" Maka apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur'an ataukah hati mereka terkunci?". (QS. Muhammad [47] ayat [24})
SPIRIT ANDA
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati pula oleh semua (mahluk) yang dapat melaknatinya.
(QS. Al Baqoroh [2] ayat [159])”



(Al Qur’an mengarahkan perhatian manusia pada fungsi geologis sangat penting dari gunung. "Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka…" (QS. Al Anbiyaa’, 21:)

Sabtu, 18 Juli 2009

Surau-surau didesaku



By: Marzuki Bersemangat

Tekuni satu ilmu sampai pada akarnya. Perdalami seluk beluk. Bahkan koridor yang terkecilpun. Dan sungguh Allah suka terhadap orang yang tidak putus asa.

Jangan pindah pada bab lain sebelum memahami satu ilmu. Niscaya akan lebih matang terhadap ilmu. Bukankah zaman sekarang profesionalisme lebih di tuntut. Fokus adalah hal yang dibutuhkan. Serius berarti mempelajari dengan responsibel.

Otak manusia yang terbatas membutuhkan; ketekunan, disiplin, istiqomah. Sekolah yang menekankan siswa terhadap ilmu tertentu lebih menjadikan siswa mudah mengusai ilmu, daripada siswa yang diceko’i beberapa fan ilmu.

Ketika sejak kelas satu SD sampai kelas lima. sulit aku belajar Al-qur’an, yang padahal sudah aku bisa menguasai iqro’. Pindah dari ustadz satu ke ustadz yang lain. Kusadari kurangntya konsentrasi; belajar pada guru, pengulangan pelajaran setelah sampai dirumah.

Akhir kelas V SD, kuputuskan temanku, Saji. Ia kujadikan Guru. Kupanggil Ustadz Saji. Beliau adalah alumnus UNMER Madiun, yang akhirnya menjadi Dosen disana. Sekolahnya dari kecil sekuler, namun ia adalah pribadi yang religi. Maka aku bangga karena Guru privatku membaca Al—qur’an adalah Dosen.

Setiap sore di Mushola Al-ikhlas, saya berusaha untuk aktif sholat jama’ah eko, temanku yang selalu bersama dimanapun dan terutama ngaji privat dengan ustadz Saji. Ngaji itu kami lakukan setiap ba’da Maghrib. Satu persatu kami membacakan maqro’ kepada Sang Ustadz, seperti sorogan dipesantren. Sampai menunggu isya’. Perhatian Guru, kenyamanan belajar, pengulangan pelajaran, istiqomah, kesabaran guru, dan tentunya dukungan serta anugrah Allah kami dapat menguasai iqro’ sehingga dengan mudah aku dan eko untuk naik sorogan Al-qur’an.

Selesai SD aku mondok di Tambakberas Jombang. kusudah enak dipesantren, karena Al-qur’an hanya tinggal melancarkan. Masuk MQ, Madrasah Al-qur’an, sistem pembelajarannya lebih menekankan pada Makhorijul huruf, bukan sorogan. MQ yang hanya dua tahun itu mempelajari 5 macam; tajwid, qiro’atul Qur’an, ghoroibul qur’an, hafalan surat-surat pendek, ”Attibyan” sopan santun membaca Al-qur’an.

Model sorogan seperti yang kulakukan saat privat pada Ustadz Saji, merupakan model belajar yang bagus. Siswa aktif dan guru hanya mendengarkan presentasi siswa dan menjawab pertanyaan siswa. Pembelajaran salaf namun dilisensi orang barat: inilah pembelajaran modern. Pesantren kuno atau salafi yang banyak ditemui di Kediri, ambil kewagean, Kyai tidak akan pindah kitab lain sebelum satu kitab itu khatam dan itu dibaca setiap habis sholat Maktubah.

Aktivitas ngaji privat itu, sudah 12 tahun lalu. Bagiku masih lekat dan terus teringat; Ustadzku, Eko temanku. Ustadz yang menancapkan erat pondasi untuk bisa membaca Al-qur’an, yang tetap kan terus dipakai sampai nanti. Kesabarannya mengajarkan “BA YA RO, TO RO KO, BU YA RO. Bukankah ini amal jariyah yang sesungguhnya? Eko, teman yang selalu bersama saat ngaji. Bukankah inilah ma’na sahabat yang sesungguhnya.

Guru kami yang di Aliyah, bisa lebih pandai dari guru ngajiku dulu di desa. Namun tanpa adanya guruku yang di desa dulu, mana mungkin aku dapat memahami pelajaran di Aliyah. Sungguh besar pahala bagi ustadz-ustadz (jama’: Asatidz) yang mengajarkan iqro’, Al-qur’an pada anak kecil-kecil. Keberadaan mereka termajinalkan dari mata orang-orang pengejar dunia. Keberadaan mereka mulia bagi Allah dan orang yang bertaqwa. Walaupun sekarang keberadaan mereka diperhatikan oleh pemerintah, itu tidaklah sepadan dengan pengabdian mereka.

