Kutu Kupret, cerpen untuk Mbak Sri


Oleh: Marzuki Bersemangat

Sri Mulyani Indrawati nama perempuan itu. Empat Puluh tujuh tahunan. Tipikal ibu muda, punya daya juang tinggi dan yang prioritas adalah integritasnya, begitulah orang-orang Indonesia memandangnya. Kini di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono jilid II, beliau duduk manis sebagai menteri keuangan dan mampu mencetak goal-goal yang mencengangkan. Ironisnya, teman-teman sepermainan menampakkan wajah-wajah yang sinis pada pencetak platinum goal ini. Tak pelak dalam perjalanannya ini berusaha dijerat erat-erat dengan tak berujungnya skandal bank century.
Ukiran berkilau di jagat Asia yang sudah ditorehkan Sri Mulyani membikin bank dunia jatuh cinta. Konon setahun yang lalu Ibu Sri Mulyani pernah dilamar Bank Dunia namun Bapak presiden belum mengizinkan kepergiannya. Tapi bank dunia tampaknya tidak putus asa. Melihat kecantikan aksi-aksi cerdas pengelolaan keuangan di Indonesia dipinanglah sekali lagi. Dan, akhirnya Sri Mulyani mengundurkan diri dari menteri keuangan Indonesia, atas seizin presiden pula beliau bulan depan akan berkantor di Washington DC Amerika serikat.
“Walah-walah! Lempar batu sembunyi di luar negeri”, Ujar Wak Jo, penuh sentimen berkomentar tentang Sri Mulyani Indrawati ini.
Aku, Wak Jo, Mas Poer dan Mbak Ruk memang gila-gilaan kalau berkumpul. Sok elit sekali tema pembicaraannya. Saat terjadi perdebatan liar, keempat orang ini hanya terdiri dua kubu; Wak Jo blok’s Vs Mbak Ruk blok’s. Aku pro Mbak Ruk dan Mas Poer pro Wak Jo. O, aku pembela perempuan.
“Betul, betul, betul,……..”, dukung Wak Jo
“Betul apanya, Poer?”, gertakku
Mas Poer tampak gelagapan mendengar jawabku. Ia pun menutupi rasa malunya dengan menepuk-nepuk paha sembari bernyanyi ria tanpa dosa. Sesaat kemudian Mbak Ruk yang sedari tadi memain-mainkan handphone jiwa kartininya muncul.
“Sri Mulyani, itu putri teladan Indonesia,…….”, kata Mbak Ruk dengan semangat optimis.
“Eh,……..”, ulah Wak Jo, mencibir Mbak Ruk.
Wak Jo, yang sok kampium intelektual ini sebenarnya deg-degan bila-bila beradu argumentasi dengan Mbak Ruk. Lha wong mahasiswa kutu kupret bin pasifis kok melawan mahasiswi kutu buku bin aktifis. Namun kami berempat adalah klop. Tolong menolomg mengisi kantong bila-bila satu diantara kami tertimpa kantong-kantong kekayaan. Ya, inilah kehidupan di negeri orang.
“Betapa di tengah-tengah kasus yang menjeratnya, beliau malah menunjukkan taringnya bercahaya di panggung dunia”, Mbak Ruk meneruskan.
“Betul, betul, betul,……”, Suportku
“Betul apanya, Mar”, balas Mas Poer.
