MENEGUHKAN INDONESIA : PATRIOTISME


meneguhkan indonesia


Wacana Marzuki. Tulisan yang tak bertaji ini hanya sengatan dari suatu MAJELIS KENDURI CINTA, Ehma Ainun Nadjib. Sengatan yang tepat mengenai stimulus saya dan refleks menggerakkan tangan untuk mengetik di keyboard komputer dengan tanpa memperhitungkan konsep berpikir dan kerangka tulisan yang jelas. Maaf, jika pembaca tidak menemukan kepuasan, toh tulisan ini bukan alat pemuas, hwhwh! Terpenting, ini adalah wujud patriot saya (artikel terkait, baca)

Ketika saya mendengar Cak Nun bercerita sekelumit tentang bukunya “Indonesia Bagian Dari Desa Saya”, saya kaget. Lho, ada ya bukunya Cak Nun yang berjudul seperti itu, kok saya belum mendengar apalagi membacanya. Trus, hingga detik ini saya menulis, saya masih penasaran isi buku itu apa, dan saya ingin beli dan baca, entah kapan? Di sini jauh dari toko buku lengkap, layaknya Gramedia. Cak Nun (terkait juga) hanya menyampaikan sedikit tentang isi buku itu, bahwa sebelum kita membangun Indonesia nasional, kolektif, dalam skala yang besar ini, yuk kita membangun Indonesia dari dalam diri kita sendiri-sendiri dulu. Bahwa pemimpin itu harus jujur maka kita harus melatih diri kita sendiri untuk jujur. Bahwa pemimpin Indonesia itu harus adil maka kita harus menerapkan adil di internal diri kita. Bahwa Indonesia harus manajemennya benar, kita harus menajemen diri secara benar. Maksudnya, kita membangun Indonesia dalam kehidupan diri kita sendiri pun juga bisa. Sebab dalam buku “Indonesia Bagian Dari Desa Saya” itu makna Indonesia sangat beragam; ada Indonesia secara substansial, Indonesia secara teritorial, Indonesia secara filosofis dan lain sebagainya. Maka minimal kita meng-Indonesia-kan diri kita sebelum menunggu proses zaman yang panjang nan rumit ini, untuk menyaksikan Indonesia dalam rasional kita. 

(Kangen Sri Mulyani, kemana perempuan hebat itu, baca)

Ada 3 pilar yang biasanya dipakai dalam mengurai pilar-pilar negara lantas Cak Nun memberi unsur terpenting lainnya yakni adat dan kebudayaan, juga agama atau spiritual (Maaf, kalau salah mohon dikoreksi). Nah, saya akan mencoba berbicara mengenai unsur-unsur itu sesuai kapasitas saya yang masih kelas Nol Kecil ini.

(kesuksesan anda tak lepas dari cara anda mengelola waktu. Temuka tips mengelola waktu : BACA)

1.   Rakyat

Raktyat adalah pihak yang diatur oleh pihak yang berkuasa (Emha Ainun Nadjib). Semua orang yang tinggal dalam suatu wilayah atau negara, begitu Bahar Rifai mendefinisikan. Biasanya rakyat memiliki karakteristik atau unsur-unsur yang hampir sama yang berkumpul dalam suatu wilayah. Menurut Friederich Hertz, unsur-unsur itu adalah Keinginan dalam mencapai kesatuan nasional, kemerdekaan dan kebebasan tanpa intervensi asing dalam manajemen bangsanya, kemandirian, juga keinginan unggul dari bangsa-bangsa lain. 

(Kegelisahan kerap melanda kehidupan anda. Temukan cara-cara meraih hidup bahagia : BACA)

Berdirinya suatu negara dalam suatu wilayah tertentu memang selain karena keinginan manusia dengan manusia-manusia lainnya yang sama terbesit impian ingin mendirikan negara juga sebab adanya berbagai kesamaan ras, bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Mereka beranggapan memiliki nenek moyang yang sama: SILSILAH.

(Bagi anda yang baru saja putus dari pacar temukan tips menghadapi patah hati anda : BACA)

Itulah mengapa 28 Oktober 1928 generasi muda berkumpul dan mereka memekikkan sumpah: SUMPAHPEMUDA; bertanah air satu, berbangsa satu dan menjunjung bahasa yang satu: INDONESIA. Batas teritorial itu akan terlihat manakala Pancasila menjadi dimensi yang menstndarkan nilai-nilai yang ada di bangsa Indonesia. 

(Benarkah Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman. Baca Argumentasinya di sini)

Betapa banyak orang-orang yang mengatas namakan dirinya: RAKYAT atau WAKIL RAKYAT. Tentu mereka mempunyai tujuan yang tidak sama, ada yang memang beneran dari hati sebagai rakyat namun tak sedikit mereka yang mencari keuntungan pribadi. Dalam konteks ini tentu yang terakhir itu tidak sepenuhnya mengerti makna rakyat serta berbagai dimensi yang melingkupinya. 

(Benarkah KH. Hasyim Asyari lebih populer ketimbang KH. Ahmad Dahlan di akhirot: BACA)

Rakyat bukanlah konsepsi aritmatik atau statistik namun rakyat adalah konsepsi politik. Rakyat itu tidak harus selalu seluruh penduduk suatu negara itu. Rakyat adalah the common people, orang banyak . Pengertian rakyat berkaitan dengan kepentingan bersama, kepentingan publik yang tentu berbeda dengan kepentingan antar individu. Maka, berbeda makna dalam istilah ini: public interest atau public wants dan private interest atau private wants. Sejak dulu orang memperdebatkan tentang individual privacy dan public needs. Ini analog dengan pengertian  bahwa social preference berbeda dengan hasil penjumlahan atau gabungan dari individual preference. Istilah rakyat memiliki relevansi dengan  hal-hal yang bersifat publik itu.