Mushola Al-ikhlas di Kaligarung itu sekarang sudah berdiri megah. Berusaha menghilangkan sejarahku dulu. Ku ingat Mushola Al-ikhlas sangat sederhana sekali. Lantainya pun masih berupa ris, semen yang diaduk dengan pasir ditambah air, kemudian dihamparkan ke tanah, jadilah ris. Dinding kayu yang aku dapat mengintip dari luar, karena banyaknya celah, lubang. Pintu yang kalau ditutup sulit karena lantai dibawah pintu itu tinggi rendahnya tidak sama. Kalau dipaksa menutup bisa menimbulkan nada dering yang indah: “Graddhhakk!! Kreieeeek..Blaaak!!. lampu itupun kadang seperti lampu di diskotik, mati-nyala-mati-nyala-mati-mati-mati-mati, ganti saja dengan lampu pra kemerdekaan Republik Indonesia, Lampu Teplok. Tempat whudhu yang asyik, berupa genthong yang salah satu pojoknya dilubangi kecil sebesar bolpoin it name is Padasan . Atau kami biasanya memakai sumur yang manual biasa disebut oklek, yakni meng’oklek. Gantian satu dengan lainnya, ini yang menjadikan kehidupan kami gotong royong. Kamar mandinya pun sangat sederhana; berdinding ukiran tembus yang terbuat dari bambu atau ma’lum disebut gedhek, saluran air dari bak ke sumur hanya bambu, baknya terbuat dari seng yang sudah berlumut.

Sekarang keadaan Mushola itu, megah. Layaknya Mushola yang lain. Berkompetisi membangun “house” bukan “home” nya. Dalam bahasa inggris, rumah dibedakan menjadi 2, yaitu; house dan home. House lebih pada bangunannya, sedangkan home adalah rumah tangga, maka ada istilah ‘broken home’ artinya pecahnya rumah tangga. Kebudayaan pemuda lebih senang tidur di pos-pos pinggir jalan. Karena sudah tidak kuat lagi untuk pulang kerumah dalam keadaan mabuk.

Apakah Mushola sekarang yang megah lebih sakral daripada Mushola dulu yang reyot? Sehingga mereka enggan untuk mampir, dan lebih memilih warung kopi yang mereka harus mengeluarkan kocek. Al-qur’an yang tertata rapi seakan hanya sebagai ornamen Mushola, yang menyentuhnya dan bahkan mengamalkannya. Sedangkan Allah menurunkan Al-qur’an adalah sebagi petunnjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Al-qur’an bahkan tidak hanya untuk dibaca. RA Kartini dulu pernah mengkritik guru ngajinya, karena hanya diajari membaca Al-qur’an tanpa diajarkan artinya. Bagaimana orang islam bisa mengamalkan isinya kalau tidak tahu arti.

Aku dan Eko, sering menjelajah dari Ustadz Mushola satu ke Ustadz Mushola yang lain. Menjelajah dari dusun satu ke Dusun sebelah. Itupun kami lakukan setelah menguasai dasar-dasar membaca Al-qur’an. Kami hanya ingin merasakan belajar pada Ustadz yang lain. Merasakan luasnya pengetahuan, penjelajahan relegius. Aku teringat Gus Wahab berpesan “Dalam Guru syariat carilah Guru sebanyak-banyaknya dan carilah Guru hakikat satu saja”. Syariat hanyalah keilmuan yang bersifat pengetahuan, namun guru Hakikat adalah Guru yang bertanggungjawab pada kita, di dukia dan akhirot.

Penjelajahan relegiusku dan Eko, kami lakukan dengan senang hati. Sepeda ongkel federallah yang selalu kemanapun aku tumpangi setiap ngaji, begitu juga eko. Sholat Maghrib kami tetap berada di Mushola Al-Ikhlas, baru setelah itu kami bereksplorasi; menjelajah surau yang belum kami kenal. Mengeruk informasi dimana ada TPA ba’da Maghrib disitu akan kami singgahi. Berbekal semangat dan Al-qur’an yang kami pinjam dari Mushola Al-Ikhlas. Bahwa penjelajahan kami itu membuncah setelah kami menguasai dasar-dasar membaca Al-qur’an yang kami dapatkan dari Ustadz Saji. Beliaulah yang menanamkan pada kami dasar-dasar Al-qur’an melalui iqro’. Maka setelah iqro’ kami mencari guru lain. Aku dan eko tidak belajar pada Ustadz saji sorogan Al-qur’an kecuali hanya sebentar.

Hampir setiap RT didesaku ada suraunya. Sepuluh surau, itu hitunganku tahun 1997. sekarang bertambah terus, menjamur sejalan membludaknya manusia dan SDM yang meningkat. Bukti kongkret perkembangan Islam di desaku meningkat secara kuantitas dalam teori MLM, Multi Level Marketing, bahwa untuk mencapai kualitas, pertama kuantitas. Sehingga terdengar sahut-sahutan adhan surau satu dengan lainnya ketika waktu sholat maktubah tiba.