Akupun celingak-celinguk juga. Cengar-cengir. Mendukung tanpa melalui proses berpikir. Namun jangan sebut Marzuki Bersemangat kalau tidak pandai nge-les. Dan entah, entah kenapa aku disambut ketiga temanku dengan terkekeh-kekeh begitu aku berucap.
“Ya itu Sri Mulyani, Menteri keuangan,iya kan?”
Untuk kesekian kalinya kutatap dalam-dalam satu persatu wajah temanku. Wajah yang sangat-sangat jenaka sekali. Menertawakan aku, atau jangan-jangan mereka menertawakan atraksi-atraksi konyol panggung perpolitikan Indonesia ini? Dimana wajarnya perbedaan visi terbiasa dengan saling menyingkirkan.
Dalam sisi-sisi pandangan Wak Jo, sebagai mahasiswa kutu kupret bin pasifis, pertunjukan reaksi itu bisa-bisa dianggap sikap picik belaka. Pengunduran diri Sri Mulyani dari Menteri keuangan lantas berkantor di Washington DC Amerika Serikat adalah satu bukti betapa rupa-rupa orang berdasi di Indonesia bertindak menerjang aturan kemudian berlari sembunyi saja. Dan, biarkan saja waktu yang menenggelamkan kasus itu. Pengkhianat!
Pandangan Wak Jo, ini sekaligus potret argumentasi-argumentasi masyarakat kita. Betapa masyarakat kita masih berkutat dalam tataran berpikir seperti itu, yakni minimnya kepercayaan terhadap orang-orang di institusi pemerintahan. Lha kalau orang-orang layaknya Wak Jo, lalu siapa yang mau percaya dengan institusi kita?
Merupakan sebuah sunnatullah bila ada orang yang berpandangan seperti Mbak Ruk, seorang optimistis sejati. Bahwa Sri Mulyani adalah teladan Kartini masa kini yang tegar berkarir ditengah-tengah cengkraman dominasi lelaki yang menjadi lawan-lawan politiknya. Menggugah kaumnya melalui sepak terjang yang jitu. Dan bagaimana beralasan sebuah ucapan, lempar batu sembunyi di luar negeri? Lha wong beliau dikenal sebagai satu dari dua orang yang paling bertanggung jawab dalam kucuran penalangan dana century. (Catatan; dua orang tersebut adalah Sri Mulyani dan Boediono, di era rezim Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla). Ya, begitulah pandangan Mbak Ruk.
Argumentasi Mbak Ruk sebenarnya mencakar-cakar para pewacana gender yang tak habis-habisnya menyuarakan kesetaraan. Realitasnya gender di Indonesia telah sukses diusung. Berbagai sector-sektor pekerjaan perempuan telah berkiprah. Ironisnya mereka hanya bersuara tanpa diikuti menciptakan terobosan baru di panggung dunia. Dan, sekali lagi, Ibu Sri Mulyani Indrawati adalah teladan Kartini Indonesia masa kini.
“Duarrr”
Mbak Ruk memecahkan keras-keras plastik bekas yang ditiupnya tepat di depan mukaku. Byar lamunanku buyar. Dan ini merupakan kali kedua aku ditertawakan dengan mulut lebar-lebar oleh Mas Poer, Wak Jo dan Mbak Ruk di coofee break pagi ini.