(Memahami Taqdir Tuhan denga Al-Qur'an : BACA)

Menguatkan Indonesia, meneguhkan Indonesia, memperkokoh Indonesia berarti harus didahului dengan perenungan arti Indonesia dan menyatukan dengan perilaku kita. Dan, sudahkah selama ini kita menjadi rakyat yang baik?

(Jejak Sang Ode : BACA)

2.   Tentara ratyat

Tentara keamanan rakyat (TKR) begitulah awal mula pasukan perang Indonesia diberi julukan, karena mereka bertugas menjaga stabilitas keamanan rakyat. Menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari makar, dari rongrongan ekspansi kolonial. Tentara rakyat esensinya adalah menjaga rakyat, dari bahaya apapun. Ketika prajurit negara tidak bisa memberikan keamanan tehadap masyarakat bahkan sebaliknya tentu itu oknum, dan oknum keamanan selalu mesti harus diamankan. 

(Anda punya modal, namun bingung memilih sebuah bisnis? BACA)

Apakah tentara rakyat mesti dari Prajurit rekrutan negara itu?  Menurut saya tidak, sebab saya juga bersedia menjadi rakyat yang militan itu, hehe. Begitu banyak rakyat jelata yang berkeinginan menjadi tentara resmi negara (sekarang TNI) namun begitu nasib tidak mengizinkan menjadi tentara, dan mereka yang gagal mendaftar menjadi tentara, saya yakin juga banyak yang mempertahankan idealismenya dalam mengabdi pada tanah airnya.  

(Mengapa Madiun disebut Kota Gadis? BACA)

Di Indonesia, tentara rakyat terbagi dalam 3 area: darat, laut dan udara. Begitulah Indonesia mempertahankan kedaulatannya yang besar ini, dari Sabang sampai Merauke. Dan, karena kekuatan tentaralah Majapahit ditakuti di wilayah Asia waktu itu. Tentara area laut kerajaan Majapahit waktu itu telah dilengkapi dengan peralatan yang canggih di masanya: MERIAM CETBANG). Kapal-kapalnya masyhur dengan gelar JUNG MAJAPAHIT. Begitu pula, bagaimana kesultanan Turki bisa berekspansi? Tak lain ia punya tentara rakyat yang tangguh. Ottoman mempunyai pasukan elit Yenicheri atau Janissary yang ditakuti eropa berabad-abad mulai dari berdirinya hingga keruntuhannya. Lantas, seberapa besar tentara rakyat Amerika Serikat hingga ia tetap berjuluk POLISI DUNIA hingga kini? Atau, layakkah Amerika disebut sebagai negara super power? Kalau iyya, mengapa Amerika Serikat tidak berani menyerang korea utara yang terang-terangan mengaku punya Nuklir dan balas dendam pada As jika berani-berani menyerang Korea Utara? Dan  bukankah As juga menyerang Irak dengan argumentasi Irak membahayakan? Apakah As hanya negara yang hanya hegemonistik tanpa taji? Saya tidak akan membahas itu, entar di artikel lain kalau sempat nulis.

(Gapai kesuksesan anda: BACA)

Indonesia pernah ditakuti Amerika, ketika Militer Indonesia didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Soviet. Pada tahun 1960, Belanda masih bertahan di Papua. Melihat kekuatan Indonesia yang semakin kuat, Belanda membuat ide memerdekakan Papua namun sebenarnya hanya siasat, supaya Indonesia tidak mengusir Belanda dari Papua. Mendengar berita itu Soekarno membuat gerakan pembebasan Papua dari Belanda. Begitulah Tentara Rakyat berfungsi. Semakin besar kekuatan Tentara Rakyat ia akan semakin berwibawa negara itu di atas bangsa-bangsa lain.

(Anda kebingungun di mana harus mencari tempat informasi lowongan kerja: BACA)

3.   Cendekiawan

Cendekiawan, yakni orang yang membuat ide bendera, membuat lambang Indonesia, orang yang menyusun Undang-Undang Dasar, budayawan, pendidik, pokoknya orang-orang yang mikir-mikir. Fungsi cendekiawan dalam suatu negara adalah memberikan problem solver dan tak ada “perselingkuhan” (Meminjam bahasanya Gus Dur) dengan kekuasaan. Dan, Cendekiawan juga harus bersimpati dengan tumbuh kembangnya intelektualisme di masyarakat. Pengawalan kaum cendekiawan terhadap dinamika intelektualisme di masyarakat sangat dibutuhkan  mengingat masyarakat Indonesia begitu terpasung pemikirannya terhadap citra. Manakala citra sudah menguasai kaum intelektual maka yang terjadi adalah terjebak pada hegemoni orang lain karena tingkah lakunya dipasung citra yang telah dipasang bangsa lain, begitu menurut Kuswaidi Syafi`I (2004). Fenomena demikianlah yang tengah melanda mayoritas kaum intelektual Indonesia. 