Dalam penjelajahan akhirnya kami menemukan seorang Guru yang sangat perlu kami teladani, Ustadz Santoso. Beliau alumnus salah satu Pondok Pesantren Salaf di Kediri. Dan ternyata beliau Maha Guru kami, karena Ustadz Saji adalah muridnya. Beliau sudah lama menjadi guru ngaji. Muridnya sudah banyak di desaku baik laki-laki, perempuan. Karakter beliau yang sabar, tegas, suaranya yang menggelegar, dan kumisnya ngelawir menambah kewibawaannya tampak. Beliau mengajar di surau kecil, dipenuhi suara-suara santri beliau. Surau yang hanya berdiameter ±7x5m2. Tempatnyapun sedikit tersembunyi, yang padahal berada di pinggir jalan itu karena hampir tertutup sumur didepan surau kecilnya itu. namun siapa menyangka surau itu menelurkan santri-santri didesa kami.
Penjelajahan kami tidak terasa sangat membuahkan hasil. Aku dan eko sudah lumayan lancar untuk membaca Al-qur’an pada kelas enam SD pada catur wulan ketiga dua. Yang waktu itu hanya 3 orang yang terkenal untuk membaca Al-qur’an; Ali, Ana, Bambang. Maka ketika Guru Agamaku menyuruh membaca suroh Al-baqoroh awal akupun membacanya dengan lancar. Pun karena ayat 1-6 Suroh Al-Baqoroh aku sudah hafal. Aku dan ekopun sudah berani untuk tampil ketika acara khotmil Al-qur’an di desaku.

Penjelajahan untuk tetap berkelana terhadap ilmu Allah terus membuncah. Maka ketika lulus SD dengan DANEM 42 yang seyogyanya itu DANEM bergengsi waktu itu untuk masuk SMP 1 Ngawi, aku tetap ngotot pada orangtua ku untuk berkelana ke Jombang. sebuah kota yang penuh dengan harimau berkeliaran. Aku ingin berupa-rupa hawa harimau. Aku mau sekali-kali bisa menjadi pelayan harimau. Aku berkeinginan merasakan ganasnya hutan yang penuh dengan harimau.


BUMI DAMAI GROWLRIVER
CAMPURASRI NGAWI

Rasa Sejati

By : Marzuki Bersemangat
Ketika sebuah inspirasi terbit tak terkebiri

Tinta-tinta ingin menyembur, meluap tak terkendali

Kertas-kertas putih menjadi korban suci

Bila tak tersalurkan semua menjadi rasa benci

Membara dalam hati membakar perasaan diri

Suara memicu mencuat jati diri gundah sepi

Ketika waktu memaksa memisahkan kami

Antara pencerahan inspirasi dengan kontemplasi

Hidup menjadi tidak tenang serasa duri

Inginku sekali berarti sesudah itu mati

Inspirasi merupakan emas yang murni

Karya besar berjalan dari inspirasi mini

Maka janganlah bermimpi hai ….pemimpi

Jika kamu ingin sukses tanpa berdiri

Bangunlah pemalas kamu pencipta esensi

Bila kamu berdiri angkat senjata dan lari

Kehidupan tak terselesaikan dengan ideologi

Sebuah ideologi akan berarti dengan bukti

Dan kehidupan lebih berarti dengan mengabdi

Menjadi makhluk yang sholeh pada Illahi Robbi

BUKAN BASA-BASI

Sebuah cuplikan Marzuki yang lupa dari mana asalnya


Suatu ketika Josh Washington

Pada saat-saat genting

Semua masalah berkecamuk

Semua anak buahnya bingung

Mondar-mandir, diam, membisu

Tapi mereka faham

Bahwa masalah tak akan selesai

Dengan hanya diam

Dengan hanya mondar-mandir

Masalah harus didiskusikan

Karena ini negara

Karena masalah masyarakat

Bukan masalah pribadi

Bukan negara individualisme

Ini negara demokrasi

Negara yang menghargai pendapat

Tapi mengapa semua diam

Tapi tunggu, disaat semua tutup mulut

Walau hanya tiga kata

‘’Bagaimana ini, Pak’’

‘’Jangan minta pada Tuhan

Untuk diringankan masalah kita

Tapi mintalah pada Tuhan

Untuk diberi kekuatan

Menghadapi masalah’’.