08.35/10/05/2010
Bumi Damai Robberriver

SORBAN (DIKALUNG) PEREMPUAN



Oleh: Marzuki Bersemangat
Sempat aku terbawa diawal-awal film yang sudah berkali-kali kutonton itu. Sangking emosionalnya tanganku corat-coret kertas di tumpukan kamar. Judul catatan yang bertuan sampah ini bentuk kalimat pasif dari film “Perempuan Berkalung Sorban” yang digawangi Hanung Bramantyo. Konon yang baru kemunculannya sempat ada kontroversi. Aku tidak akan ngelantur perihal sengketa hasil kreatifitas anak bangsa itu. Bagitu art to art. Aku hanya ingin nostalgia pesantren yang penuh dengan cerita-cerita inspirasi. Ngomong ngalor-ngidul yang kadang secara tidak langsung menjawab problem masyarakat. Tak pelak gender (perihal : kelamin laki-laki dan perempuan) yang sedikit dipertunjukkan dalam film itu.
Kawan, ku kenalkan karibku, Budi. Sekarang membanting tulang menuntaskan S2 di Universitas Diponegoro Bandung (2008-2010). Posturnya tinggi, besar putih dan tampan; idaman kaum hawa yang bisa geregetan melihatnya. Secara aku pribadi, cerdas merupakan satu alasan untuk aku jadikan sahabat. Teman dalam silang pendapat - nyeduh teh kopi - no smoking - tentu juga berkelana mengitari Jombang tercinta saat-saat butuh intuisi, waktu dulu nyantri di Kyai Mojo Tambakrejo Jombang.
“Mas, yo opo tentang gender menurut sampean?” tanyaku pada Mas Budi saat kami sedang ngopi di Mak Ti warung belakang pesantren
Aku memanggilnya memang “Mas” sebagai sikap hormat. Terpaut empat tahun lebih tua Budi. Ia sangat respek dan penuh spirit dengan kehadiranku. Ciri khas budi kalau berpikir: mengerutkan dahi dan tegang, serta bola matanya minggir seakan melirik anjing menggonggong. Aku tahu banget Budi akan berkata serius, tandanya; memukul lantai dua kali dan memperbaiki posisi kopyah yang selalu melekat di kepalanya.
“Gender ta pli,......”
Budi memanggilku “Kipli”. Tak apalah!. Ia berkata dengan pelan, santai, bercerita tentang Kyai tauladan kami, Drs. KH. Imron Djamil yang penuh talenta dan banyak mengajarkan sisi-sisi lorong kehidupan dengan ilmu dan wawasan intelektualnya yang mengagumkan pada kami. Beliau pernah bercerita, bahwa suatu hari di negeri antaberantah pernah terjadi dua obrolan antara dua orang perempuan terpelajar; perempuan muslim dan non muslim. Dengan nada penuh sentimen perempuan non muslim itu berujar;
“saya heran melihat perempuan muslim ini, mengapa kok masih mempertahankan idealisme di tengah zaman yang HAM sangat di junjung tinggi ini”
“Maksud kamu bagaimana ?” tanya perempun muslim sembari tersenyum manis.
“Ya saya tidak terima dengan doktrin islam yang mengekang kaum perempuan, yang keluar rumah saja harus ditemani atas seizin suami. Berbeda dengan kami yang free-bebas, sangat dihargai haknya”
Perempuan muslim itu tenang. Tampak sangat dewasa. Menatap penuh sayang dengan perempuan yang berusaha memojokkan islam itu, kemudian berargumentasi:
“Oh. Begitu. Saudariku, islam itu sangat sekali memperhatikan hak-hak perempuan, lihatlah sikap Islam dalam memperlakukan perempuan, dalam berpakaian saja kami diatur sedemikian anggunnya, berjilbab. Cantik sekalikan . Apalagi untuk urusan keluar rumah, kami harus dikawal bak permaisuri. Hebat! Bukankah perempuan dalam islam adalah sangat-sangat dimuliakan”
Itulah metafornya Budi dari Kyai, KH. Imron Djamil. Kyai kami berupaya mengklarifikasi permasalahan gender yang marak dipersoalkan perempuan muda muslim, yang sebenarnya itu hanya cara pandang saja.
Kawan, argumentasi yang negatif sangat sulit mengalahkan manusia yang mempunyai pola pikir positif. Dan hemat kami, percaturan diantara kubu-kubu Islam merupakan dampak misskomunikasi dan kurang saling keterbukaan. Wa Allahu A’lamu Bissowabi (10.49/02/02/2010)