(Banyak orang yang menggaungkan kebebasan, namun tidak mengerti batas-batas kebebasan: BACA)

Mendengar kasus korupsi di media yang menjerat para pejabat Indonesia adalah makanan sehari-hari. Mereka yang terjerat kasus korupsi itu tak sedikit yang bergelar Doktor, bahkan Profesor itu adalah bukti integritas dan moralitas kaum intelektual Indonesia sudah tergadaikan. Kaum cendekiawan juga telah banyak yang berlabuh ke dalam pusaran kekuasaan dari mulai yang serius dan tekun dalam dunia pendidikan. Betapa banyak kaum cendekia sibuk dengan jabatan di birokrasi dari jabatan kampus, sehingga tugas “ngampus” makin terabaikan. Kenikmatan kaum cendekia terhadap politik makin membuatnya jauh dari dunianya sebagai Intelektual yang harus terus membangun Indonesia dari dunia keilmuan. Yang terjadi, mereka akan asing dengan akademisi dan dedikasinya pada ilmu dan melalaikan integritas akademiknya. Korupsi merajalela, hilangnya moralitas sudah tak dihiraukan. 

(Belajar yang baik adalah dengan.....BACA)

Kaum cendekiawan adalah selayaknya mempertanggungjawabkan dua hal pokok ini, yakni membawa kembali doktrin agama sebagai pembebas sebab kamu cendekia selalu identik dengan kaum pencerah. Kaum cendekia mesti sudah beraksi dengan daya intelektualnya melawan kegelapan dengan kekuatan sosial-revolutifnya. Bergerak aktif melawan kampanye hitam dan membangun kembali runtuhnya etika politik. Yang kedua adalah menyangkut masalah-masalah nasionalisme, dimana dalam beberapa tahun terakhir kaum cendekia lebih banyak terlibat dalam kasus kejahatan korupsi. Bahkan, seorang rektor juga terlibat dalam urusan penggelapan uang negara. Dengan demikian, kemanakah posisi seorang cendekiawan? 

(Mengenal Sri Mulyani dengan sastra: BACA)

Al-hasil, cendekiawan harus mau turun gunung melawan kebiadaban dengan kapasitas intelektualnya. Dua hal itu adalah tanggungjawab moral yang meski ditunaikan oleh kaum intelektual. Maka, letak inteleknya adalah terdapat pada dedikasinya.

(Perempuan dalam Islam : BACA)

4.   Adat

Secara terminologi kata adat ini memiliki dua pendapat, ada yang berpendapat dari bahasa Arab yang berarti kebiasaan, dan pendapat lain mengatakan berasal dari bahasa Sanskerta “A “, berarti tidak dan “Dato” berarti sesuatu yang bersifat kebendaan. Lepas dari perdebatan itu, para ahli sepakat bahwa kata adat memang muncul dari bidang ilmu hukum yakni pembahasan tentang hukum adat itu sendiri, sebab kerap kemunculan suatu keputusan hukum memang tidak bisa lepas dari hukum adat.

(Ilmu iku kalaku kanti laku : BACA)

Nah, Adat sendiri dipahami dengan pengertian wujud gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan disuatu daerah.  Adat yang hidup dalam suatu masyarakat di Indonesia ini kemudian bisa menjadi sistem hukum yang dikenal dalam lingkungan kehidupan sosial di Indonesia, atau lebih dikenal dengan julukan hukum adat. Hukum ini tidak tertulis namun bisa dipegang kuat oleh masyarakat dan dipertahankan dan karena tidak tertulis hukum ini begitu elastis dan bisa beradaptasi. Hukum adat juga terjadi di beberapa negara-negara Asia lainnya seperti Jepang, India, Tiongkok. 

(Cinta itu bagian dari kehidupan, cerita cinta 2 : BACA)

Seseorang yang hidup dalam suatu masyarakat manakala ia melanggar hukum yang tak terkodifikasi itu, tentu ia juga akan mendapat sanksi (hukum) dan dipihak lain dalam keadaan tak terkodifikasi. Sanksi yang dimaksu adalah reaksi dari pihak lain atas suatu pelanggaran itu.  

(Media adalah penguasa di zaman ini. Mengapa Pers Islam melemah : (BACA)

Hukum adat tumbuh dan dipelihara oleh masyarakat terutama oleh petinggi-petinggi suatu masyarakat dahulunya seperti kepala adat dalam memutuskan perkara-perkara hukum waktu itu. Sekarang hukum adat juga bisa membantu hakim dalam memutuskan perkara-perkara pertentangan kepentingan yang tak bisa diselesaikan secara hukum yang telah terkodifikasi, seperti misalnya sengketa tanah. Sebab pengambilan suatu hukum tertulis pada awalnya juga konsideran terhadap hukum-hukum adat. 

(Zaman kapitalisme: uang dan uang)

Adat atau kebiasaan yang tumbuh kembang di masyarakat secara turun temurun memang bisa menjadi tatanan hukum, namun tentu yang bisa menjadi tatanan hukum itu sendiri adalah kebiasaan yang positif, senafas, seirama dengan kesadaran , diterima, diakui. 

