QS. Fathir[35]: 34-35). Mereka selalu bersenang-senang (QS. Yasin [36]: 56-57). Mereka bersuka ria (QS. At-Thur[52]: 17-78). Mereka selalu dikelilingi anak-anak muda yang selalu siap melayani mereka. Rupa mereka seakan-akan mutiara yang tersimpan (QS. Ath-thur[52]: 24). Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang hijau (QS. Ar-Rohman[55]: 74-76).

Seumpama kita penduduk surga, apakah bisa melakukan dendam yang belum terbalas?

Pertanyaan ini saya paparkan sebab Al-Qur’an telah memberikan jawabannya. Yakni, seluruh penghuni surga itu berhati bersih tanpa menyimpan dendam dan dengki. Sebab ketika manusia memasuki surga secara otomatis surga melakukan scan hati manusia untuk mencabut virus dendam sehingga di dalam surga semua penduduknya saling bersaudara tanpa ada sikut-menyikut (QS. Al-A`rof[7]: 43).

Al-Qur’an banyak memberikan kabar gembira terhadap orang-orang yang mentaati Al-Qur’an. Sebaliknya, Al-Qur’an juga banyak memberikan kabar buruk bagi para pembangkang ajaran Nabi Muhammad Saw itu. 

(Baca artikel saya tentang kiat mengelola waktu. Baca)

Bagi saya, tiket menuju surga adalah mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw, itu sudah cukup.

6 Modal Membeli Tiket Surga

Ali Ibn Abi Tolib memberikan 6 bekal untuk membeli tiket surga, ini juga merupakan hasil perenungan Ali Ibn Abi Tolib dari ajaran Nabi Muhammad Saw, untuk membuka kesadaran kita lebih dalam. Kesadaran manusia sebagai hamba Allah Swt, memang harus selalu di-recarge, yakni sadarlah bahwa Allah telah menciptakanmu dan memberimu rezeki. Lengkapnya begini menurut Ali Ibn Abi Tolib:

”Barang siapa menghimpun 6 hal, berarti dia tidak membiarkan surga untuk dicari dan neraka untuk disingkiri: Pertama, mengenali Allah Swt, kemudian mentaati-Nya; Kedua, mengenali setan sebagai musuh Allah, kemudian mendurhakainya; Ketiga, mengenali akhirat, kemudian membekali diri untuk menuju ke sana; Keempat, mengenali dunia, kemudian meninggalkannya; Kelima, mengenali hak, kemudian mengikutinya; Keenam, mengenali batil, kemudian menyingkirkannya.” (Nashoihul `ibad, karya Syekh Muhammad Nawawi Ibnu Umar Al-Jawi)

(Faktor-faktor apa saja yang membuat hidup menjadi penuh kebahagiaan. Baca)

Pertama, Mengenal bahwa Allah yang menciptakan, yang memberi rezeki, yang menghidupkan dan mematikannya. Kemudian taat kepada-Nya dengan cara menyepakati dan mengerjakan segala perintah-Nya.

Membuka kesadaran itu penting, biasanya ini lakukan dengan mengajukan beberapa pertanyaan kepada diri kita sendiri dan merenunginya. Pertanyaan itu tentu harus bisa menggugah kesadaran diri kita terhadap eksistensi Allah Swt. Dulu, sewaktu saya masih bergumul di kusamnya bangku Ibtida`iyah, guru akidah saya biasanya bertanya kepada anak-anak didiknya,”Siapa yang membuat kursi ini?”, tentu saja kami pun bersama-sama menjawab,”tukang kayu”. Lantas, guru saya itu pun mengejar dengan pertanyaan lagi,”Siapa yang menciptakan tukang kayu”. Serentak kamipun menjawab,”Allah Subhanahu Wa ta`ala”.

Begitulah guru kami dulu membangkitkan keimanan kita pada Allah Swt. Pertanyaan-pertanyaan itu tentu harus terus diaktualisasikan terus dalam hati orang-orang yang beriman kepada Allah. Sebab Nabi Muhammad Saw sendiri pernah menyatakan bahwa kapasitas iman pada diri seorang mu`min itu bisa bertambah bahkan berpotensi berkurang. Mungkin salah satunya disebabkan lingkungan sekitar kita. 

(Hikmah putus dari calon suami atau istri. Baca)

Contohnya, bagi pedagang yang setiap hari dihadapkan pada warna pembeli yang beraneka ragam tentu cara berpikir seorang pedagang diharuskan berinteraksi dengan baik pada mereka. Saya sendiri dulu pernah berdagang di pasar, dengan sebuah lapak kecil di tengah pasar besar metropolitan, yang pernah kebakaran dua kali itu. Setiap hari saya harus ramah tamah pada pembeli saya, entah anak-anak, muda, dewasa, maupun orang tua. Harus sopan santun melayani pembeli dengan beraneka ragam karakter mereka, ada yang berwatak kasar, melambai, merayu, licik kita harus sama dituntut sama dalam melayaninya. Ada yang berwajah seram, cantik, melow kita harus sama melayaninya.