ILMU IKU KALAKONE KANTI LAKU



By: Marzuki Bersemangat
Pahit dan manis begitulah rasa coklat yang lebih di identikkan dengan cinta. Serupa dengan kopi yang disebut ni’mat merupakan akumulasi pahit dan manis. Dan, setiap manusia punya cinta-punya manis dan pahit. Tentu tak lepas aku: kepahitan dalam sebuah percintaan terletak bukan pada sebab obyek permasalahan besar dan kecil. Namun ego cinta itu sendiri: ingin memiliki sepenuhnya. –“Emang u tkut y… mobilX hlang, mnding g’ usah y.. ke rumhQ”- SMS itu menggetarkan semua hal yang ada di Masjid Darus Salam, tempat aku sedang membaca Al-Qur’an. Huruf-huruf hijaiyah itu membuatku lebih tegar untuk mengingat SMS dia (her) atas sebuah kesalah pahaman.
Mengapa dalam prolog tadi saya awali dengan pembicaraan cinta? Pertama, memasukkan anda untuk mengikuti tulisan saya. Cinta adalah problem yang sangat universal, begitu juga freedom yang sangat menarik untuk setiap orang menyimak. Kedua, untuk mendapatkan seorang perempuan saja, saya (mewakili manusia) memerlukan perjuangan, yang secara perbandingan “al-mar’atu wal-ilmu” lebih tinggi al-ilm (baca: ilmu)
Orang jawa mengatakan ilmu kalaku kanti laku atau ilmu iku kalakone kanti laku (pencapaian ilmu itu melalui proses belajar) laku atau proses itu bisa dalam hitungan bulan, tapi bisa juga dalam hitungan tahun. Substansi dari pesan itu adalah, tidak ada ilmu yang dapat dipetik begitu saja tanpa melalui proses.
Saya masih teringat dengan cerita Mbah saya di kampung saya, yang sampai akhir 1980-an masih mengenal tradisi meguru (mencari guru) yang dilakukan oleh anak-anak muda (laki-laki) yang menginjak dewasa. Setiap laki-laki setelah sunat (waktu itu sunat dilakukan pada usia antara 15-18 tahun) dan sebelum menikah, mereka mengisi jiwanya dengan berguru kepada seseorang yang dianggap mempunyai ilmu. Ilmu yang mereka cari bukan ilmu kekebalan tubuh, melainkan ilmu yang mereka anggap berguna untuk bekal hidup sebagai petani, seperti ilmu mengusir hama, mengusir bala, bencana, dan sejenisnya. Dalam proses pencarian ilmu itu, mereka melalui berbagai tahapan, seperti puasa senin-kamis selama tujuh kali, puasa mutih (tidak makan garam) dan ngrowot (hanya makan umbi-umbian, bukan nasi dan sayuran saja), masing-masing tiga hari, lalu hidup di hutan selama tujuh hari tujuh malam. Setelah itu baru katam (tamat), yang ditandai dengan selamatan. Sebelum katam, pada malam ketujuh setelah tidur di hutan itu, ilmu mereka dicoba dulu dengan cara mereka diminta membawa satu ikat kayu bakar yang cukup banyak, lalu setelah sampai dirumah disuruh meletakkan dengan cara dibanting, entah orang yang didalam rumah mendengar bantingan tersebut atau tidak. Bila mendengar, yang bersangkutan dinyatakan sudah katam dan esok paginya baru selamatan yang ditandai dengan nasi ingkung, yaitu nasi uduk dengan ayam kampung. Bagi yang belum katam, mereka diwajibkan mengulang lagi dari awal, bersama-sama dengan anak muda lain pada angkatan berikutnya (thank 4 Darmaningtyas).
Saya masih teringat pernah membaca tulisan Darmanintyas, di Kompas 2 Mei 2004, tentang jungkir baliknya mendapatkan gelar Doktor sungguhan (maksudnya bukan Doktor Honoris causa maupun lainnya). Mereka memerlukan waktu empat sampai delapan tahun dengan kerja keras siang dan malam. Dalam buku “Wong Jawa Timur Berpengaruh”, Bapak Soekarwo menceritakan sempat frustasi ketika menempuh program doktoral. Namun beruntung Istri beliau Hj. Nina Kirana, Dosen di Universitas dr Soetomo (UNITOMO) Surabaya, yang mampu menyulutkan semangatnya. Sang istri selalu meniupkan asa, agar dirinya tak mudah putus asa. Dan sang istrilah yang membantu menerjemahkan literature disertasinya yang mencapai 302 buku, untuk meraih ilmu hukum di UNDIP.
Belajar dari anak-anak muda di kampung saya yang secara tekun mau menjalani proses berguru itulah yang membuat saya terkesima, begitu pula para pencari gelag doctor sungguhan yang belajar siang-malam, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Namun sungguh ironis, ketika melihat pelajar dan mahasiswa sekarang memperlakukan ilmu sebagai produk dan kurang menghargai proses. Berdasarkan informasi mahasiswa yang memiliki IP tinggi, rata-rata system pembelajarannya lebih terfokus pada mekanisme pembahasan soal-soal ujian tahun-tahun sebelumnya. Akibatnya, setelah lulus, meskipun IP tinggi, mereka bingung mencari pekerjaan atau tidak menguasai pengetahuan diluar yang mereka pelajari. Alias kuper. Dan, akan sakit para doktor sungguhan dengan adanya praktek jual-beli gelar doctor yang marak (diperbincangkan) beberapa tahun lalu. Mereka sakit lantaran kerja kerasnya bertahun-tahun disamakan dengan orang yang dapat membayar Rp. 1-25 juta. (24/02/2010)