Kata Josh Washington

Oportunis Yang Idealist


By : marzuki bersemangat
Aku bangga sebagai warga negara indonesia, apalagi dengan datang kepadaku, surat pemberitahuan waktu dan tempat pemungutan suara Pilpres 2009. “aku pertama sek dewe “. Teriakku didepan rumah. Ku tak menyebutkan pertama dalam hal apa, karena aku malu. Malu aku karena sudah besar. Sudah besar aku malu. Malu aku karena sudah besar.
8 juli 2009, ku akan centang diriku sendiri, itu kalau nanti dikertas suara ada fotoku tertulis nama: “MARZUKI DAN IN..”, calon pasangan presiden dan wakil presiden rumah tangga periode tahun 2009 s.d 4 ever. Daripada harus bingung menyaksikan percaturan politik yang saling menyekak. Sudahku tidak menemukan dalam kamus bahwa poilitik itu bersih. Aku hanya menemukan kesimpulan dalam otakku yang penuh emosi ini, bahwa ‘poli’ berarti banyak, ditambah ‘tik’ enaknya ditafsiri trik. Politik benar yang lirikkan iwan fals “dunia politik dunia yang penuh intrik. Kawan, kata trik tersembunyi; 60 trik tersembunyi visual basic. Sebuah buku mengulas pemograman computer melalui jalan tak sewajarnya. Jalan pintas dianggap pantas it’s politic.
Salah satu vigur yang ku gadhang-gadhang continue dalam kepimimpinannyapun perlahan namun belum pasti aku menjadi lebih pasti bukti politik it’s kotor. System trik tersembunyinya dalam menyingkirkan lawan politiknya. Politik kotor namanya, itulah oportunis, dan itu aku. Kang muhtar waktu di pondok kyai mojo pernah mengatakan padaku:
“kamu oportunis yang idealist!”
Tepat. Gus david, putra kh. Jalil tulungagung pernah bilang padaku” kowe ora nakal tapi ndablek”. Ndablek atau oportunis adalah sama. Dipandang dari titik kesamaan. Santri yang waktunya harus masuk kelas malah lebih mengutamakan membaca buku diperpustakaan. Atau ndablek yajuzu nyusamma dholimun: makhallus syai’ fighoiri makhallih.
Perbedaan nakal dan ndablek. John, anak penurut. Ia sekolah di sltp bintang karya. Rajin, sekolah aktif, pr selalu mengumpulkan atau diselesaikan. Hobinya minta uang temannya, mudah memukul temannya, kalau frustasi minum pil lexotan. It ‘s example anak nakal.
Simon, ia sebenarnya anak pandai namun. Namun nasehat baik untuknya hanya bagai angin saja.
“mon, belajar”. Gertak ibunya.
“bentar”
Ia menonton tv, tidak memperdulikan tugas primer. Lebih mengutamakan sesuatu yang sekunder yang ia anggap penting daripada harus mengerjakan sekolah.
Simon ku sebut manusia oportunis yang idealist. Idealistnya adalah perhatiannya terhadap sejarah bangsa. Tv yang ditontton simon itu adalah film documenter tentang perjuangan para pahlawan. Mereka sungguh berjuang dengan tinggi. “ merdeka!!!, pahlawan yang berjuang melepaskan negara indonesia dari cengkraman para penjajah. Sedang simon dalam pahitnya ia mendengarkan omelan ibunya hanya berkata lirih pada dunia “bangsa yang baik adalah bangsa yang menghargai sejarah dan itu aku”.

Kamis, 16 Juli 2009

Renungkan sang intelektual


By; Marzuki

Paradigma seakan hanya menjadi wacana

Padahal wacana diangkat dari realita

Lalu apa artinya paradigma

Bila tak mampu memecahkan

Problem-problem kehidupan

Lalu apa artinya wacana

Bila tak mampu mematahkan

Sendi-sendi kehidupan

Tuhan, Apakah dengan sujudku

Aku mampu memahami kehidupanku

Untuk Seniorku

Kegagahanmu memandang dunia

Merahnya matamu mencermati kehidupan

Bijaksananya karakter dalam menyikapi

Semua sistemmu

Langkahmu membawa ispirasi tersendiri

Dalam perjalanan hidupku, pun

Sampai bingung, siapa aku

Kau atau aku

Dimana aku

Sehingga kehilangan jatidiri

Mungkinkah kehilangan jati diri

Mungkinkah ini suatu transisi

Menyikapi………….

