MELACURKAN DIRI : WACANA PROSTITUSI

WACANA MARZUKI. Entah tepatnya kapan saya pertama kali mendengar kata pelacur. Saya original orang desa dari sebuah gang buntu di Kabupanten yang tertinggal pula, jadi kemungkinan besar saya mendengar istilah pelacur ketika saya sudah akil balig mungkin, di mana pergaulan kota telah ku jajaki (hwhw). Kata “pelacur  semengerti saya dulu selalu dilekatkan dengan perempuan yang menjual jasa seksual. Dan, saya berkesan buruk terhadap profesi itu. Dan, jika yang dimaksudkan pelacur adalah profesi itu, saya kira sejak kecil saya sudah sering mendengar profesi seperti itu. Di desa saya profesi itu biasanya disebut dengan istilah “begenggek”.  Dan, kutahu di jenis kelamin laki-laki juga ada yang berprofesi itu, dan parahnya mayoritas penggunanya adalah laki-laki pula.

 (5 tips berhenti merokok. Baca)

Ketika saya sudah senang menjelajah dari kota satu ke kota lain, ternyata istilah “begenggek” itu punya sinonim tersendiri ditiap daerah; kawasan kampus mengenal ayam kampus, di perkampungan mengenal ayam kampung, di perkotaan mengenal “perek” perempuan eksperimen dan banyak  lagi sebutannya; pandiang, pekcen,  bunga raya, cabo, gigolo, gongli, hostes, balon, bondon, bunga latar, jobong, kupu-kupu malam, pemijat, pinang muda, lanji, loktong, lonte,  nyamikan, pramunikmat, pramuria, sundal, lucah, moler, pendayang, penghibur, tunasusila. Nah, itu beberapa sinonim dari peacur yang saya tahu hihi banyak. Istilah-istilah itu saya dapat dari lirik-lirik lagu, cerpen dan mendengar sendiri dari teman-teman. Saya memaparkan istilah-istilah itu bukan bertujuan supaya kita mengolok-ngolok orang lain dengan nama-nama itu, sebab mengolok-ngolok orang lain tidak dilegitimasi dipelajaran PPKN yang saya pelajari dulu. Namun, istilah-istilah yang banyak itu biar kita tahu dan instropeksi atau mawas diri bila ada orang yang menyebut kita dengan salah satu dari istilah-istilah diatas.

Secara universal, istilah pelacuran dipahami sebagai profesi, di mana seseorang yang menjual jasa yang bernilai tinggi namun rela ditukar dengan sesuatu yang tak selayaknya. Dalam bahasa ilmiah populer kita mengenal dengan istilah idealisme. Yakni, sebuah pemikiran dan tindakan yang bersedia menerima dan menikmati ukuran moral yang tinggi, estetika dan keagamaan.

(5 Tips Muda Sehat dan Tua Hidup Bahagia. Baca)

Dalam konteks menjual idealisme demi sesuap nasi, atau hal-hal lain yang berlawanan dengan nilai-nilai moral dan estetika yang tinggi, tentu pelacuran model ini sangat banyak ditemui ditengah-tengah masyarakat, ditengah gelombang kapitaliseme ini. Betapa banyak orang-orang yang mempunyai profesi tertentu yang sebenarnya mempunyai talenta yang tinggi namun melacurkan dirinya hanya demi uang misalnya, sehingga karyanya tidak berkualitas dilihat dari sisi estetika.

Nah, dibawah ini saya akan memaparkan 6 contoh profesi yang bisa dikatakan melacurkan profesinya yang mulia demi sesuatu yang tak sebanding dilihat dari sisi moral yang tinggi, yang kini tengah melanda negeri ini:

(5 Artis Cantik di Sinema Abad Kejayaan. Baca)

1.      Pelacuran Intelektual

Apa jadinya jika cendekiawan atau seorang intelektual berjuang hanya demi harta, tahta atau hanya demi mendapatkan wanita saja? Ayo coba, seberapa tajamnya pisau seorang intelektual itu. Padahal intelektual  atau ilmuan merupakan orang yang diberi anugrah ilmu yang tinggi tentu semestinya ia harus mengabdikan dirinya untuk kepentingan kemaslahatan manusia secara lebih banyak. Dan tak semestinya ilmuan mengabdikan dirinya untuk kepentingan seseorang atau kelompok tertentu untuk bersenang-senang diatas penderitaan masyarakat luas.