Cerita Cinta 2: LANGIT TUMBANG MALAM HARI





CATATAN MALAM SEBAGAI DONGENG SEBELUM TIDUR DAN AH.. KITA KAN KETEMU BILA SAMPAINYA WAKTU:

Wacana Marzuki: cerita cinta 2. Malam dingin menemani peraduanku. Semua fasilitas kamar; Personal Computer, Aneka Pemutar Musik, TV, Guitar, buku-buku sastra-hukum-sejarah-filsafat-psikologi-pemikiran agama-novel sudah putus asa menghiburku. Bahkan, pena dan kertas my soulmate seakan bosan mendekatiku. Sungguh benar malam yang mencuri hatiku untuk merindukan juteknya gadis tepi bengawan solo.
Ia bukan gadis paling cantik yang kukenal. Tepatnya gadis sombong yang kutemui. Namun semua penilaianku pada gadis itu kenyataannya: Salah Besar. Realitasnya gadis itu adalah superstar, dan semua temanku menjadikan obyek perhatian utama diorganisasi itu. Tiada diskusi paling menarik selain tema tentang dirinya.
9 Agustus 2005 ku kenal namanya: Allison, nama paling indah dari segala hal yang ada di Indonesia. Dinding Dhalem kasepuhan Ma’had Putri menjadi memory card pertemuanku. Organisasi yang sebenarnya mengenalkan aku tentang dunia social-mendupak egoisme-menjunjung pluralisme, juga tempat menumbuh kembangkan benih cinta yang terpahat at first meet.
Mencekamnya malam ini hatiku terecovery oleh juteknya gadis itu. Lelaki yang belum tersystem syaraf otaknya akan bisa keder menghadapiya apalagi menggodanya. Kupaksakan malam itu telfon dhalem untuk berbicaa penting dengannya tentang LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) organisasi besok pagi. Melalui temanku, Fatimah sebagai kabel untuk bisa disambungkan. Segalanya serba rumit bila disangkut pautkan dhalem dalam urusan santri putra VS santri putri. Telfon berhasil disambungkan aku berbicara dengannya:
“Assalamu’alaikum, nie Marzuki”
“Wa’alaikum salam, heh…lo ngga’ tahu ya ini telfon ndalem disadap tau. Orang dhalem itu kenal banget ama aku. Glek. Thut. Thut.”
Respon yang menyakitkan saat itu, namun tak lama kemudian datang sepucuk surat darinya atas permintaan maaf. Hati mengembang dan bumi meluas .
Terlalu sering gadis itu jutek di hadapaku. Namun sama sekali aku tidak pernah berkecil hati. Kiriman salam darimu tersampaikan selalu untukmu dan itu obat atas sikap jutekmu. Juga sabarku menghadapi karaktermu.
Aku bertanya pada malam
Dimana kau sembunyikan wajah kasihku?
Malam menjawab:
“Kekasihmu akan datang setelah kau serahkan jiwamu padaku”
(Sajak Arwan)
Seandainya Allison tahu, jiwaku telah kuserahkan padamu sejak dulu. Bahkan volume semangatku menurun saat dirinya meninggalkan Ma’had. Namun apa jawabmu:
“Ah, gombal”
Aku tahu Intan kamu bukan lawan debatku. Aku tidak perlu memberikan rayuan-argumen-opini dari yang logis sampai yang absurd. Aku hanya cukup menatapmu dengan pandangan sayang dan itu membuatmu sadar. Akulah lelaki yang bisa membahagiakanmu.
Aku bertanya pada bintang
Dimana bias kujumpai kasihku malam ini?
Bintang menjawab:
“kau akan jumpai dalam teropongku saat bermimpi”
(Sajak Arwan)