(Benarkah candi borobudur peninggalan nabi Sulaiman. Baca)

Saya yakin setiap profesi ada gelombang yang siap menghantam bagi orang yang telah menyatakan keimanan kepada Allah. Dan, memang Allah sendiri yang menghadirkan gelombang itu, sebagai ujian. Dalam Al-Qur’an suroh Al-Ankabut ayat 2 dan 3 Allah berfirman;

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji oang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta

Interaksi dengan beragam manusia biasanya berefek pada kekhusukan manusia namun dengan selalu mengingat Allah yang mencipatakan manusia, maka ketika datang godaan yang melalaikan seketika juga kita bisa langsung terhubung dengan Sang Pencipta. 

(Benarkah diakhirat mbah hasyim lebih populer dari kyai ahmad dahlan. Baca)

Kedua, Mengenal setan sebagai musuh, kemudian membantahnya dengan cara menyalahi perintahnya.

Kita harus sadar bahwa Allah telah menjadikan syetan sebagai musuh yang nyata untuk manusia. Syetan tiada henti-hentinya membisikkan perkataan-perkataan yang indah sebagai tipu daya, membelokkan manusia dari jalan yang benar (Adaptasi: QS. Al-An’am[6]: 112). Jika kita sudah sadar tentu kita harus selalu waspada terhadap tipu dayanya. Syetan tidak hanya berwujud jin yang tidak kelihatan namun syetan yang tercantum dalam Al-Qur’an 6:112 itu juga berwujud manusia. Jangan heran jika yang menggoda kita adalah justru teman-teman dekat kita bisa juga keluarga kita. Maka, Ketika kita membaca Al-Qur’an, bukankah juga ada ayat yang mengingatkan kita bahwa anak-anak kita, isteri-isteri kita ada yang menjadi musuh kita dalam menjalani ketaatan kita kepada Allah Subhanahu Wa ta`ala. “Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah  kamu terhadap mereka”(QS. At-Taghobun[64]: 14).

Ada beberapa tips membentengi diri dari tipu daya syetan. Saya menulis ini juga sama-sama belajar, bagaimana cara membentengi diri dari godaan syetan. Namun, saya hanya akan menuliskan dua saja supaya lebih menancap di memori pembaca. Pertama, selalu mengingat Allah akan bisa membetengi diri kita dari tipu daya syetan. Bahkan, konon jika kita sedang berdhikir dihipnotis orang tidak akan bisa. Yang jelas, jika kita selalu berdhikir hati kita menjadi tenang.”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenang”(QS. Ar-Ro`du[13]: 28). Ketenangan hati kita berimbas dengan tenangnya dalam berfikir. Segala masalah yang kita hadapi akan terbawa lancar tanpa tipu daya jika dibarengi dengan ketenangan dalam berfikir.

(Cerita pendek di bangku sekolah. Baca)

Kedua, mari kita berusaha mentauladani segala aspek Sang Nabi kita, Muhammad Saw. Beliau mencotohkan kepada umatnya untuk makan jangan berlebih-lebihan. Nabi memberhentikan makannya ketika belum kenyang. Al-Qur`an mengajarkan,”makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”(QS. Al-A`rof[7]: 31). Dalam wacana kesehatan, jika lambung terisi penuh makanan yang terjadi adalah energi yang digunakan untuk mencerna makanan  atau sistemic dynamic action akan tinggi, dalam hal ini terjadi penurunan energi tubuh dan berimbas dengan penurunan kekuatan tubuh dalam menjalankan aktivitas. Al-hasil, orang akan semakin malas dalam mengerjakan aktivitas apalagi menjalankan perintah Allah Swt.

Ketiga, Mengenal akhirat sebagai tempat yang kekal, kemudian mencarinya dengan mempersiapkan bekal untuk akhirat.

Setiap kali melewati kuburan saya berusaha untuk mengucapkan salam kepada Ahl Kubur,”assalamu`alaikum ya ahlal qubur”. Saya sepenuhnya sadar disitulah saya nanti juga akan bertempat. Cepat atau lambat saya juga akan mati. Kehidupan ini hanya sementara dan kehidupan akhiratlah yang lebih kekal. Tiada nasehat yang paling baik kecuali mengingat kematian. Dalam Bulughul Marom tertulis,”kafa al-mautu bil mau`idhoh”,”cukuplah kematian menjadi nasehat yang baik”. Ya, kematian bisa mengingatkan kita kepada kehidupan yang lebih kekal, yakni kehidupan setelah mati nanti.

(Membaca sejenak tentang kisah Sang Ode. Baca)

Betapa banyak orang-orang yang tiap hari melewati kuburan namun nilai-nilai kebaikan tidak bisa menjadi tujuan kehidupannya. Ya, kalau memang Allah belum berkehendak memberikan hidayah terhadap seseorang, melewati kuburanpun mungkin bagi mereka biasa-biasa saja. Di adaptasi dari QS. Al-Qosos[28]: 30.

Namun yang terpenting adalah bagaimana sikap kita membekali diri kita menuju alam akhirot yang kekal itu?

Membekali diri menuju akhirat adalah tentu dengan menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua larangan-larangannya, atau khotib Jum`at biasanya menyebut dengan istilah takwa. Dalam bahasa arab takwa merupakan berasal dari kata kerja waqo, yang kerap diartikan dengan menutupi, menjaga, berhati-hati dan berlindung. 