Kau menyinarkanku

Gerakan yang kecil tak ada

Selain mengubah cuatan-cuatan

Darah merah tenang kemudian naik

Burung Pipitku

By: Marzuki
Burung terbang mengepakkan sayapnya

Berjalan mencari cinta yang hilang

Setiap kepakan, ia mencari hikmah

Hikmah yang tersembunyi

Tapi ia terperosok dalam kesembunyiannya itu

Kesembunyian yang penuh dengan glamour……………. Westernisasi

Kesembunyian yang hitam, gelap dan memedihkan

Ia tak kuat dengan semua itu

Ia semakin lunglai, kala batu menamparnya

Emosi, pelampiasan, kegoncangan menghapirinya

Jatuh dan mencoba bangkit kembalikebangkitan mengeluarkan dari lorong itu

Mencoba mengepakkan sayapnya kembali

Diatas pasir yang putih nan lembut

Menuju sinar yang terang

Senin, 06 Juli 2009

Kang Badri Takut Ilmu Tidak Bermanfaat

Entah angin apa yang membawa Kang Badri, ia masuk kesekolah Majlisul Ilmi, didekat diskotik antaberantah yang penuh dengan desah nafas para frustaser dan foya-foyer. Walaupun sebenarnya Kang Badri ragu,”Apakah saya pantas masuk surga ke Majlis ini?”. Tanya Kang Badri pada dirinya. ia telah ,menghabiskan beberapa botol minuman didiskotik tadi, belum beberapa orang yang tadi di hajarnya. Kang Badri memang sebagai security didiskotik itu, yang menghajar para konsuen yang tidak bertanggungjawab; membuat kerusuhan , tidak mau membayar.
Pekerjaan itu yang menjadi penghasilan Kang Badri. Lumayan gaji yang diperolehnya dari pekerjaan itu. gaji itu ia gunakan untuk membantu faqir miskin. Urusan perut ataupun seperangkatnya, Kang Badri ikut teman-temannya masak seadanya dibelakang Supermaket terbesar dikota TARUH HARAPAN. Di tempat itulah Kang Badri tidur, membaca buku, diskusi dan aktivitas lainnya.
Para jama’ah di maljis ilmu itu memandangi Kang Badri dengan pandangan sinis, ma’lum Kang Badri hanya memakai kaos oblong yang sudah hampir 3 mingu belum dicuci dan celana yang dipokainya pun lusuh bak pembersih lantai. Sedangkan para jama’ah seaka seragan; bersarung, baju lengan panjang, bersongkok dan wango. Kang Badri tidak peduli dengan pandangan sinis itu, ia duduk diemperan sambil menyulut sebtang rokok untuk menenagkan hatinya. Ia pandangi para jamaah yang sudah tidak lagi memperdulkannya, mereka duduk tenang mendengarkan kyai Bersorban itu, dan terus pandangannya mencermati petuah suci. Bangunan kuno tapi megah ± 200 500 m2, milik salah satu anggota Hisbullah pada masa lalu.
Kang Badri tiba-tiba tidak berdaya mendengarkan petuah suci Kyai Bersorban itu, dawuhnya seakan membakar dirinya, rokok yang dipegangnya jatuh ketanah tanpa disadari yang ketika Kyai Bersorban itu dawuh:
“banyak orang alim di desa, eksistensinya dianggap oleh masyarakat sama dalil, wujuduhu ka’adamihi. Kenapa??, karena banyak orang laim yang tidak mengamalkan ilmunya dan salahsatunya niat dulu ketika mencari ilmu”.
Semakin dalam Kang Badri merenungi dirinya, bahkan hampir ia jatuh dari tempat duduknya. Dawuh itu sangat menusuk dirinya, banyaknya dosa yang telah dilakukan tapi Kang Badri tetap mencari ilmu kenapa sulit berhenti dari perbuatan dosa, yang padahal seoarang pencari ilmu harus membenahi niat-niat buruk karena keduniawian, seorang tholibharus konsisten terhadap ilmunya. Karena ilmu itu nantinya akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Kang Badri tidak sadar bahwa para para jama’ah itu telah buyar dan hanya dirinya yang berada di tempat majlisul ilmi itu, sampai ia tertidur karena kelelahan

Kang Badri sakit hati

Kang Badri, termakan lagi emosinya. Terbakar oleh suara-suara yang berlawanan dengan nafsunya, yang ingin selalu sejalur dengan keinginannya. Intuisi-intuisi Kang Badri yang meledak, pada akhirnya muncul cuatan-cuatan suara yang bernada berontak diotaknya.
Kang Badri ternyata naksir Nur Aini anak satu komunitas di meja judinya, Nur Aini lumayan cantik dari segi behaviornya, maka tidak heran Kang Badri menaksirnya, dan ternyata Kang Badri kali ini sudah kapok dengan sakit hatinya, pada gadis-gadis terdahulunya. Dalam komunitas judinya ternyata Nur Aini naksir dengan Bos pemilik kasino itu. wah…… Kang Badri harus mundur, mumpung belum terlanjur.
Ditengah umurnya yang selalu bertambah tua ini, Kang Badri sering patah hati. Kang Badri, Kang Badri ada-ada saja kau ini. Sudah banyak cewek yang membuat Kang Badri kecewa; Sinta, Rita, Fani dari Jombang, Mikha, Vista, Win Xp dari Ngawi, Supra, Mio dari Milang dan Tiens dari Kediri. Kang Badri tak habis pikir begitu banyaknya cewek yang membuatnya sakit.
Kayaknya Kang Badri kali ini sudah berkomitment untuk tidak lagi menambatkan hatinya pada seseorang cewek sampai S2. semoga Kang Badri diberi kekuatan oleh Allah, supaya tidak tergoda oleh cewek.
Ingatlah Kang Badri, bahwa kekecewaan yang sebenar-benarnya kekeewaan adalah manakala engkau lalai berdhikir kepada Allah, yang disebabkan banyak ativitas dunia meliputimu, karena fisikmu kau gunakan untuk sibuk mencari, sedang hatimu hampa, kenapa, eh….. kenapa Kang Badri??
Bukankah Allah sudah menjadikan makhluknya berpasang-pasang, ada siang ada malam, ada pagi dengan sore, ada software ada juga hardware. Ah… Kang Badri Kau selalu berfikir sesuatu yang tidak masuk akal. Pakai Kang Badri, sesuatu yang paling mulia pemberiannya: Otak. Emangnya cinta harus memiliki? Bila ya, emangnya kamu memiliki hidupmu, raganu, jiwamu yang selama ini kamu merasa memiliki. Bukankah semua dari NYA dan akan kembali pada NYA??