Suatu bangsa yang mempertahankan kekuatan hukum adat akan menjadi sebuah negara yang kuat karena negara itu telah menjadi dirinya sendiri tanpa terbang di atas angin, kesana kemari. Negara itu akan kokoh. Pertanyaannya, sampai kapan adat suatu bangsa bisa bertahan ditengah lautan globalisasi ini?                                                                                               

5.    Kebudayaan

Budaya yang berasal dari kata budi, adalah sesuatu yang dikaitkan dengan akal manusia. Dalam bahasa Inggris kita mengenal Culture, yang konon berasal dari bahasa Latin colere, yang artinya mengerjakan atau mengolah. Melihat kedua bahasan secara etimologi itu maka kayaknya sejalan jika budaya  biasanya didefinisikan dengan suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sekelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya dalam suatu bangsa berjalan secara turun temurun dan berdinamika sesuai dengan perkembangan akal manusia itu sendiri. Dulu, ketika manusia belum mengenal lampu listrik aktivitas pola pikir manusia pasti tidak sama ketika kehidupan manusia telah mengenal lampu listrik. Pola pikir itu tentu juga akan berpengaruh terhadap cara hidup manusia, sebab bermula dari penemuan lampu oleh Tomas Alva Edison maka bermunculan pula teknologi-teknologi modern lainnya, hingga zaman sekarang perkembangan teknologi informasi berkembang pesat dan dari pesatnya informasi pula kebudayaan suatu daerah bisa dikenal dari suatu negara ke belahan dunia lainnya.

Namun saya tidak akan memperpanjang itu, sebab saya akan berfokus pada bagaimana budaya Indonesia juga akan mempengaruhi kuat lemahnya negara tercinta Indonesia ini.

Sebelumnya, perlu untuk berbicara tentang perbedaan adat dan budaya, supaya pembahasan bisa nyambung dengan permasalahan. Adat itu kebiasaan suatu masyarakat tertentu yang muncul dari nenek moyangnya dan bisa mendapatkan sanksi sosial dari masyarakat itu jika ada yang melanggarnya, artinya adat itu tidak bisa diubah. Sedangkan budaya itu lebih pada cara hidup manusia yang bisa berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Maka budaya itu sendiri terbentuk dari beberasa unsur yang rumit agama, politik, adat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Melville J. Herskovits dan Bronislaw  Malinowski mengemukaan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam suatu masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri, atau biasa disebut dengan Cultural-Determinism. Lantas, bagaimana kita selaku masyarakat Indonesia mengetahui kebudayaan kita sendiri, yang telah dilakukan nenek moyang kita? Pertanyaan ini telah dijawab dengan Pancasila, sebab Presiden Soekarno waktu itu menawarkan Pancasila itu merupakan nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.

Al-hasil, memperkokoh Indonesia dari aspek kebudayaan adalah dengan menerapkan butir-butir Pancasila itu sendiri dalam kehidupan kita.

6.   Agama

Agama atau spiritual adalah faktor penting dalam membangun dan memperkokoh negara Indonesia sebab agama adalah semangat terdalam manusia dari Tuhan. Semua agama mengajarkan kebaikan dalam beretika, membentuk kedamaian, kerukunan, toleransi dan lain-lain. Nilai-nilai agama itu justru lebih kuat dipegang oleh pemeluk suatu agama ketimbang adat atau budaya. Betapa banyak orang menerima suatu adat atau budaya jika selaras dengan pandangan agamanya. Jika, belakangan ini media kerap memberitakan banyaknya kekerasan yang dilakukan oleh manusia atas nama agama. Disini saya katakan, itu adalah ilusi bukan fakta. Betapa banyak informasi yang datang kepada kita adalah hasil komentar-komentar dari ini dan itu, menurut versi ini dan versi itu, maka itu bukan fakta namun opini.

Lantas, mengapa ada pendapat yang mengatakan bahwa mayoritas pelaku kekerasan atas nama agama Islam adalah disebabkan perintah dari pempinan spiritualnya? (saya tegaskan Islam, sebab dunia tengah dilanda islamphobia yang dilancarkan negara-negara anti Islam) Pertama, pimpinan agama itu saya yakin belum yang paham beragama itu sendiri. Menurut saya, sebelum kita berbicara agama terlebih mari kita berbicara keindahan. Kedua, jangan campurkan adukkan tafsir suatu ayat dari sudut pandang politik. Ketiga, banyaknya sekte-sekte dalam suatu agama adalah adanya miss komunikasi.

Begitulah, ajaran agama memang begitu kuat pengaruh ideologinya terhadap pemeluknya, maka mendukung Michael H. Hart penulis bukunya, 100 Tokoh Paling Berpengaruh dalam sejarah, nomor satu penulis mencantumkan Nabi Muhammad Saw, selaku penyebar agama Islam di Makkah yang kemudian menyebar ke Jazirah Arab dan meluas ke dunia. Dan, Islam kini menjadi agama yang mayoritas di masyarakat Indonesia. 

 (Cerita Surau-Surau di desaku: BACA)

Agama Islam membumi di Indonesia semenjak para WaliSongo menyebarkan agama Islam ke Tanah Jawa. Wali Songo menyebarkan agama Islam menggunakan metode pendekatan ke lapis masyarakat dengan halus tidak menampakkan cara-cara kekerasan. Metode itulah yang mengikat hati masyarakat jawa sehingga perlahan mereka rela meninggalkan agama dahulunya. 

 (Contoh sastra yang mencerahkan : BACA)

Ajaran-ajaran agama Islam sangat mendukung terhadap kekuatan negara Indonesia dan memperbaiki permasalahan-permasalan generasi penerus yang makin jauh dari harapan. Islam sangat mengajarkan taat kepada pemimpin. Islam juga mengajarkan bagaimana memilih pemimpin yang baik. Islam juga mengajarkan bagaimana bernegara, bermasyarakat, beragama yang baik. Saya yakin agama lain juga mengajarkan hal-hal itu.