Bagaimana jadinya jika sekumpulan kaum intelektual melakukan konspirasi memberikan keputusan karena tendensi terhadap kelompok tertentu. Perilaku itu kerap kita temui sebelum negara ini menggelar pemilu, di mana mereka mengadakan survey terhadap calon presiden untuk mendongkrak calon, yang padahal mereka juga sudah tahu hasil surveynya. Namun survey itu dibuat memang untuk mencari dukungan masyarakat luas, yakni dengan mengumumkan bahwa calon presiden ini memiliki pendukung yang banyak maka masyarakat awam bisa tertipu dengan konspirasi para oramg-orang pinter ini. Prof. Mahfud MD, memandang fenomena ini sebagai sesuatu yang membuat manfaat ilmu menjadi mubadzir, di mana seorang intelektual yang sudah berenang mengarungi samudra melawan badai untuk mendapat mutiara ilmu namun hasilnya digunakan untuk menipu demi uang.

(5 Tips Menulis Artikel Dalam Bahasa Inggris. Baca)

Menelisik para pelaku pelacur intelektual sudah banyak dijumpai di tempat penggodokan para intelektual ini. Bagi intelektual yang pernah merasakan dunia kampus pelacuran intelektual mungkin bukan sesuatu yang wah, di mana mahasiswa membeli skripsi kepada seseorang yang menjual intektualnya. Dalam konteks ini memang yang bisa diberi stigma pelacur intelektual adalah si tukang tulis itu, sebab jika seorang intelektual beneran tentu ia akan berfikir seribu kali untuk melakukan perbuatan jual beli skripsi itu.

Akhir-akhir ini media gencar memberitakan para pejabat yang menggunakan ijazah palsu. Memang ini bukan berita baru, namun seenggak-enggaknya praktek-praktek pelacuran intelektual ini juga masih subur, meski ini sebenarnya tidak bisa menyalahkan orang-orang kampus secara merata sebab praktek-praktek ini kerap dilakukan oleh para oknum kampus. Penjualan ijazah palsu ini selain sebuah pelacuran intelektual ini juga menyakiti para intelektual yang telah mendapatkan ilmu dengan bersusah payah. Al-hasil, pelacuran intelektual merupakan bibit-bibit melemahnya dunia pendidikan dalam membentuk moral anak didik, sebab pendidikan sebenarnya bukan hanya berfokus tumbuh kembang otak namun juga kecerdasan mental. 

(5 Tips Karir Sukses di Masa Depan. Baca)

2.      Pelacuran Jurnalis

Jurnalis, yakni orang yang mencari jurnal, berita atau lebih familier dikenal dengan sebutan wartawan merupakan sebuah pekerjaan yang  sangat mulia. Bahkan disuatu sore yang cerah  di bawah pohon yang rindang  dalam sebuah diskusi rutinan tentang meneguhkan kembali moralitas santri, dengan narasumber Kyai Nyentrik, ditengah-tengah penyampaian temanya, Kyai itu menyegarkan suasana dengan mengatakan,”tugas seorang Kyai dan wartawan itu hampir sama, yaitu sama-sama menyebarkan berita. Bedanya, kalau  kyai itu menyebarkan berita dari langit untuk masyarakat bumi, sedangkan wartawan juga menyebarkan informasi dari bumi juga untuk masyarakat bumi”, sembari Kyai itu tersenyum terkekeh-kekeh dan menghisap cerutunya yang hampir habis, yang tentu makin menambah aura kewibawaannya.