Majlis Dhikir Kang Badri

Kang Badri menghampiri forum khususiyah yang membaca Surah al-ikhlas, di Masjid Sariloyo Jombang. ia duduk paling belakang dari Jama’ah itu memandangi orang-orang yang khusu’ membaca ayat-ayat Allah. Kang Badri menemukan oase, kesejukan tersendiri ketika mengikuti parade religi ini, kesejukan yang tidak ditemukan didoskotik ataupun kasino.
Kang Badri teringat dengan obrolan meja kopi malam minggu kemarin. Obrolan yang antaberantah tidak diketahui tema. Ujung pangkalnya, ndak tahu juga tanpa ada yang menentukan tema pembicaraan, Kang Badri berpendapat; kesuksesan itu sebenarnya bukan ditentukan oleh banyaknya materi yang melingkarinya, tapi kepekaan hari kita terhadap Allah (Emosional dan spiritual question). Mumpung kita masih muda, mari belajar untuk selalu dhikir kepada Allah, karena disitulah sebenarnya sumber ilmu”.
Obrolan warung kopi itu tidak terasa sudah 3 jam terlewati. Eko, teman Kang Badri ngopi malam itu, pertemuan pertama itu langsung terjalin keakraban, dia bilang dengan Kang Badri bahwa dulu ia seorang aktivis HMI, pernah pula belajar pada aliran Jahula, aliran yang pada awalnya didirikan untuk melestarikan tradisi shohabat. Aliran ini banyak di tentang oleh masyarakat karena cara da’wahnya yang dor to dor tanpa melihat sikon dan watak masyarakat. Pusat jahula di Indonesia di Pesantren Al-Fattah Magetan.
Ekopun membenarkan Kang Badri, bahwa zaman sudah carut marut in, manakala seseorang tanpa membekali dirinya dengan spiritual akan lebih berbahaya ketika kesuksesan materi menghampirinya. Banyaknya angka bunuh diri, stres membuktikan rendahnya spiritual Question bangsa kita. Bangsa yang sudah 60 tahun merdeka, tapi justru terjajah secara intelektual, moral bukan kolonialisme seperti dulu. Banyak buruh indonesia yang diperlakukan seperti perbudakan; gaji dibawah UMR, jam kerja buruh yang menyimpang dari ukuran standar jam kerja.
Kekuatan spiritual yang paling mudah untuk dibangun adalah dengan dhikir, bukan bertanya kepada pemuja intelektual atau pemuja kitab tapi bertanyalah kepada pemuja Allah. Setipa detiknya, keluar masuknya nafas, tidak henti-hentinya selalu memuji, bersyukur, minta ampun kepada Allah SWT.
Nabi SAW bersabda; “sungguh berdhikir kepada Allah diwaktu pagi dan sore hari lebih utama daripada ketajaman mata pedang di jalan Allah dan daripada pemberian harta orang yang dermawan.”
Banyak hadits yang menerangkan tentang keutamaan berdhikir. Banyaknya kesibukan dunia dalam menari nafkah yang dilakukan dengan fisik, maka tidak bisa disat bersamamaan melakukan sholat, ketika dalam kaadaan seperti itulah berdhikir adalah ibadah yang bisa dilakukan.
Mengapa harus berdhikir?? Dhikir fungsi yang terutama adalah menambal ibadah; sholat, puasa dan shodaqoh dan lain-lain, karena banyaknya penyakit dalam ibadah itu; ujub; riya’ dan lain-lain. Sebagaimana Nabi menceritakan bahwa seseorang masuk surga bukan karena amalnya, tapi dengan karunia Allah (diliputi Allah), rahmat Allah dan fadholnya Alah

TAQDIR ?