(Apa sebenarnya fungsi dari sastra?: BACA)

Penutup, seseorang yang berkeinginan menjadi pemimpin baru di Indonesia harus menyatukan 6 unsur itu, sebab hingga sekarang pemimpin di Indonesia belum ada yang mengumpulkan 6 unsur itu. Presiden ke 2 Indonesia baru menerakan unsur ke 2 dan mengesampingkan yang lain. Dan, bagaimana jika anda adalah Presiden berikutnya?

  (Kangen Gus Dur: BACA)

Tag:  MENJADIPEMIMPIN INDONESIA, KRITERIA RAKYAT YANG BAIK, MENJADI TENTARA RAKYAT, ADATNEGARA INDONESIA, ADAT ADALAH, HUKUM ADAT ADALAH, PERBEDAAN ADAT DANKEBUDAYAAN, PERAN AGAMA DALAM NEGARA, PENGARUH AGAMA TERHADAP NEGARA

 

WACANA SEJARAH : JAS MERAH


Wacana Marzuki. Jangan sekali-kali meninggalkan (bukan melupakan) sejarah, begitu pekik Bung Karno. Sejarah merupakan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lalu. Sebagian orang mengatakan, belajar sejarah itu tidak perlu, sebab sejarah hanyalah hasil kesuksesan suatu rezim tertentu. Maka, kebenaran sejarah sangat dipertanyakan, antara benar dan salah. Bukan rahasia lagi, setiap rezim mempunyai penulis sejarah sendiri yang tentu ia menulis karena kepentingan. Itulah mengapa kita sukar menemukan buruknya Majapahit di Abad 13 itu. Kita hanya mendengar Gajah Mada telah menyatukan nusantara dan mempertahankan kekuasaannya dengan sistem persemakmuran. Begitu indahnya mendengar kejayaan Majapahit. Mungkin, pendapat ini terbantahkan untuk zaman sekarang, di mana kebebasan media begitu dijunjung dan dahsyatnya perkembangan teknologi informasi menjadikan tulisan bisa berbagai versi dengan berbagai analisis. Terupdate misalnya, Presiden Obama dituduh berbohong oleh wartawan investigasi, Seymour Hers tentang pernyataan Obama terkait tewasnya Osama bin Laden. (PRESIDENOBAMA BOHONG)
Menurut hemat penulis, mempelajari sejarah tetaplah penting, terlepas sejarah itu benar atau dibengkokkan oleh penulis suatu rezim tertentu, sebab dengan mempelajari sejarah kita tetap akan berbeda dengan orang yang sama sekali anti mempelajari sejarah. orang yang mempelajari sejarah tentu ia mempunyai wawasan yang luas, dan orang yang mempunyai wawasan luas akan mempunyai aura yang berbeda, ia punya percaya diri jika berbicara dengan orang lain. Bahkan jika seorang cowok atau cewek mempunyai wawasan yang luas, mereka mempunyai nilai tambah di hadapan pacarnya haheha.
Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang yang menghormati jasa para pahlawannya? Jadi, bukan tanpa alasan mengapa sejarah menjadi mata pelajaran di Sekolah. Mengapa setiap rezim mempunyai penulis sejarah? Dan, bukankah sebuah teori mengutarakan, sejarah adalah teladan bagi kehidupan manusia, karena sejarah mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma yang bisa dijadikan pedoman bagi kehidupan manusia. Orang bangsa Romawikuno mengatakan, historia vitae magistra, yang artinya, sejarah merupakan guru bagi kehidupan. Faktanya, orang sedunia kini pada berguru sama orang-orang Romawi kuno, bukan?
Oke, oke, di bawah ini saya akan memaparkan tentang manfaat belajar sejarah, yang ini saya kutip dari Louis Gotschalk dan NugrohoNotosusanto, ada 6 menurutnya;
1. Edukatif
“Pengalaman adalah guru yang paling baik”, begitu ungkapan orang bijak. Kejadian masa lalu yang bisa kita jadikan pelajaran untuk kehidupan di masa yang akan datang. Dengan belajar sejarah kita akan bisa menganalisa, bagaimana kehidupan mereka sehingga bisa mencapai titik puncak tertentu, atau sebaliknya. Hal itu merupakan edukatif, yang bisa menjadi bahan renungan bagi para pembelajar sejarah.
Kita bisa mengambil pelajaran tentang kearifan lokal misalnya, itu bisa kita telongok bagaimana masyarakat kepulauan Aru bisa menyakralkan binatang-binatang besar seperti ikan hiu, ikan paus maupun burung-burung goal-goal. Menurut mereka, yakni orang-orang di masyarakat Aru ternyata mereka percaya bahwa dulunya binatang-binatang besar itulah yang telah membantu penyebaran penduduk, akibat suatu bencana alam orang-orang berpencar dan binatang-binatang besar itu ikut menolong orang-orang itu, sehingga kepulauan Aru itu bisa berpenghuni. Jadi, masyarakat Aru merasa berhutang budi kepada binatang-binatang besar itu, sebab telah menjadi kendaraan bagi mereka.
Keadilan, juga adalah sifat yang bisa kita pelajari dari sejarah. Bagaimana effect keadilan terhadap suatu masyarakat. Tentang keadilan kita bisa belajar dari sebuah KerajaanKalingga yang pernah berdiri di antara Kabupaten Pekalongan dan KabupatenJepara untuk ukuran sekarang. Konon kerajaan itu berdiri sebelum era NabiMuhammad Saw, di Makkah. Kerajaan Kalingga bercorak agama Hindu. Kalingga terkenal dengan keadilan dan kebenaran tanpa pandang bulu. Ratu Shima mendidik masyarakatnya untuk berbuat jujur dan bertindak keras terhadap orang yang mengambil barang yang bukan haknya. Menurut cerita, Ratu Shima menerapkan hukuman potong tangan bagi para pencuri, sehingga rakyat Kalingga hidup aman, tentram tanpa ada kasus pencurian.