(5 Tips memilih bisnis. Baca)

Takwa merupakan ikatan kontrol kita supaya tidak lepas kontrol mengikuti hawa nafsunya. Ketakwaan seseorang harus bisa mengontrol terhadap budi pekertinya di semua waktunya. Hakekatnya, ketakwaan adalah mendekatkan diri kepada Allah dan berusaha keras untuk menghindari kemurkaan Allah Subhanahu Wa Ta`ala. Sebagaimana Shigorus shohabah, Ibn `Abbas mengatakan bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang takut dari Allah dan siksaannya.

Ketakwaan itu sesungguhnya berada dalam hatimu. ”Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS. Al-Hajj[22]: 32). Ketika hati seorang hamba telah terstempel takwa tentu hamba itu luarnyapun juga akan tampak ketakwaannya. Maka, inilah sebenarnya Al-Qur`an memberikan pengertian kepada kita supaya jangan melihat seseorang dari fisiknya saja. Sebab, betapa banyak orang-orang yang luarnya tampak baik secara sosial namun justru mempunyai visi dan misi buruk terhadap lingkungan dan kemanusiaan, apalagi ketuhanan.

Kapasitas ketakwaan orang satu dengan yang lainnya tentu bisa saja tidak sama. Kapasitas ketakwaan seseorang mungkin layaknya sekolah, ada yang kelas satu, kelas dua dan seterusnya. ”Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta`atlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya  maka mereka itulah orang-orang yang beruntung” (QS. At-Taghobun[64]: 16).

Keempat, Mengenal bahwa dunia akan hancur dan menuju tempat singgah di akhirat, kemudian meninggalkannya, dia tidak memikirkan dunia, melainkan sekedar bekal untuk akhirat.

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami”. Katakanlah: “Pasti datang, demi Tuhanku Yang mengetahui yang ghoib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada tersembunyi daripada Nya seberat zarrohpun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS. Saba`[34]: 3).

Ayat di atas menginformasikan kepada manusia bahwa hari kehancuran alam semesta ini pasti akan terjadi. Tentu sebagai orang yang beriman kita harus percaya terhadap apapun informasi dari Al-Qur’an. Pun, sebenarnya orang kafir yang tidak percaya terhadap hari kehancuran adalah orang yang tidak menggunakan akal pikirannya. Sebab tidak ada benda-benda di galaksi ini yang abadi. Lambat laun semua pasti akan menemui kehancuran.

Lantas, kapan datangnya hari kehancuran ini? Dalam hal ini Al-Qur’an menjawab:

Mereka menanyakan kepadamu tentang hari kehancuran: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku ; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi-sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al-A`roof[7]: 187)

Kiamat pasti akan datang. Entah, kapan datangnya, yang jelas ketika hari itu terjadi mau tidak mau kita hanya bisa berseru meminta tolong kepada Allah Subhanahu Wa Ta`ala, sebab di hari itu semua orang pada sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri (Baca di Al-Qur’an suroh Al-An’am ayat 40 dan 41).

Saya terkadang berpikir,”Ah, mungkin hari kiamat itu masih jauh”. Pikiran seperti ini  justru merusak keimanan kita, sebab Al-Qur’an menginformasikan bahwa hari kiamat itu yang tahu hanya Allah saja. Sebab, bisa jadi kedatangan hari kiamat it sudah dekat.

“Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat? Orang-orang yang tidak beriman pada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh. (QS. ASY-SYUURA[42]: 17-18).

Kelima, Mengenal hak atau kebenaran berbagai hukum, kemudian mengamalkannya.

Mengenal hak atau kebenaran. Lantas, apa itu kebenaran? Dalam Islam kebenaran adalah: (apa yang telah kami ceritakan), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu, (QS. Ali Imron[3]: 60). Ayat tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa kebenaran adalah ajaran yang datang dari  Allah Subhanahu Wa Ta`ala.

Kita sebagai muslim mengerti bahwa memakan daging babi itu tidak dibenarkan apapun argumentasinya. Kita bisa mengerti Informasi tentang benar dan salah, merupakan sebab kita diberi tahu oleh Allah Swt, melalui Al-Qur’an yang disampaikkan oleh Nabi Muhammad Saw. Betapa banyak larangan-larangan dari Allah Swt, dan perintah dari Allah.

(Menelisik sisi-sisi Madiun Sebagai Kota Gadis. Baca)

Bagaimana kita bisa mengetahui kebenaran yang datang dari Allah yang hak itu?

Itulah manfaatnya kita disuruh mencari ilmu. “Tolabul ilmi fariidhotun `ala kulli muslimin”, al-hadits. Puji Tuhan, kita hidup di zaman yang mudah mendapatkan informasi apapun. Tentu, ini memudahkan kita untuk bisa mengakses segala pengetahuan baik pengetahuan amaliyah maupun ilmiyah. Dalam hal informasi memang kita bisa bebas saja browser melalui internet namun dalam hal mempelahari ilmu-ilmu tentang Al-Qur’an, alangkah baiknya kita berguru dan bertanya kepada orang-orang yang ahli terhadap ilmu-ilmu agama, “Ulul Ilma”,(QS. Ali Imron[3]: 18) yakni ulama’. “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl[16]: 43).

Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang beriman (QS. Al-Mujadilah[58]: 11). Allah sangat memotivasi sekali bagi orang-orang yang berpegang teguh terhadap kebenaran Al-Qur’an.”Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling  tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali-Imron[3]: 139).