Wartawan memang mulia namun godaan wartawan juga sama besarnya dengan godaan seorang Kyai. Wartawan kerap diamplopi oleh pihak atau orang-orang tertentu untuk keberpihakan sebuah berita, sebab ditangan dingin wartawanlah kata dunia. Wartawan yang tetap mempertahankan idealismelah yang pantas kita sebut dengan wartawan, atau kalau tidak kita sebut dengan jurnalis sampah.

( 5 Tips diterima diGoogle AdSense Baca )

Jurnalisme sampah kerap kita jumpai di media-media televisi dan cetak kita  sebelum pemilihan umum kemarin. Media televisi satu dan lainnya tampak perang propaganda untuk memenangkan calon presiden yang didukungnya. Peran jurnalisme seharusnya netral dan mengungkap fakta bukan opini dibumbui fakta yang dibengkokkan.

Namun saya yakin, di Indonesia ini masih banyak jurnalis yang idealis, yang tugasnya dan balasannya bisa sama dengan peran Kyai itu. Menurutku, Kyai dan Jurnalis akan sama-sama berpotensi masuk surga dengan profesinya itu, sebab keduanya sama-sama bisa menyampaikan kebenaran. Terlepas dari surga yang mana, saya belum tahu secara pasti, hehe.

Kini, tantangan jurnalis dunia semakin berat sebab kini kebenaran sebuah berita bukan ditentukan oleh jurnalis yang idealis namun kerap ditentukan oleh orang-orang yang mempunyai modal. Dunia kini tengah berada pada ekonomi kapitalis yang digawangi AS. Jurnalisme adalah bisnis bagi kuam bermodal, bukan sekumpulan wartawan-wartawan yang memegang idealis lantas membentuk  media. Berita yang dipublikasikan bisa saja merupakan titipan dari sang majikan. Makanya, hingga hari ini saya sendiri belum yakin bahwa ISIS adalah benar-benar kelompok Islam yang menginginkan berdirinya khilafah Islam yang bermimpi Islam bisa dibawah satu kepemimpinan, sebab banyak sumber berita lain yang berpendapat bahwa ISIS tak lain dan tak bukan merupakan proyek intelijen dunia yang berupaya membuat propaganda bahwa Islam itu agama pedang bukan agama kedamaian. Mereka berupaya membentuk ISLAMOPOBIA.

(5 Tips Hidup Lebih Positif. Baca)

Banyak hal yang harus dipertanyakan tentang “IDEALISME MEDIA DUNIA”, seperti misalnya mengapa media dunia jarang mengutuk-ngutuk Israel atas pembantaian warga palestina? Lantas, mengapa media dunia murka dengan ISIS dan dibesar-besarkan, yang lantas menutup-nutupi kebiadaban Israel?

Dunia berbicara melalui media bahwa Islam itu agama yang harus dijauhi dan dikubur hidup-hidup. Media dunia terwakili oleh orang-orang kapitalis, yang konon kini mereka mengalihkan musuhnya pada Islam setelah mereka melihat komunisme telah runtuh. Mereka melihat Islam adalah kekuatan yang membahayakan bagi eksistensinya.

Entah, saya terlalu bersemangat menulis tentang ketidak condongan saya dengan pengusung kapitalis. Yang jelas, saya mencintai Islam dan Jurnalistik. Terlepas dari makna sebuah lirik lagu, cinta itu buta.

3.      Pelacuran Jabatan

Jabatan adalah amanah. Pemegang jabatan tak lain adalah orang telah diberi kepercayaan untuk sebuah tugas tertentu, jika jabatannya adalah lurah ia dipercaya untuk memimpin desanya. Camat dipercaya memimpin masyarakat luas yang terdiri dari beberapa desa dan bertanggungjawab atas permasalahannya. Pejabat adalah pemimpin meski tidak semua pemimpin adalah pejabat. Pejabat mempunyai tanggungjawab lebih besar daripada sekedar pemimpin non pejabat, sebab pejabat dilantik dengan mengucapkan sumpah untuk menjalankan undang-undang suatu negara. Pejabat adalah abdi negara yang bekerja dengan gaji negara dan sumber kekayaan negara salah satuya dari pajak.