Cerita mengenai Kerajaan Kalingga terdengar ke negeri-negeri lain, hingga ada seorang raja dari seberang yang penasaran tentang cerita itu. Rasa penasaran raja itu ingin diobatinya, yakni dengan menguji kebenaran cerita itu. Akhirnya raja seberang itu menyuruh prajuritnya untuk meletakkan sekantung emas di persimpangan jalan dekat pasar. Hasilnya, sekantung emas itu sama sekali tidak ada yang menyentuhnya. Raja seberang itu geleng-geleng kepala melihat perilaku masyarakat Kalingga yang takut menyentuh sekantung emas itu dan begitu taatnya pada undang-undang kerajaan.
Baru setelah tiga tahun, sekantung emas itu ada yang menendang-nendangnya dan itu tak lain adalah putra dari Ratu Shima sendiri. Ia menendang-nendangnya sembari mengatakan bahwa masyarakat Kalingga tidak akan naksir untuk memilki dengan sekantung emas itu. Kabar tentang perilaku putra Mahkota itu akhirnya terdengar juga sampai di telinga Ratu Shima dan akhirnya putra Mahkota itu mendapat hukuman potong kaki. Begitulah, keadilan yang diterapkan oleh Ratu Shima membuat rakyatnya aman dan sentosa.
2. Inspiratif
Kita sebagai bangsa Indonesia memang harus bangga, sebab di Indonesia terdapat bangunan bersejarah yang bernilai seni yang agung dan kecanggihan teknologi tinggi yang melebihi jamannya, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan dan banyak lainnya. Bagaimana tidak  disebut melebihi kecanggihan teknologi pada zamannya? Lha wong hingga kini di abad 21 bangunan itu masih kokoh tak tertandingi, sementara rata-rata bangunan orang sekarang paling banter cuman bertahan 1 abad.
Selain itu, bangunan sejarah itu juga mampu memberikan inspirasi bagi orang-orang sekarang, tentu bagi mereka yang mau membuka lembaran-lembaran sejarah. karya-karya sejarah seperti; tembok raksasa Cina, TajMahal, Piramida Giza, dan lain sebagainya, yang berdiri hingga ribuan tahun merupakan inspirasi yang tak pernah padam. Orang-orang pernah melihat bangunan-bangunan itu pasti akan teringat dengan sejarahnya dan kemudian menjadi inspirasi hebat. Inspirasi akan muncul sesuai temperatur orangnya; jika seorang penyair mungkin akan mendapat inspirasi tentang yang akan akan diungkapkan, jika seorang arsitek mungkin akan mendapat pencerahan terhadap gaya bangunan, jika seorang yang sedang patah hati bisa saja ia akan tumbuh kekuatan dalam diriya sebab melihat kekokohan bangunan itu yang tidak mudah layu oleh virus-virus zaman eh..eh..arrGh
Agar mendapatkan inspirasi sejarah biasanya para motivator menceritakan kehebatan seseorang, entah kesabaran, keuletan, kegigihan seseorang supaya ditirunya, kalau dia bisa kita harus bisa.
Jika anda ingin menjadi penulis hebat, maka anda harus terus menjaga semangat dan terus berlatih bagaimanapun situasi dan kondisi yang anda alami. Anda akan terhenyak membaca perjuangan Pramoedya Anantatoer, di mana jeruji besi tidak mampu memadamkan semangatnya dalam menulis. Ya, penjara tak membuatnya patah arang dalam menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan beliau konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar. Namun, kegigihannya membuahkan hasil. Beliau adalah peraih: The Pen Freedom-to-write Award pada 1998, Ramon Masasay Award pada 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authors Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.
3. Instruktif
Instruktif atau pengajaran dalam mempelajari sejarah itu bisa kita dapatkan dengan merenungi bagaimana kronologi sejarah itu, niscaya kita akan mendapatkan pencerahan tentang kerja hukum sebab akibat, juga tentang dinamika, perubahan, perkembangan, dan banyak hal hingga kasus destruktif dan intervensi sejarah.
Setelah saya membaca tulisan-tulisan tentang sejarah Singosari misalnya, saya bisa mengambil suatu “instruktif”, betapa harta, tahta, dan wanita memang momok yang perlu diwaspadai, sebab itu godaan terbesar bagi seorang pria. Bagaimana tidak? Tragedi kudeta Ken Arok atas Tunggul Ametung itu menurut saya tidak bisa lepas dari tiga faktor itu. Itu pelajaran yang saya dapat, mungkin anda bisa mendapat instruktif yang berbeda dengan saya.