Setelah kita mengetahui mana yang benar dan salah selanjutnya adalah menerapkan nilai-nilai kebenaran dalam perilaku kita sehari-hari. Allah Subhanahu Wa Ta`ala memberikan dua pilihan kepada kita dalam kehidupan yang sementara ini antara benar dan salah. Orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran dan orang-orang yang memperturutkan hawa nafsunya, Allah Swt telah menyiapkan tempat masing-masing bagi mereka kelak di akhirat nanti (lihat QS. Al-Kahfi[18]: 29). Anda memilih yang mana adalah terserah anda.

Keenam, Mengenal kebatilan, yakni sesuatu yang tidak benar, kemudian tidak mengamalkannya.

Mengenali kebatilan adalah mudah jika kita sudah terbiasa mencari ilmu-ilmu agama Islam. Sebab kebatilan adalah larangan-larangan dari Allah Swt. Lantas, bagaimana nasib orang-orang yang berbuat kebatilan nanti? “Dan pada hari terjadinya kebangkitan, akan rugilah pada hari itu orang-orang yang mengerjakan kebathilan” (QS. Al-Jaatsiyah[45]: 27). Allah sangat murka terhadap orang-orang yang berbuat kebatilan. Bahkan dalam Al-Qur’an Suroh An-Nisa` ayat 29 itu, Allah mengecam keras terhadap orang yang berbuat kecurangan dalam interaksi sosialnya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu”

Dalam ayat lain Allah mengungkap perilaku busuk para rahib-rahib yahudi dan nasrani yang gemar berperilaku tak baik, yakni mereka suka berbuat curang dalam mengambil uang orang lain. Kebusukan lain, mereka gemar mengintervensi urusan ibadah orang lain supaya jauh dari ajaran-ajaran yang benar. Dalam QS. At-Taubah[9]: 34 ini, Allah juga mengancam terhadap orang-orang yang suka mengumpulkan emas dan perak namun lupa terhadap kemanfaatan sosial masyarakat. Emas dan perak merupakan simbolisasi dari harta.

Kebatilan dalam Islam begitu luas pembahasannya, maka kita harus kritis terhadap ajaran-ajaran Islam yang kita dengar. Budaya tidak buruk namun juga tidak selamanya budaya itu harus kita ikuti, meski budaya itu dilakukan oleh orang-orang tua yang kita anggap mumpuni. Kita sebagai orang Islam dididik untuk memanfaatkan akalnya (begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menyuruh kita untuk memanfaatkan otak). Singkat kata, ketika suatu budaya telah kita terima dan telah membawa kebatilan kepada kita, bahkan menjadi racun bagi keimanan kita, maka kita tidak bisa mencari kambing hitam  kelak di akhirat. Dalam QS. Al-A`roof[7]: 173 menyebutkan: atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu”

Al-hasil, “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahui” (QS. Al-Baqoroh[2]: 42).

Tags; TIKET SURGA, KEHIDUPAN DI SURGA, 6 MODAL MEMBELI TIKET SURGA, DEFINISI TAKWA, TIPS MEMBENTENGI,  KEBENARAN ADALAH, KEBATILANADALAH

MELACURKAN DIRI : WACANA PROSTITUSI

WACANA MARZUKI. Entah tepatnya kapan saya pertama kali mendengar kata pelacur. Saya original orang desa dari sebuah gang buntu di Kabupanten yang tertinggal pula, jadi kemungkinan besar saya mendengar istilah pelacur ketika saya sudah akil balig mungkin, di mana pergaulan kota telah ku jajaki (hwhw). Kata “pelacur  semengerti saya dulu selalu dilekatkan dengan perempuan yang menjual jasa seksual. Dan, saya berkesan buruk terhadap profesi itu. Dan, jika yang dimaksudkan pelacur adalah profesi itu, saya kira sejak kecil saya sudah sering mendengar profesi seperti itu. Di desa saya profesi itu biasanya disebut dengan istilah “begenggek”.  Dan, kutahu di jenis kelamin laki-laki juga ada yang berprofesi itu, dan parahnya mayoritas penggunanya adalah laki-laki pula.

 (5 tips berhenti merokok. Baca)

Ketika saya sudah senang menjelajah dari kota satu ke kota lain, ternyata istilah “begenggek” itu punya sinonim tersendiri ditiap daerah; kawasan kampus mengenal ayam kampus, di perkampungan mengenal ayam kampung, di perkotaan mengenal “perek” perempuan eksperimen dan banyak  lagi sebutannya; pandiang, pekcen,  bunga raya, cabo, gigolo, gongli, hostes, balon, bondon, bunga latar, jobong, kupu-kupu malam, pemijat, pinang muda, lanji, loktong, lonte,  nyamikan, pramunikmat, pramuria, sundal, lucah, moler, pendayang, penghibur, tunasusila. Nah, itu beberapa sinonim dari peacur yang saya tahu hihi banyak. Istilah-istilah itu saya dapat dari lirik-lirik lagu, cerpen dan mendengar sendiri dari teman-teman. Saya memaparkan istilah-istilah itu bukan bertujuan supaya kita mengolok-ngolok orang lain dengan nama-nama itu, sebab mengolok-ngolok orang lain tidak dilegitimasi dipelajaran PPKN yang saya pelajari dulu. Namun, istilah-istilah yang banyak itu biar kita tahu dan instropeksi atau mawas diri bila ada orang yang menyebut kita dengan salah satu dari istilah-istilah diatas.