Pejabat mempunyai tugas yang mulia, yakni melaksanakan undang-undang. Seorang pejabat yang benar-benar amanah dan melaksanakan ketentuan undang-undang itulah yang disebut pejabat idealis. Mendengar curhat-curhat para pejabat idealis memang berat godaannya. Yenny Wahid, di sebuah acara talk show pernah bercerita bahwa dulu ketika menjadi pejabat sempat dibawakan uang satu koper oleh seseorang yang mempunyai kepentingan tertentu, namun putri mantan Presiden Republik Indonesia itu menolaknya. Saya yakin Mbak Yenny menolak karena pertimbangan tertentu. Dan siapa orang yang tidak tertarik dengan uang satu koper. Bagi saya, mbak Yenny Wahid adalah salah satu contoh orang yang berjuang dengan idealisme. 

(5 Tips Memilih Durian Yang Enak. Baca)

Berbicara tentang  pelacuran jabatan di Indonesia ini tak pernah usai untuk mengurai nama-nama orangnya. Pelacuran jabatan di Indonesia telah mengakar dan akarnya bercabang. Bahkan lembaga independen bentukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang bertugas memberantas pelacuran jabatan di Indonesia itu,  kini hanya bisa berdiri tangan kosong dan mudah dipukul mundur oleh tikus-tikus kantor itu. Indonesia adalah negara berstatus darurat prostitusi jabatan. Yang membuat saya menepuk dada adalah Akil Mukhtar, hakim konstitusi yang selayaknya menjaga konstitusi negara Indonesia, dan hakim konstitusi merupakan atasan hakim-hakim, celakanya malah mencoreng lembaga tinggi negara itu dengan melacurkan idealisme kehakiman demi sesuap nasi yang padahal kebutuhan nasinya sudah dicukupi oleh negara.

Korupsi, gratifikasi, kolusi, nepotisme adalah beberapa bentuk pelacuran jabatan di negeri tercinta ini. Bagaimana negeri bisa tercipta baldatun toyyibatun wa robbun gofur, sebuah negeri yang didamba Tuhan, jika pejabatnya saja masih suka  melacurkan diri. Al-hasil, apakah hanya dengan memperbaiki sistem pengelolaan rumah yang baik untuk bisa menjauhkan rumah dari tikus-tikus itu? Biar Refly Harun yang menjawabnya, hehe.

4.      Pelacuran Penulis (Sejarah)

Kita kerap menemukan berbagai versi dalam penulisan sejarah sebuah rezim tertentu. Makanya, banyak kita temukan berbagai pendapat tentang siapa yang yang paling validasi terhadap sebuah kekuasaan. Melihat fenemona berwarna ini sebenarnya hal yang wajar. Sebab setiap rezim mempunyai juru tulis sendiri yang mendukung kedaulatannya. Pro dan kontra antar penulis sejarah tetap bisa ditengok sepak terjang si penulis sejarah itu tentang posisinya dalam sejarah itu. Dalam konteks ini saya membagai penulis sejarah dalam dua kategori, yakni sebagai internal kekuasaan dan eksternal kekusaan. Internal kekuasaan bisa kita telusuri perjalanan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh dalam menghasilkan karya Kitab Kakawin Bharatayudha, yang menceritakan kemenangan Kediri atas Jenggala. Disisi lain kita menemukan karya lain tahun 1178 M, yang ditulis oleh Chu-ku-Fei tentang sejarah serupa. Di era Majapahit kita mendengar Mpu Prapanca pada tahun 1365  yang menjelaskan tentang keadaan kota Majapahit, daerah jajahannya dan perjalanan Hayam Wuruk  mengelilingi daerah kekuasaannya. Ada perang Bubat yang bisa baca di Kitab Sundayana, yakni usaha Gajah Mada dalam menaklukan Kerajaan Sunda. Saya menekankan, bahwa saya tidak menuduh para penulis-penulis sejarah itu adalah pelacur idealisme, namun dalam konteks nama Mpu Sedah dan lain-lain itu merupakan manusia-manusia saksi sejarah, saya menyebut internal sejarah. Dan, tidak bisa hantam garam kesemua penulis internal sejarah merupakan pelacur idealisme.