Bila untuk sekarang aku harus bermimpi untuk bertemu denganmu, aku akan tidur sekarang juga untuk memberikan pelangi dalam mimpimu. Dan bila diizinkan aku akan tetap memberikan warna dalam hidupmu setelah kubuka mataku dari tidurku. Seluruh hidupku akan kudedikasikan untuk membahagiakanmu.
Namun, aku mau nyata bukan mimpi. Aku mau, sewaktu dulu menyapamu di depan Ma’had:
Allisooooooooon
Kau bingung mencari sumber suara. Tubuhmu yang jelita kau putar tiga kali. Kau menemukan aku dan bibirmu melebar. Aku kembang kempis mengatur nafasku. Kau berlari menjauh membelakangiku. Satu-dua-tiga kau menoleh manja membangkitkan hormonetestosteronku.
Lalu aku bertanya pada peraduanku
Apakah kau siap mengantarku berjumpa dengan kekasihku?
Peraduan menjawab:
“setiap nafasku adalah pengabdian untukmu”
(Sajak Arwan)
Hatiku gembira meluap-luap mendengar jawaban peraduan. Aku akan memberi predikat : “Bravo” untuk peraduan. Jangan kerutkan dahi! Bravo merupakan gelar untuk sesuatu yang super di Negara Cina. Jangan naikkan alis! Cina adalah Negara adidaya untuk tempo sekarang.
Waktu itu siang hari aku dan teman-temanku berkumpul di rumah teman mempersiapkan acara sarasehan malamnya. Kami berempat duduk berderet menyamping arah utara selatan di kursi memanjang. Aku duduk dipinggir paling utara dan sebelahku ada temanku cewek-cowok-cewek. Tengah pergelutan musyawarah datang, Allison gadis cantik jelita dengan senyuman merekah. Senyuman itu bukan kepadaku namun pada tiga temanku. Terbukti jabat tangannya hanya mendarat ditiga temanku. Aku diam merunduk merenungi nasib. Hidup seakan tak berarti. Aku seperti Soe Hiok Gie yang dimarginalkan dalam pemerintahan Soekarno karena pemikiran- pemikirannya kiri. Terbuang, tidak diperhitungkan. Aku ingin sekali berlari dan sama sekali tak kembali. Namun, ditengah aku sedang menyingkirkan egosentrisku ada suara bersahut-sahutan diluar diriku:
“Ehem..ehem..heeem”
Aku menoleh keselatan, dan! Ada tangan indah yang menjulur menerobos melewati depan tubuh tiga teman-temanku. Tangan itu sabar menanti sambutku. Sesabar aku menanti senyummu yang berdampak sistemik dalam diriku saat kulihat wajahnu. Aku ragu benarkah tangan indah dengan kuku-kuku yang terawatt itu menanti dekapan jari-jari tanganku.
“Ehem..ehem”
Suara teman-temanku yang tidak mempunyai standar “lafdun Mufidun Musnadu” itu sangat memahamkan bagiku (lalu layakkah “Ehem” diklasifikasikan “kalam” dalam sintaksis gramatika arab?). Suatu tanda untuk aku cepat menangkap jari-jari putih, panjang, mempesona detik , itu juga. One-two-three dengan ackting layaknya Tora Sudiro dalam film otomatis romantis yang lugu, polos sok tidak tahu apa-apa, sok murah senyum akupun menyambut tangannya. Dan, terdengar suara dari bibirnya yang mungil.
“Eh, sepurone yo..”
“Okelah kalow beg…beg..begituw”
Aku terlelap aku hanya diam duduk di balai desa depan ruman Allison. Aku tahu kamu di kampus. Namun, bukankah pecinta sudah cukup bahagia melihat apapun yang berhubungan dengan orang yang dicintai, walaupun berupa puing-puing pasca bombardier tentara Amerika yang tak berhati nurani.(16/02/2010)