Secara universal, istilah pelacuran dipahami sebagai profesi, di mana seseorang yang menjual jasa yang bernilai tinggi namun rela ditukar dengan sesuatu yang tak selayaknya. Dalam bahasa ilmiah populer kita mengenal dengan istilah idealisme. Yakni, sebuah pemikiran dan tindakan yang bersedia menerima dan menikmati ukuran moral yang tinggi, estetika dan keagamaan.

(5 Tips Muda Sehat dan Tua Hidup Bahagia. Baca)

Dalam konteks menjual idealisme demi sesuap nasi, atau hal-hal lain yang berlawanan dengan nilai-nilai moral dan estetika yang tinggi, tentu pelacuran model ini sangat banyak ditemui ditengah-tengah masyarakat, ditengah gelombang kapitaliseme ini. Betapa banyak orang-orang yang mempunyai profesi tertentu yang sebenarnya mempunyai talenta yang tinggi namun melacurkan dirinya hanya demi uang misalnya, sehingga karyanya tidak berkualitas dilihat dari sisi estetika.

Nah, dibawah ini saya akan memaparkan 6 contoh profesi yang bisa dikatakan melacurkan profesinya yang mulia demi sesuatu yang tak sebanding dilihat dari sisi moral yang tinggi, yang kini tengah melanda negeri ini:

(5 Artis Cantik di Sinema Abad Kejayaan. Baca)

1.      Pelacuran Intelektual

Apa jadinya jika cendekiawan atau seorang intelektual berjuang hanya demi harta, tahta atau hanya demi mendapatkan wanita saja? Ayo coba, seberapa tajamnya pisau seorang intelektual itu. Padahal intelektual  atau ilmuan merupakan orang yang diberi anugrah ilmu yang tinggi tentu semestinya ia harus mengabdikan dirinya untuk kepentingan kemaslahatan manusia secara lebih banyak. Dan tak semestinya ilmuan mengabdikan dirinya untuk kepentingan seseorang atau kelompok tertentu untuk bersenang-senang diatas penderitaan masyarakat luas.

Bagaimana jadinya jika sekumpulan kaum intelektual melakukan konspirasi memberikan keputusan karena tendensi terhadap kelompok tertentu. Perilaku itu kerap kita temui sebelum negara ini menggelar pemilu, di mana mereka mengadakan survey terhadap calon presiden untuk mendongkrak calon, yang padahal mereka juga sudah tahu hasil surveynya. Namun survey itu dibuat memang untuk mencari dukungan masyarakat luas, yakni dengan mengumumkan bahwa calon presiden ini memiliki pendukung yang banyak maka masyarakat awam bisa tertipu dengan konspirasi para oramg-orang pinter ini. Prof. Mahfud MD, memandang fenomena ini sebagai sesuatu yang membuat manfaat ilmu menjadi mubadzir, di mana seorang intelektual yang sudah berenang mengarungi samudra melawan badai untuk mendapat mutiara ilmu namun hasilnya digunakan untuk menipu demi uang.

(5 Tips Menulis Artikel Dalam Bahasa Inggris. Baca)

Menelisik para pelaku pelacur intelektual sudah banyak dijumpai di tempat penggodokan para intelektual ini. Bagi intelektual yang pernah merasakan dunia kampus pelacuran intelektual mungkin bukan sesuatu yang wah, di mana mahasiswa membeli skripsi kepada seseorang yang menjual intektualnya. Dalam konteks ini memang yang bisa diberi stigma pelacur intelektual adalah si tukang tulis itu, sebab jika seorang intelektual beneran tentu ia akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan jual beli skripsi itu.

Akhir-akhir ini media gencar memberitakan para pejabat yang menggunakan ijazah palsu. Memang ini bukan berita baru, namun seenggak-enggaknya praktek-praktek pelacuran intelektual ini juga masih subur, meski ini sebenarnya tidak bisa menyalahkan orang-orang kampus secara merata sebab praktek-praktek ini kerap dilakukan oleh para oknum kampus. Penjualan ijazah palsu ini selain sebuah pelacuran intelektual ini juga menyakiti para intelektual yang telah mendapatkan ilmu dengan bersusah payah. Al-hasil, pelacuran intelektual merupakan bibit-bibit melemahnya dunia pendidikan dalam membentuk moral anak didik, sebab pendidikan sebenarnya bukan hanya berfokus tumbuh kembang otak namun juga kecerdasan mental. 

(5 Tips Karir Sukses di Masa Depan. Baca)

2.      Pelacuran Jurnalis

Jurnalis, yakni orang yang mencari jurnal, berita atau lebih familier dikenal dengan sebutan wartawan merupakan sebuah pekerjaan yang  sangat mulia. Bahkan disuatu sore yang cerah  di bawah pohon yang rindang  dalam sebuah diskusi rutinan tentang meneguhkan kembali moralitas santri, dengan narasumber Kyai Nyentrik, ditengah-tengah penyampaian temanya, Kyai itu menyegarkan suasana dengan mengatakan,”tugas seorang Kyai dan wartawan itu hampir sama, yaitu sama-sama menyebarkan berita. Bedanya, kalau  kyai itu menyebarkan berita dari langit untuk masyarakat bumi, sedangkan wartawan juga menyebarkan informasi dari bumi juga untuk masyarakat bumi”, sembari Kyai itu tersenyum terkekeh-kekeh dan menghisap cerutunya yang hampir habis, yang tentu makin menambah aura kewibawaannya.