( 5 Tips Menjadi Orang Kaya. Baca)

Eksternal, yakni penulis-penulis sejarah yang menganalisis sendiri berdasar peninggalan-peninggalan sejarah yang biasanya penulis ini hidup jauh setelah rezim itu berakhir. Dan dengan daya kritis dan melihat sisi lain penulis ini mempunyai kesimpulan sejarah yang berbeda dengan penulis-penulis sejarah di era rezim itu. Dalam hal ini kita mengenal Earl Drake, dalam bukunya Gayatri Rajapatni, penulis memunculkan fakta lain yang tidak diungkap sejarah sebelumnya, yakni tentang kehancuran Singoshari lebih disebabkan ritual tantra. Ritual ini muncul ketika Kertanegara mendengar Kubilai Khan marah besar terhadap Singoshari dan bertekad membalas dendam. Lantas, Kertanegara menghimpun kekuatan dengan bersekutu pada kerajaan-kerajaan tetangga, dan Kertanegara juga melaksanakan sebuah ritual yang biasanya dilakukan kerajaan Mongol, ritual tantra. Namun ketika digelar ritual tantra Singosari malah luluh lantak diserang Kediri.

Esensinya, setiap rezim mempunyai penulis sejarah tersendiri untuk melegitimasi kekuasaannya. Dalam konteks ini kita bisa belajar mana penulis yang didikte oleh kekuasaan dan penulis yang independen. Bukankah selayaknya penulis harus menulis apa yang dianalisanya, bukan tunduk lantas menulis apa kata sang penguasa.

5.     Pelacuran Musisi

Musisi adalah -orangorang yang berkecimpung dalam dunia musik. Entah mereka memainkan piano, gitar, drum, bass, atau vokal, bahkan penulis lagu juga masuk dalam kategori ini meski kerap disebut komponis. Namun penulis lagu biasanya tanpa ada sebutan komponis jika ia menyanyikan lagu sendiri meski komponis. Musisi adalah sebuah kata jamak “plural” dari musikus. Orang-orang yang suka menggubah sebuah lagu, melatih alat musik adalah orang-orang yang masuk dalam kelompok ini, maksudnya jika suatu saat mereka ditanya oleh calon mertua ketika akan melamar pacarnya,”Profesinya apa mas?”, maka mereka benar jika menjawab,”eee….musisi, Pak”.

Musisi adalah seniman yang berkarya dengan musik. Seni pada dasarnya adalah membawa pesan-pesan tertentu pada karyanya. Seni tanpa makna adalah hampa. Buat apa berkarya jika seni tidak bisa membawa pengaruh keindahan yang signifikan terhadap penikmatnya? Ketika seni tidak mampu memberikan cuatan warna keindahan maka ia buka seni namun air seni, kotoran yang layak dibuang saja. Dalam konteks ini musisi sebagai seniman, ketika karyanya tidak bisa membuahkan keindahan maka layakkah disebut musik? Jawabannya menurut saya, layak disebut pelacuran musisi.

Betapa banyak musisi yang mempunyai talenta yang tinggi namun justru berkarya tanpa idealisme. Berkarya hanya untuk mengikuti industri. Industri adalah pasar. Ketika berkarya hanya karena pasar maka karyanya adalah hasil dikte dari pemegang industri. Bagaimana jadinya jika sebuah karya seni hanya tunduk dan patuh terhadap pasar?

Karya yang hanya mengikuti pasaran bisa kita tengok bareng-bareng. Salah satu media yang bisa kita gunakan sebagai wahana tengok setiap hari adalah menggunakan televisi. Salah satunya film, dimana sulit sekarang masyarakat memilih film-film mendidik, yang ada malahan mempertontonkan adegan-adegan panas yang membuat hormone testosteron naik.