Membaca perjalanan Ken Arok, itu juga motivasi bagi para pemuda. Jangan minder jika anda adalah anak orang kecil, sebab Ken Arok pun juga bukan siapa-siapa namun ia bisa menjadi orang besar, karena kegigihannya dalam mendapatkan cita citata, eh..maksudku cita-cita, di mana zaman itu masyarakat terbagi menjadi 3 kasta; Brahmana, Satria danSudra. Dan Ken Arok dari sudra bermetamorfosis menjadi Brahmana yang Satria, tentu itu tidak lepas dari peran gurunya, Brahmana Loh Gawe.
Kekerasan bukan good solution. Pembunuhan yang dilakukan Ken Arok terhadap Tunggul Ametung justru pemicu terhadap pembunuhan berikutnya. Saya tidak berbicara kutukan Empu Gandring yang katanya keris itu akan menewaskan 7 orang, sebab sejarah berbicara keris itu tidak sampai menewaskan 7 nyawa. Tragedi pembunuhan antar saudara di Singosari bukan sebab kutukan Empu Gandring namun ulah pembunuhan Ken Arok atas Tunggul Ametung. Toh, kalau percaya kutukan, kutukan Empu Gandring pun keluar dari mulutnya sebab kekerasan yang dilakukan oleh Ken Arok sendiri.
Membaca Singosari menurut Pramodya Ananta Toer dalam NovelArok Dedesnya,  adalah percaturan politik yang sengit. Politik itu penuh intrik. Politik itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kekuasaan. Kudeta Ken Arok terhadap pemimpin Tumapel itu adalah tragedi kudeta pertama di tanah jawa. Kudeta politik yang halus nan rapi. Ken Arok bukan hanya berandal namun ia adalah pemimpin pergerakan bawah tanah, dengan legitimasi para Brahmana. Gerakan makarnya bernama Gerakan Empu Gandring, yang dengan kecerdikannya mampu menggulingkan Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung. Kudeta berdarah-darah namun otak pelakunya justru disanjung-sanjung, bahkan diangkat menjadi pemimpin. Ya, membaca sejarah singosari dari kaca mata novel itu, kita akan mendapat instruktif betapa politik itu penuh telikungan, sarat kepentingan, tiada lawan dan kawan yang ada tujuan.
4. Rekreatif
Sewaktu saya masih duduk di kusamnya bangku sekolah dasar, menjelang kelulusan dulu saya sekelas mengadakan study tour ke Candi Borobudur di Magelang itu. Kegiatan itu merupakan program rutin SD saya setiap tahun. Saya gembira bukan main karena itu pertama saya berwisata ke Candi Borobudur. Saya gembira bisa melihat bangunan sebesar itu yang konon telah ber abad-abad berdiri. Saya belum mengerti apa itu study tour. Saya belum mengerti betapa berwisata peninggalanan sejarah mampu menggugah pikiran saya tentang edukatif, inspiratif, instruktif, pelajaran politik, atau pelajaran masa depan. Bagiku, berwisata sejarah sangat menghibur, rekreatif. 
Benarkah Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman? Baca
Begitu pula ketika saya tinggal di Surabaya beberapa bulan yang lalu, di akhir pekan saya biasanya jalan-jalan ke Tugu Pahlawan, sekedar merefresh kesuntukan menikmati secangkir kopi sembari melihat-lihat Tugu Pahlawan. Itu sembuat saya menyegarkan dan menghibur. Kalau anda pigimane?
Menyegarkan pikiran di tempat-tempat besejarah adalah kegemaran orang-orang yang ahli pikir biasanya; guru, dosen, seniman, intelektual, arkeolog. Sebab mengunjungi tempat-tempat seperti itu mampu menyegarkan otak mereka ditengah kesibukan dan kepenatan karena tempat-tempat bersejarah mampu memberi ketanangan, tentu berbeda dengan berwisata di pantai, tempat-tempat  perbelanjaan, TMII, Ancol, Jatim Park yang terkesan riuh, gaduh, dan sulit merefresh, memberi kenyamanan bagi ahli-ahli pikir. Atau kalau bisa memberi ketenangan biasanya melewatkan bersama keluarga. Jadi, keluarga bahagia semua jadi bahagia.
Ow, siapa orang yang tak berkeinginan rekreasi ke Tembok Raksasa Cina peninggalan dinasti Ming itu. Konstruksi yang terstruktur dengan dahsyat sepanjang 8.851 km. Bahkan pengunjung akan makin tercengang melhat keindahan di bertemunya Laut Bohai dekat Shanghaiguan di Kota Qinhuangdao sekitar 300 km sebelah timur Beijing. Di situ adalah tempat bermula atau berakhir tembok raksasa Cina (tergantung memandang) dan dari situ bisa melihat terbentangnya Danau Lop  di bagian barat, sepanjang setengah lingkaran yang terbentang di tepi selatan Mongolia. Ya, begitu asyiknya berkunjung ke tembok besar raksasa Cina yang terdiri dari 7 bagian utama; Muara Kota Batu, Menara Cenghai, Vihara  Nereus, Menara Suar jinglu, Lintasan Nanhaikohu, Kota Ninghai dan tembok Binhai.
Saya yakin anda akan terhibur pergi ke Tembok Raksasa Cina, apalagi kalau anda muslim bisa pergi ke Makkah sebagai wujud; Ibadah juga Wisata yang menyegarkan jasmani dan rohani.
5. Pendidikan Politik
Sekolah mengajarkan sejarah, sedangkan pelajaran sekolah merupakan kurikulum yang telah ditetapkan pemerintah. Kebijakan pemerintah tiada lepas dari kebijakan politik.