Wartawan memang mulia namun godaan wartawan juga sama besarnya dengan godaan seorang Kyai. Wartawan kerap diamplopi oleh pihak atau orang-orang tertentu untuk keberpihakan sebuah berita, sebab ditangan dingin wartawanlah kata dunia. Wartawan yang tetap mempertahankan idealismelah yang pantas kita sebut dengan wartawan, atau kalau tidak kita sebut dengan jurnalis sampah.

( 5 Tips diterima diGoogle AdSense.  Baca )

Jurnalisme sampah kerap kita jumpai di media-media televisi dan cetak kita  sebelum pemilihan umum kemarin. Media televisi satu dan lainnya tampak perang propaganda untuk memenangkan calon presiden yang didukungnya. Peran jurnalisme seharusnya netral dan mengungkap fakta bukan opini dibumbui fakta yang dibengkokkan.

Namun saya yakin, di Indonesia ini masih banyak jurnalis yang idealis, yang tugasnya dan balasannya bisa sama dengan peran Kyai itu. Menurutku, Kyai dan Jurnalis akan sama-sama berpotensi masuk surga dengan profesinya itu, sebab keduanya sama-sama bisa menyampaikan kebenaran. Terlepas dari surga yang mana, saya belum tahu secara pasti, hehe.

Kini, tantangan jurnalis dunia semakin berat sebab kini kebenaran sebuah berita bukan ditentukan oleh jurnalis yang idealis namun kerap ditentukan oleh orang-orang yang mempunyai modal. Dunia kini tengah berada pada ekonomi kapitalis yang digawangi AS. Jurnalisme adalah bisnis bagi kuam bermodal, bukan sekumpulan wartawan-wartawan yang memegang idealis lantas membentuk  media. Berita yang dipublikasikan bisa saja merupakan titipan dari sang majikan. Makanya, hingga hari ini saya sendiri belum yakin bahwa ISIS adalah benar-benar kelompok Islam yang menginginkan berdirinya khilafah Islam yang bermimpi Islam bisa dibawah satu kepemimpinan, sebab banyak sumber berita lain yang berpendapat bahwa ISIS tak lain dan tak bukan merupakan proyek intelijen dunia yang berupaya membuat propaganda bahwa Islam itu agama pedang bukan agama kedamaian. Mereka berupaya membentuk ISLAMOPOBIA.

(5 Tips Hidup Lebih Positif. Baca)

Banyak hal yang harus dipertanyakan tentang “IDEALISME MEDIA DUNIA”, seperti misalnya mengapa media dunia jarang mengutuk-ngutuk Israel atas pembantaian warga palestina? Lantas, mengapa media dunia murka dengan ISIS dan dibesar-besarkan, yang lantas menutup-nutupi kebiadaban Israel?

Dunia berbicara melalui media bahwa Islam itu agama yang harus dijauhi dan dikubur hidup-hidup. Media dunia terwakili oleh orang-orang kapitalis, yang konon kini mereka mengalihkan musuhnya pada Islam setelah mereka melihat komunisme telah runtuh. Mereka melihat Islam adalah kekuatan yang membahayakan bagi eksistensinya.

Entah, saya terlalu bersemangat menulis tentang ketidak condongan saya dengan pengusung kapitalis. Yang jelas, saya mencintai Islam dan Jurnalistik. Terlepas dari makna sebuah lirik lagu, cinta itu buta.

3.      Pelacuran Jabatan

Jabatan adalah amanah. Pemegang jabatan tak lain adalah orang telah diberi kepercayaan untuk sebuah tugas tertentu, jika jabatannya adalah lurah ia dipercaya untuk memimpin desanya. Camat dipercaya memimpin masyarakat luas yang terdiri dari beberapa desa dan bertanggungjawab atas permasalahannya. Pejabat adalah pemimpin meski tidak semua pemimpin adalah pejabat. Pejabat mempunyai tanggungjawab lebih besar daripada sekedar pemimpin non pejabat, sebab pejabat dilantik dengan mengucapkan sumpah untuk menjalankan undang-undang suatu negara. Pejabat adalah abdi negara yang bekerja dengan gaji negara dan sumber kekayaan negara salah satuya dari pajak.

Pejabat mempunyai tugas yang mulia, yakni melaksanakan undang-undang. Seorang pejabat yang benar-benar amanah dan melaksanakan ketentuan undang-undang itulah yang disebut pejabat idealis. Mendengar curhat-curhat para pejabat idealis memang berat godaannya. Yenny Wahid, di sebuah acara talk show pernah bercerita bahwa dulu ketika menjadi pejabat sempat dibawakan uang satu koper oleh seseorang yang mempunyai kepentingan tertentu, namun putri mantan Presiden Republik Indonesia itu menolaknya. Saya yakin Mbak Yenny menolak karena pertimbangan tertentu. Dan siapa orang yang tidak tertarik dengan uang satu koper. Bagi saya, mbak Yenny Wahid adalah salah satu contoh orang yang berjuang dengan idealisme. 