Padahal film, menurut salah satu penulis film yang terkenal saat ini, yang sekarang sedang menggarap Preman Pensiun 2, mas Aris Nugroho”Televisi itu karya sastra saat ini”. Lha, kalau tontonan televisi sudah tidak bisa membangkitkan spirit kemajuan dan keindahan bagi konsumennya?

Coba telongok, apa ada kriteria menjadi hots di talk show televisi itu harus orang yang mempunyai konsep berbicara yang bagus? Tidak kan. Malahan mayoritas host tv itu banci, kan? Cuman obrolan di warung kopi di bawa ke tempat syuting.

Al-hasil, masyarakat selaku penikmat seni akan dibentuk oleh industri. Industri adalah milik orang-orang yang subur perutnya.

6.     Pelacuran jasa Sexs

Seksual bukan segalanya namun pernikahan tanpa seksual adalah hampa. Seksual dalam pernikahan adalah ibadah yang berlipat-lipat pahalanya, kata guru saya. Seksual adalah aktivitas untuk menyalurkan kebutuhan biologis. Dalam sebuah pernikahan seksual adalah sebuah aktivitas puncak cinta dan kerja sama mewujudkan keturunan, regenerasi. Dalam sudut padang Islam, aktivitas seksual dalam bingkai pernikahan adalah mulia sekali. Namun, ketika aktivitas seksual dilakukan diluar pernikahan, Islam justru mengutuknya berlipat-lipat. Bahkan, aktivitas seksual yang dilakukan oleh pria dan wanita yang masing-masing sudah menikah mereka bisa didera tanpa belas kasihan (Al-Qur’an Suroh Annur [24] ayat 2).

Esensinya, seksual adalah aktivitas mulia. Faktanya, di mayoritas negara-negara di dunia ini jasa seksual, atau menjual diri untuk memuaskan biologis demi uang dan bisnis-bisnis prostitusi ini dipandang ilegal, negara memandang itu adalah bisnis yang tidak diatur dalam undang-undang.

Penjaja seks ini, biasanya dilakukan oleh perempuan mereka beralibi untuk mencukupi makan keluarganya. Dalam sebuah tulisan di Majalah Tempo Edisi Senin, 15 Desember 2008, saya lupa nama penulisnya, bahwa si penulis justru memuji pelacur sebagai: Ibu Indonesia Tahun 2008. Yakni Nur, 35 tahun yang ditinggalkan suaminya dan harus menghidupi 5 anaknya. Nur harus bekerja memecah-mecah batu. Kerjaan itu tidak mencukupi untuk keluarganya sebab ia hanya memperoleh upah 400 ribu rupiah per bulan. Maka, menjelang petang ia berdandan dan menjajakan seks di sebuah kuburan Cina. Sehari ia mendapatkan 30 ribu rupiah, dengan uang itu ia berusaha menyekolahkan anaknya.

Dalam kasus diatas, memang kita tidak bisa menyalahkan dan mengutuk para pelacur, namun kasus seperti Nur itu hanya sebagian. Betapa banyak perempuan-perempuan yang menjajakan seks memang mendamba ekonomi yang mapan tanpa keringat. Akhir-akhir ini media indonesia menguak sebuah aktivitas prostitusi artis, dalam kasus ini saya berpikiran lain dengan kasusnya Nur diatas. Artis kan sudah bermewah-mewah hidupnya, mengapa harus menjalani bisnis ini?

Terlepas dari apapun alasannya, saya berpandangan bahwa pelacuran bukan sebuah perbuatan yang dibenarkan. Semoga Tuhan memberi otak bisa digunakan lebih maksimal.

Tags; MELACURKAN DIRI, PELACURAN MERAJALELA, PROSTITUSI ONLINE, MELACURKAN ILMU DEMI UANG, UANG ADALAH SEGALANYA, JURNALISMESAMPAH, PEMBENGKOKAN SEJARAH, MANIPULASI SEJARAH, PELACURAN MUSISI, BISNISESEK-ESEK.

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.