kang Kipli sulit memejamkan matanya. Dia terus teringat dengan pengajian tadi siang dengan K. Haris di sekolahnya, pengajian dan diskusinya terus direnungkan, karena pertanyaan yang selama ini ia pendam terjawab sudah oleh Sang Kyai. Dia semakin kagum dengan kyai itu, kekaguman tentang luasnya pemahaman ilmu dan karakternya. Dawuh-dawuhnya yang sangat menusuk, serta pemberian motivasi membuat desire Kang Kipli bergelora kembali. Teringat ketika sedang jatuh cinta dengan seorang gadis cantik, Inarotudduja dari Kediri. Sang Kyai selalu menyindir Kang Kipli dengan dawuh-dawuh yang pedas. Bahwa seseorang yang mempunyai mimpi untuk memperjuangkan masa depannya, sedangkan tiap detiknya ia habiskan waktunya, melamun gadis pujaan hatinya, maka ia pantas disebut orang o’on bin bahlul. Sang kyai pun berpesan, lelaki tidak pantas mengejar perempuan, justru yang lebih pantas perempuan yang melamar laki-laki. Ketika Sang Kyai mengucapkan dawuhnya inipun, sempat pula ada protes dari santri perempuan. Kemudian beliau menjelaskan, bahwa lelaki yang layak untuk dilamar perempuan bukanlah sembarang lelaki, tetapi lelaki yang benar-benar cakap dan memang pantas untuk dilamar.
“Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, sehingga kaum itu sendirilah yang merubahnya”. (Arra’d, 11)
Ayat inilah yang sudah lama dipendam Kang Kipli, apa maksudnya??? Dia bingung, karena ada dua Kyai besar NU memberi penafsiran yang berbeda terhadap ayat ini;
“Maju atau mundurnya sebuah bangsa sangat ditentukan oleh bangsa itu sendiri, manakala bangsa itu mau berjuang untuk terus berkembang dan meningkatkan kualitas pendidikannya maka bangsa itu akan maju, sebaliknya jika system pendidikan suatu bangsa itu roboh maka bangsa itu akan hancur”. Dawuh salah satu Kyai NU, Pengasuh Pesantren Besar Jombang, dengan mengutip Surat Arro’d ayat 11.
Kang Kipli masih ingat pidato itu disampaikan disebuah Pondok Al-Jombangi, dalam sebuah acara perpisahan akhirusanah. Pidato Kyai besar NU dari Jombang itu memang masih teringat jelas di otak Kang Kipli, sehingga membuat kesimpulan, yang dimaksud surat Arro’d ayat 11 tersebut adalah bahwa semua tergantung dari usaha manusia itu sendiri, walaupun kadang bertanya pada diri sendiri “ saya As’ariyah atau Mu’tazilah?
Pernah Kang Kipli mendengarkan pengajian tasawuf, disebuah Radio FM terkenal di Jombang. Pembicara dengan jelas menerangkan tafsir dari surat Arro’d ayat 11 dengan membuat ilustrasi; yaitu Sebuah rumah tangga. Suami istri yang hidup harmonis dalam magligai keluarga. Suami terkadang meminta tolong kepada istrinya untuk dibuatkan kopi, Istri dalam posisi seperti ini bagaikan pembantu. Lain waktu istri juga meminta tolong kepada suaminya untuk diantarkan ke Pasar dan bahkan membawakan barang belanjaan. Suami dalam posisi seperti ini bagaikan pembantu dan istri bagaikan majikan, yang pada hakikatnya suami tetap suami bukan majikan atau pembantu, begitu pula kedudukan istri tetaplah istri bukan sebagai pembantu ataupun majikan. Pada intinya yang dimaksud surat Arro’d ayat 11 tersebut. Walaupun manusia itu berusaha kemudian berhasil pada hakikatnya semua dari Allah.
Kang Kipli tetap bingung harus memilih yang mana menenai penafsiran sutar Arro’d ayat 11, ikut yang Kyai di Radio FM itu atau pilih saja yang kelihatan Mu’tazilah, Kyai Pengasuh Pesantren besar Jombang itu, kebingungannya di lepaskan siang tadi, ketika pengajian Sang Kyai, saat dibuka Tanya jawab.
“banyaknya khazanah, referensi adalah untuk memperkaya keilmuan, bukan untuk dibingungkan. Setiap pendapat mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing, atau bahkan bisa dipadukan. Ingat!! Bahwa adanya surat arro’d ayat 11, juga ada ayat yang menerangkan bahwa Allah mencipatkan sesuatu yang tidak diketahui kamu semua ketahui. Segala usaha manusia pada akhirnya Allah pulalah yang menentukan”. Dawuh Sang Kyai, dengan menjembatani dua pendapat itu.
Marzuki

Marzuki Menjawab : Kontroversi Tentang RA Kartini pada

http://muhsinlabib.wordpress.com/2009/04/22/kontroversi-kartini-kita/

Menjawab Kontroversi I

pemikiran RA Kartini adalah lebih banyah terinspirasi oleh buku-buku mengenai kemajuan wanita seperti karya-karya Multaluli “Max Havelar” dan karya tokoh-tokoh pejuang wanita di eropa dan banyak bergaul dengan kalangan terpelajar. Perihal, naskah asli atau manuskrip memang tidak diketahui tapi bukan berati adalah manipulasi.

Menjawab Kontroversi II

RA Kartini menikah dengan Bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat adalah merupakan paksaan dari kedua orangtuanya bukan atas kemauan sendiri dan RA Kartini menerima dengan lapang dada ketika ia dinikahkan dan suaminya justru digunakan sebagai alat untuk mengimplementasikan visi dan misinya yang pada gilirannya dibangunkan sekolah oleh suaminya.

Menjawab Kontroversi III

Ma'lum, RA Kartini memang masih relatif muda ketika ia meninggal, 25 tahun merupakan usia muda untuk ia mengembangkan perjuangannya yang universal maka mau tak mau dan harus kita acungkan jempol.

Menjawab Kontroversi IV

RA Kartini berbeda dengan; Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia, Emmy Saelan atau Christina Mautha Tiahahu. RA Kartini dianggap ide-idenya menyeluruh secara nasional karena mengandung sesuatu yang universal.

Menjawab Kontroversi V

Lebih patut dihargai adalah RA Kartini wahuwa bisabqin khaizun jamila karena lebih dahulu lahir daripada Dewi Sartika.