Marzuki
In The Island of Kaligarung



Mr. M. Kumpul


(Dengan hari pers 9 Februari 2010 ini mari kita untuk tetap bisa mencintai tulisan)
By: Marzuki Bersemangat
Mr. M. berkumpul dengan teman2nya disebuah café AmUnsEnd tikungan kota. Kumpul2 makan2 atas realisasi ucapan “kumpul2 makan2. makan2 ngobrol2 (Thank 4 Umar Kayam).

Mr. M. kali ini menjadi sumber masalah. Tentunya sebagai sumber masalah Mr. M. membuka pembicaraan yang hanya menyodorkan poinntnya saja.

Sebab hegemoni barat terhadap pers Islam:

  1. kelemahan managemen. Sekitar pertengahan 1980-an, majalah berbulanan bahasa inggris yaitu Arabia: The Islamic Word Reviu, yang benar2 membela islam menemui ajalnya.
  2. adanya sikap inferior terhadap barat. Akibatnya sebagai pers islam hanya mengutip mentah2 apa yang disodorkan pers barat.
  3. Kurangnya wawasan pengetahuan pengelola pers Islam. Ini berakibat ketidak makuran pers islam untuk bersikap kritis dan selektif terhadap sumber berita dari barat.

Selesai Mr. M memberikan penghantar masalah. Beberapa temannya telah terlihat mengacungkan tangan atas ketidakterimaan statement Mr. M. Seru!.

Mr. M. Bernostalgia



By: Marzuki Bersemangat
Mr. M memarkir harleynya di dekat lampu merah stasion kereta api. Melihat siswa-siswi yang melakukan penelitian disebuah sawah samping stasiun itu. Cahaya matahari yang panas. Sesekali Mr. M mengusap keningnya dari keringat. Antusiasnya siswa-siswi tertular pada Mr. M. Semangat menelusuri lika-liku alam kehidupan.
Duar. Dua dari dua arus yang berlawanan. Perang acap sering kali terjadi. Kubu pisang dan kubu kelapa. Bertarung memperebutkan “kebenaran” atau “Dukungan”. Kubu itu saling membawa pendapat sebagai penguat. Tak pelak simbol-simbol agama, repoblikien, benda-benda angkasa menjadi tameng. Manusia acap kali lupa, bahwa ada satu momok yang sebenarnya harus diperhatikan untuk mendaatkan stempel kebenaran dari manusia: uang!?.

Mr. M pun membiru matanya, manakala lembaran-lembaran dinar itu ditaruh disakunya. Mr. M tidak mau menjadi munafik. Katanya, menyebut Tuhan tidak mengingatkan kita pada uang, namun sebaliknya, uang dapat mengingatkan pada Tuhan. Pernyataan tersebut diambil dari buku GANTI HATI DAHLAN ISKAN.

Orang suksespun, pada zaman sekarang lebih dilihar dari faktor ekonomi. Dan mereka lebih bisa membawa motivasi bagi anak muda. Kyai yang diundang dalam pengajian diperkampungan, masyarakat lebih terdahulu memandang kendaraan. Itulah potret masyarakat kita. Masyarakat yang sudah bergeser cara pandangnya dalam menyikapi apapun, bukan lagi masyarakat tempo dulu.

Mr. M melihat pada fenemona masyarakat bahwa mereka dalam pemilihan wakilnya yang duduk diatas. Memilih calon yang lebih dekat dengan mereka, yaitu uangnya. Mr. M pun bertanya-tanya pada dirinya, apakah uang segalanya? Beberapa hari Mr. M merenung, diskusi, tanya pada orang-orang yang dianggap nyambung tentang hal itu. Dan jawabannya adalah tidak, tapi kesepakatan.

