Pesona


By : Marzuki Bersemangat
Serempak sekali 22 Agustus 2009 umat Islam melaksanakan ibadah puasa. Makan sahur hari itu bagiku terasa hambar, ma’lum tidak terbiasa makan menjelang terbitnya fajar. Ba,da ashar ku meluncur menuju Jombang tercinta. Aktivitasku menonton selama 16 hari di Jombang: sekolah-diskusi-bowsing.

Senin 7 September aku dan temanku, Mahmud meluncur kerumahnya, Desa Tempuran Kecamatan Tanjung Kabupaten Lamongan. Desa yang bagiku unik. Kami harus memasuki jalan selebar 2 M sepanjang 3 Km. Sekarang akses desa itu halus. “Baru mei kemarin jalan ini dicor “ kata salah satu pemuda di desa itu yang kutanya, kapan jalan ini direnovasi. Aku dulu pernah masuk desa ini namun jalan masih berupa sirtu (pasir dan batu). Bahkan karena tidak enaknya lewat jalan ini dulu aku bernyanyi setelah sampai dirumah temanku”Perjalanan ini sungguh sangat menyedihkan”.

Tanah diwilayah Kecamatan ini berstatus tanah gerak. Jalanan akses Desa Tempuran dulunya diaspal namun sering terjadi keretakan yang berakibat tanah keluar dan menutup aspal. Cor yang sekarang pun (September 2009) mulai tampak retak. Nanti bila keretakan banyak terjadi akan ditambal dengan aspal. Cor jalan ini bertebalan kurang lebih 30 cm. Jalan ini juga menghubungkan Pasar Sukorame. Sebelum sampai Desa Tempuran jalan ini sepi bila malam hari karena termasuk wilayah persawahan dan hutan. Menakutkan, dimana-mana pohon dan tidak ada lampu.

Kamipun seperti computer yang baru di Instal. Fikiran kami cerah 2 hari didesa tempuran. Setelah selama 16 hari di Jombang, aku seperti burung kutilang yang dikurung tuannya. Tunduk patuh. Aku ingin menyelami labirin liku-liku yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium.(Andrea Hirata).

Selasa ba’da ashar aku dan mahmud minta izin pulang. Kami menuju Desa Kandangan Kecamatan Sambeng Lamongan. Bermacam rute sudah kami kantongi namun kami tetap kebingungan sesampai di kecamatan Sambeng. Kami tidak tahu secara pasti untuk akses desa kandangan. Rute kami ingat di otak: “Masuk jalan bercor selebar 2 m.”. Setelah melalui berbagai proses akhirnya kami menemukan jalan itu. Jalan bercor sepanjang 1 km. kendaraan kami melaju dengan cepat dan hati-hati. Ternyata cor itu hanya kurang lebih 1 km. setelah itu jalan berupa batu terjal yang kami khawatir kendaraan kami bocor. Kekhawatiran kami karena tidak ada tambal ban. Kami berada di tengah hutan. Pohon, pohon dan pohon sekali. Perlahan namun pasti. Kami mengejar waktu. Sebentar lagi berbuka puasa. Perjalanan 2 km sampai di Desa Cane. Kami bertemu teman safari Ramadhan yang berada Kantor secretariat kami langsung menuju post 2 Desa Kandangan. Rute kami sekarang jelas sesudah teman-teman memberi gambar peta untuk tujuan kami. Jarak post 1 dengan tujuan kami kurang lebih 3,5 km. namun bagi kami serasa 10 km. jalan itu parah rusaknya. Kalau siang panas. Dari Cane ke Kandangan kanan kiri jalan berupa sawah.
Jam 17.33 suara bedug terngiang. Kami berbuka di Madrasah Ibtida’iyah depan Masjid Kandangan selepas Masjid kami menemui teman, Ubaid. Sebenarnya Aku dan Mahmud hanya ingin bermain. Namun, Ubaid mengharap kami gabung dengan mereka untuk ikut safari Ramadhan (mirip sama dengan KKN atau Bhakti Sosial).

Hatiku hancur waktu rapat malam itu 8 September ba’da tarawih di rumah Pak Lurah saat kulihat wajah mirip Taicha Naomi. Kami saling memperkenalkan diri didepan para tokoh desa kandangan. Kutahu namanya, Zakiyah. Perempuan yang meremukkan hatiku saat pandangan pertama. Wajahnya membuka file lamaku, Diana yang entah kemana. Rapat selesai dengan macam-macam program yang berkaiatan dengan orangtua, anak-anak dan meramaikan Mushola Kandangan. Mushola di Desa Kandangan ada lima. Kami diberi hanya 4 mushola.yakni mengisi Imam sholat tarowih, kultum. Kami siap !! sangat siap!!

Zakiyah, sungguh jelita. Pesonanya adalah akumulasi dari sipu malunya jika kugoda. Cahaya matanya jika terkejut. Kata-kata yang manja jika kuajak bicara, dan jilbabnya yang menambah daya pikat. Kenyataannya bahwa ia menyukai novel-no0vel cerdas kesukaanku. Zakiyah, simply irresistible. Apalagi design-nya secara eksplisit bilang”I am a single Marzuki”. Buka lowongan. Zakiyah, Zakiyah, Zaakiiaaaayah!!!!!

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.