Menjawab Kontroversi VI

RA Kartini lahir pada 21 april 1879 merupakan sebuah keistimewaan baginya karena telah memberikan ide-ide nasionalis yang universal

Marzuki : SEBUAH GAMBARAN PASCA PILEG 2009

Mencoba berbicara tentang banyaknya caleg yang frustasi akibat tidak bisa menerima kekalahan dalam pileg (baca: pilihan legislatif) kemarin. Ini bukti akibat betapa rendahnya mental bangsa kita. Saya mendengar tadi siang di Radio, bahwa jumlah pasien di RSJ Solo meningkat 40 %. Sungguh meningkat drastis. Banyaknya caleg yang frustasi ini karena tidak adanya pertimbangan yang matang dalam menentukan langkah dan ini namanya sikap posotif yang kurang perencanaan yang detil. Pun patut pula bagi mereka tidak menjadi caleg. Seumpama ia menjadi legislatif maka banyak program yang tidak terealisasi secara optimal dikarenakan kurangnya mental sebagai pemimpin. Frustasi sendiri sebenarnya adalah ketidakterimaan atas suatu hal karena merasa tak sanggup mencapainya dan pemimpin kita tidak pantas mempunyai watak seperti itu.

“Halah………….. ngapain pergi ke TPS, wong ndak dapat apa-apa” ucapan ini sering kita dengar ditengah-tengah masyarakat dan masih banyak sekali ucapan yang senada. Pesimisme masyarakat yang beranggapan percuma memilih pemimpin yang tidak bisa membawa aspirasi mereka. Pula ini reaksi dari rendahnya mental masyarakat kita. Optimismisme masyarakat indonesia mulai terkikis yang padahal adalah negara yang demokratis. Pemimpin adalah ditangan rakyat bukan rakyat ditangan pemimpin. Bisa ditebak masyarakat kita tidak mau di pimpin oleh manusia sendiri dan itu cuatan dari ketidak percayaan terhadap diri sendiri.

Sistem money politic telah mengakar di masyarakat kita. Disebuah masyarakat pedesaan atau perkotaan ketika mereka memilih Lurah tak lepas dari memberi uang kepada warga ini contoh miniatur negara kita. Kalau memang itu sebagai ganti uang lelah kenapa harus ada massage “Bapak nanti kalau pilih saya sandalnya dicopot saja ya..”.

Marzuki : Fatalnya Sebuah Perbedaan Persepsi


Pernah saya membaca dalam salah satu blog. Lupa saya URL nya. Ada sebuah cerita tentang dua anak yang bernama Sutono dan Sutopo adiknya. Mendapat dua wasiat dari Bapaknya tapi karena terjadi perbedaan persepsi, sungguh besar perbedaan mereka dalam status sosial setelah besar. Dua wasiat tersebut yang pertama adalah “Nak janganlah kau pernah menagih hutangmu dan jangan pula kau ketika bekerja terkena sinar matahari” Kata Bapak. Dua wasiat tersebut dipegang teguh sampai ia besar. Setelah kedua anak itu besar Sutono kaya dan Sutopo miskin. Bapak mereka sudah lama meninggal hanya tinggal ibunya yang masih hidup. Perbedaan ekonomi yang sangat tajam ternyata menyulut pertanyaan tersendiri bagi ibunya. Ketika dua anaknya berkumpul kesempatan itu tak dilewatkan Ibu yang telah memendam pertanyaan bertahun-tahun. “maaf ya nak, sebenarnya saya sudah lama memendam pertanyaan ini, daripada saya meninggal dengan penasaran, lebih baik kutanyakan sekarang” Kata Ibu “Sutopo sebenarnya apa sih yang membuat kamu miskin, kok jauh dengan kakakmu Sutono?”

“Bu, dulu Bapak pernah berpesan pertama jangan pernah menagih hutang, jadi saya tidak pernah menagih hutang-hutangku sehingga modalku habis dan pesan yang kedua dari Bapak adalah ketika bekerja jangan sampai terkena sinar matahari jadi setiap saya berangkat kerja uang saya habis untuk naik taksi” Jawab Sutopo.

“la….kamu Sutono kok bias kaya”? Tanya Ibu.

“Begini bu, ya sebenarnya sama dengan Topo saya kaya lantaran menuruti pesan dari Bapak bahwa jangan pernah nagih hutang, jadi saya tidak pernah menghutangkan modal dagangku pada orang lain kecuali orang memang dapat kupercaya. Pesan kedua dari Bapak jangan pernah ketika bekerja terkena sinar matahari, maka tokoku kubuka sebelum matahari terbit ba’da Shubuh dan tutup setelah terbenam matahari ba’da Isya’ ,bu”. Jelas Sutono

kisah diatas adalah penggambaran perbedaan persepsi dari sebuah pesan dari sang Bapak kepada anaknya. Pesan yang sama tapi memberi dampak yang sangat tajam dalam perkembangannya. Sebuah persepsi benar ternyata penting. Analisa sebuah pesan, wacana dll diperlukan analisa sebelum kita pegang erat.

Kita boleh fanatik dan menganut aliran apapun. Terlepas hanya sekedar ikut atau memang observasi. Terlebih penting adalah mari kita bangun sebuah persepsi yang benar dalam diri kita. Dimana letak kebenaran? Kebenaran terletak pada hati nurani masing-masing, bukan pada golongan, partai, aliran, organisasi tertentu