Ini persis di prolog tulisan ini, bahwa sejarah biasanya tak lepas dari karya suatu pemerintahan tertentu. Dulu, sewaktu saya sekolah dasar diajarkan tentang sejarah G30S/PKI, Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia, dimana Partai Komunis Indonesia yang berupaya merobohkan Pancasila untuk diganti dengan ideologi komunis layaknya Koreautara, Cina, Uni Soviet, Kuba, Vietnam  saat itu. Ideologi yang dicanangkan oleh KarlMark dan Lenin itu akan mengganti Pancasila, begitu kata buku sejarah yang dulu saya baca. (Maaf bo'ong, mana mungkin saya mengerti beginiian ketika di bangku Sekolah Dasar, taunya jg kelereng)
Saya mengenyam sekolah dasar mulai tahun ajaran tahun 1993 hingga lulus tahun 1999. Tentu itu adalah masa kekuasaan Presiden Soeharto, yang berupaya mengubur keburukannya atas kudeta Presiden Soekarno.
Tragedi Supersemar yang saya pelajari dulu menggambarkan Soeharto seperti Pahlawan atas carut marutnya negeri ini. Sekarang, mengapa sejarah berbicara lain? Kini, ahli-ahli sejarah mengungkap kebejatan Soeharto demi kekuasaan dan kelanggengan kekuasaannya.
Pembekokan fakta sejarah ini tentunya juga berlaku di negeri-negeri lain. Pengaburan sejarah biasanya terjadi di negara-negara bekas jajahan. Banyak sejarah yang dikaburkan oleh kolonial untuk membodohkan masyarakat negara jajahannya. Dulu, Samudra Pasifik bernama Lautan Teduh, ini bertujuan untuk mengaburkan sejarah Nusantara, yang dulunya adalah jalur strategis perdagangan dunia. Lautan Teduh yang dalam bahasa Indonesia artinya lautan nyaman, tentram. Lautan itu dinamai teduh, bahasa melayu yang itu cikal bakal bahasa Indonesia, ini sebagai bukti dominasi politik pulau Nusantara atas negara-negara sekitarnya.
Kok bisa berubah dari Lautan Teduh menjadi Samudra Pasifik, siapa yang merubahnya? Tentu saja yang merubahnya adalah armada laut sebuah bangsa yang telah menjajah lautan seluas sepertiga bumi itu.
Penjajah ingin menghilangkan bukti sejarah atas negara jajahannya supaya mereka pesimis terhadap nenek moyangnya. Betapa banyak bukti-bukti sejarah di Indonesia yang hilang. Kemana kemegahan Kerajaan Majapahit yang konon masyhur seantero Asia?
Ayo, terbit kembali gajah mada-gajah mada baru!
6. Pendidikan masa depan
Apakah sejarah bisa terulang kembali? Menurut saya bisa saja jika Tuhan menghendaki. Terpenting adalah kita bisa mengambil pelajaran dari sebuah kejadian. Jepang mampu mengambil pelajaran dari sebuah gempa untuk membuat alat canggih untuk menanggulangi gempa jika sewaktu-waktu terjadi lagi. Diantaranya ilmuwan Jepang membuat karya rumah kardus. Menurut Noboru Nomura, Konsulat Jendral Jepang, membuat rumah kardus sangat mudah dan cepat sebab hanya membutuhkan ketrampilan origami. Rumah Kardus ini beratnya ringan sehingga tidak membahayakan nyawa ketika terjadi gempa susulan. Arsitek Jepang juga membuat truk besar yang di dalamnya didesain layaknya rumah sehingga ketika terjadi gempa dan bencana truk tadi bisa cepat menutup dalam waktu 260 detik. Massa truk berat sehingga bila diterpa angin atau ombak truk itu tetap aman. Begitulah Jepang belajar dari sejarah untuk pelajaran dimasa yang akan datang.
Menutup tulisan ini, saya akan mengutip dari AzyumardiAzra, bahwa sejarah itu tidak harus menengok waktu yang telah kelam apalagi masa  lalu yang tampak jauh sekali. Sebaliknya, sejarah itu ada yang berlanjut ke zaman sekarang yang biasa disebut dengan kontemporer, dan bahkan hari ini yang telah terjadi itu juga sejarah.
Banyak peristiwa sejarah sejarah masa lalu yang punya dampak hingga hari ini yang sulit disingkirkan. Maka kejadian masa lalu adalah akar kejadian masa kini. Yang ini kadang terjadi pada siswa dasar yang berujung di masa yang akan datang. Ada ungkapan Prancis,”histoire serepete” sejarah mengulangi dirinya sendiri. Tentang ungkapan ini, pengertiannya tentu bisa berbeda tafsir. Terpenting lagi, sejauh mana kita mau menjadikan sejarah sebagai monumen bersejarah yang cukup dijadikan pelajaran.
Konon, sapi saja tidak akan mengulangi kesalahan di tempat yang sama yang membuatnya pernah terpeleset. Al-hasil mengingat sejarah bukan hanya romantisme dan menyalakan bara api namun juga merasakan kepahitan. Dan seringkali kepahitan membawa bara dendam yang panas dan membakar emosi yang berujung dendam sejarah yang tak bisa dilupakan meski bisa dimaafkan. Solusi meredam dendam sejarah memang meski dengan mengkaji kembali benar atau salah sejarah itu. Dan, siapa yang seharusnya bertanggung jawab?
Mengutip ucapan Bung Karno lagi, JAS MERAH!
Nb: Selama ini Jas Merah diarikan, jangan sekali-kali melupakan sejarah, ternyata itu diklarifikasi Mas Guruh, yakni: jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Baca

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.