(5 Tips Memilih Durian Yang Enak. Baca)

Berbicara tentang  pelacuran jabatan di Indonesia ini tak pernah usai untuk mengurai nama-nama orangnya. Pelacuran jabatan di Indonesia telah mengakar dan akarnya bercabang. Bahkan lembaga independen bentukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bertugas memberantas pelacuran jabatan di Indonesia itu,  kini hanya bisa berdiri tangan kosong dan mudah dipukul mundur oleh tikus-tikus kantor itu. Indonesia adalah negara berstatus darurat prostitusi jabatan. Yang membuat saya menepuk dada adalah Akil Mukhtar, hakim konstitusi yang selayaknya menjaga konstitusi negara Indonesia, dan hakim konstitusi merupakan atasan hakim-hakim, celakanya malah mencoreng lembaga tinggi negara itu dengan melacurkan idealisme kehakiman demi sesuap nasi yang padahal kebutuhan nasinya sudah dicukupi oleh negara.

Korupsi, gratifikasi, kolusi, nepotisme adalah beberapa bentuk pelacuran jabatan di negeri tercinta ini. Bagaimana negeri bisa tercipta baldatun toyyibatun wa robbun gofur, sebuah negeri yang didamba Tuhan, jika pejabatnya saja masih suka  melacurkan diri. Al-hasil, apakah hanya dengan memperbaiki sistem pengelolaan rumah yang baik untuk bisa menjauhkan rumah dari tikus-tikus itu? Biar Refly Harun yang menjawabnya, hehe.

4.      Pelacuran Penulis (Sejarah)

Kita kerap menemukan berbagai versi dalam penulisan sejarah sebuah rezim tertentu. Makanya, banyak kita temukan berbagai pendapat tentang siapa yang yang paling validasi terhadap sebuah kekuasaan. Melihat fenemona berwarna ini sebenarnya hal yang wajar. Sebab setiap rezim mempunyai juru tulis sendiri yang mendukung kedaulatannya. Pro dan kontra antar penulis sejarah tetap bisa ditengok sepak terjang si penulis sejarah itu tentang posisinya dalam sejarah itu. Dalam konteks ini saya membagai penulis sejarah dalam dua kategori, yakni sebagai internal kekuasaan dan eksternal kekusaan. Internal kekuasaan bisa kita telusuri perjalanan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dalam menghasilkan karya Kitab Kakawin Bharatayudha, yang menceritakan kemenangan Kediri atas Jenggala. Disisi lain kita menemukan karya lain tahun 1178 M, yang ditulis oleh Chu-ku-Fei tentang sejarah serupa. Di era Majapahit kita mendengar Mpu Prapanca pada tahun 1365  yang menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya dan perjalanan Hayam Wuruk  mengelilingi daerah kekuasaannya. Ada perang Bubat yang bisa baca di Kitab Sundayana, yakni usaha Gajah Mada dalam menaklukan Kerajaan Sunda. Saya menekankan, bahwa saya tidak menuduh para penulis-penulis sejarah itu adalah pelacur idealisme, namun dalam konteks nama Mpu Sedah dan lain-lain itu merupakan manusia-manusia saksi sejarah, saya menyebut internal sejarah. Dan, tidak bisa hantam garam kesemua penulis internal sejarah merupakan pelacur idealisme.

( 5 Tips Menjadi Orang Kaya. Baca)

Eksternal, yakni penulis-penulis sejarah yang menganalisis sendiri berdasar peninggalan-peninggalan sejarah yang biasanya penulis ini hidup jauh setelah rezim itu berakhir. Dan dengan daya kritis dan melihat sisi lain penulis ini mempunyai kesimpulan sejarah yang berbeda dengan penulis-penulis sejarah di era rezim itu. Dalam hal ini kita mengenal Earl Drake, dalam bukunya Gayatri Rajapatni, penulis memunculkan fakta lain yang tidak diungkap sejarah sebelumnya, yakni tentang kehancuran Singoshari lebih disebabkan ritual tantra. Ritual ini muncul ketika Kertanegara mendengar Kubilai Khan marah besar terhadap Singoshari dan bertekad membalas dendam. Lantas, Kertanegara menghimpun kekuatan dengan bersekutu pada kerajaan-kerajaan tetangga, dan Kertanegara juga melaksanakan sebuah ritual yang biasanya dilakukan kerajaan Mongol, ritual tantra. Namun ketika digelar ritual tantra Singosari malah luluh lantak diserang Kediri.

Esensinya, setiap rezim mempunyai penulis sejarah tersendiri untuk melegitimasi kekuasaannya. Dalam konteks ini kita bisa belajar mana penulis yang didikte oleh kekuasaan dan penulis yang independen. Bukankah selayaknya penulis harus menulis apa yang dianalisanya, bukan tunduk lantas menulis apa kata sang penguasa.

5.     Pelacuran Musisi

Musisi adalah -orangorang yang berkecimpung dalam dunia musik. Entah mereka memainkan piano, gitar, drum, bass, atau vokal, bahkan penulis lagu juga masuk dalam kategori ini meski kerap disebut komponis. Namun penulis lagu biasanya tanpa ada sebutan komponis jika ia menyanyikan lagu sendiri meski komponis. Musisi adalah sebuah kata jamak “plural” dari musikus. Orang-orang yang suka menggubah sebuah lagu, melatih alat musik adalah orang-orang yang masuk dalam kelompok ini, maksudnya jika suatu saat mereka ditanya oleh calon mertua ketika akan melamar pacarnya,”Profesinya apa mas?”, maka mereka benar jika menjawab,”eee….musisi, Pak”.

Musisi adalah seniman yang berkarya dengan musik. Seni pada dasarnya adalah membawa pesan-pesan tertentu pada karyanya. Seni tanpa makna adalah hampa. Buat apa berkarya jika seni tidak bisa membawa pengaruh keindahan yang signifikan terhadap penikmatnya? Ketika seni tidak mampu memberikan cuatan warna keindahan maka ia buka seni namun air seni, kotoran yang layak dibuang saja. Dalam konteks ini musisi sebagai seniman, ketika karyanya tidak bisa membuahkan keindahan maka layakkah disebut musik? Jawabannya menurut saya, layak disebut pelacuran musisi.

Betapa banyak musisi yang mempunyai talenta yang tinggi namun justru berkarya tanpa idealisme. Berkarya hanya untuk mengikuti industri. Industri adalah pasar. Ketika berkarya hanya karena pasar maka karyanya adalah hasil dikte dari pemegang industri. Bagaimana jadinya jika sebuah karya seni hanya tunduk dan patuh terhadap pasar?

Karya yang hanya mengikuti pasaran bisa kita tengok bareng-bareng. Salah satu media yang bisa kita gunakan sebagai wahana tengok setiap hari adalah menggunakan televisi. Salah satunya film, dimana sulit sekarang masyarakat memilih film-film mendidik, yang ada malahan mempertontonkan adegan-adegan panas yang membuat hormone testosteron naik.

Padahal film, menurut salah satu penulis film yang terkenal saat ini, yang sekarang sedang menggarap Preman Pensiun 2, mas Aris Nugroho”Televisi itu karya sastra saat ini”. Lha, kalau tontonan televisi sudah tidak bisa membangkitkan spirit kemajuan dan keindahan bagi konsumennya?

Coba telongok, apa ada kriteria menjadi hots di talk show televisi itu harus orang yang mempunyai konsep berbicara yang bagus? Tidak kan. Malahan mayoritas host tv itu banci, kan? Cuman obrolan di warung kopi di bawa ke tempat syuting.

Al-hasil, masyarakat selaku penikmat seni akan dibentuk oleh industri. Industri adalah milik orang-orang yang subur perutnya.

6.     Pelacuran jasa Sexs

Seksual bukan segalanya namun pernikahan tanpa seksual adalah hampa. Seksual dalam pernikahan adalah ibadah yang berlipat-lipat pahalanya, kata guru saya. Seksual adalah aktivitas untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Dalam sebuah pernikahan seksual adalah sebuah aktivitas puncak cinta dan kerja sama mewujudkan keturunan, regenerasi. Dalam sudut padang Islam, aktivitas seksual dalam bingkai pernikahan adalah mulia sekali. Namun, ketika aktivitas seksual dilakukan diluar pernikahan, Islam justru mengutuknya berlipat-lipat. Bahkan, aktivitas seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita yang masing-masing sudah menikah mereka bisa didera tanpa belas kasihan (Al-Qur’an Suroh Annur [24] ayat 2).

Esensinya, seksual adalah aktivitas mulia. Faktanya, di mayoritas negara-negara di dunia ini jasa seksual, atau menjual diri untuk memuaskan biologis demi uang dan bisnis-bisnis prostitusi ini dipandang ilegal, negara memandang itu adalah bisnis yang tidak diatur dalam undang-undang.

Penjaja seks ini, biasanya dilakukan oleh perempuan mereka beralibi untuk mencukupi makan keluarganya. Dalam sebuah tulisan di Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008, saya lupa nama penulisnya, bahwa si penulis justru memuji pelacur sebagai: Ibu Indonesia Tahun 2008. Yakni Nur, 35 tahun yang ditinggalkan suaminya dan harus menghidupi 5 anaknya. Nur harus bekerja memecah-mecah batu. Kerjaan itu tidak mencukupi untuk keluarganya sebab ia hanya memperoleh upah 400 ribu rupiah per bulan. Maka, menjelang petang ia berdandan dan menjajakan seks di sebuah kuburan Cina. Sehari ia mendapatkan 30 ribu rupiah, dengan uang itu ia berusaha menyekolahkan anaknya.

Dalam kasus diatas, memang kita tidak bisa menyalahkan dan mengutuk para pelacur, namun kasus seperti Nur itu hanya sebagian. Betapa banyak perempuan-perempuan yang menjajakan seks memang mendamba ekonomi yang mapan tanpa keringat. Akhir-akhir ini media indonesia menguak sebuah aktivitas prostitusi artis, dalam kasus ini saya berpikiran lain dengan kasusnya Nur diatas. Artis kan sudah bermewah-mewah hidupnya, mengapa harus menjalani bisnis ini?

Terlepas dari apapun alasannya, saya berpandangan bahwa pelacuran bukan sebuah perbuatan yang dibenarkan. Semoga Tuhan memberi otak bisa digunakan lebih maksimal.

Tags; MELACURKAN DIRI, PELACURAN MERAJALELA, PROSTITUSI ONLINE, MELACURKAN ILMU DEMI UANG, UANG ADALAH SEGALANYA, JURNALISMESAMPAH, PEMBENGKOKAN SEJARAH, MANIPULASI SEJARAH, PELACURAN MUSISI, BISNISESEK-ESEK.

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.