Uang tidak akan dapat menukar apapun. Kesepakatanlah yang menjadi poin utama terjadinya jual beli. Konon disebut barter. Barang ditukar dengan barang. Mr. M teringat, dulu didesanya bahkan sampai sekarang adalah desa yang kaya akan beras. Karena sebagian besar desanya merupakan sawah. Dan tidak afdhol kalau tidak berprofesi petani walaupun guru. Ketika dulu pada rezim Soeharto, petani sangat menjunjung beliu. Karena Pak Harto dekat dengan para petani dan harga dari hasil petanipun lebih tinggi dari pemerintahan setelahnya . Beras dulu sangat menjadi kebanggaan petani. Untuk membelipun petani menukarkan bers dengan barang yang diinginkan.

Mr. M semakin bernostalgia dengan Ngawi kota beras ah...!! Indonesia dulu adalah negara swasembada pangan. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan logistiknya sendiri. Sekarang Mr. M tidak tahu apakah predikat itu masih melekat. Tapi Mr. M gembira, mendengar bahwa Indonesia saat ini, 2009, hutangnya pada IMF suda hampir lunas. Tapi Mr. M belum mengecek kebenaran berita itu kalau memang itu benar, 100 buat SBY-JK. Kenaikan BBM kemarin katanya adalah langkah SBY untuk melunasi hutang, salah satunya.

ENEREGI BERSEMANGAT PUSARAN JAGAT



BY: MARZUKI BERSEMANGAT
Memasuki lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tepatnya di pemakaman Bani Hasyim sudah terasa atmosfer berbeda. Selain sangat teduh karena banyak sekali manusia-manusia yang berbaju religi, juga indah dengan terdengarnya alunan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, tahlil. Dada ini terasa tenang, nyaman serasa tidak mempunyai hutang.
Kami berangkat bersama team kami dari Pondok Pesantren Al-Ghozali Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang. Memasuki gerbang Podok Pesantren Tebuireng tepat ba’da Maghrib. Dari gerbang terlihat masjid Pondok penuh dengan para jama’ah menikmati istirahat yang sudah selesai sholat Maghrib. Kami langsung menuju lokasi pemakaman Bani Hasyim untuk mengikuti do’a bersama tujuh hari wafatnya KH. Abdurrohman Wahid. Do’a bersama dimulai ba’da isya’ sehingga kami bisa menikmati nuansa yang santai. Walaupun begitu team kami mengisi suasana nyantai dengan membaca suroh yasin dan terlihat team kami juga ada yang observasi para peziarah. Menjelang adzan isya’ tempat duduk yang disediakan oleh panitia telah dipenuhi peziarah yang akan mengikuti do’a bersama.
Jam Hp kami tepat menunjukkan 19.45. keamanan kuwalahan dengan para peziarah yang membludak. Dan sangat mungkin kami tidak akan bisa masuk ke pemakaman bila kami datang ba’da isya’. Kami merasakan energi bersemangat pusaran jagat dari do’a para peziarah. Apalagi saat Emha ainun Nadjib, budayawan kelahiran Jombang ini melantunkan syair yang biasa dinyanyikan Gus Dur: “Ilahilastulilfirdausiahla walaa aqwa ala naaril jahiimi…..”

Ya Tuhanku, aku tidaklah pantas memasuki surga-MU
Namun, aku tidak kuat bernada dalam neraka
………………………………………….
………………………………………..
Cak Nun mengajak hadirin untuk bersemangat menyainyikan syair yang katanya biasa dinyanyikan Abu Nuwas itu. Syair ini bukanlah politik untuk merayu Tuhan, namun syair ini adalah bentuk kejujuran seorang hamba pada Tuhan.
Dengan balutan busana serba putih, suami Novia S. Kolopaking ini juga menggembar-gemorkan “gitu aja kok repot” yang sering diucapkan Gus Dur. “memang orang Indonesia itu tidak mau ambil pusing, kenyataannnya disini banyak yang tertawa, tidak sadar kalau punya hutang “Kata Cak Nun disambut gelak tawa hadirin.
Tapaknya Cak Nun merombak cara pikir masyarakat tentang pemahaman Gus Dur. Cak Nun berupaya menempatkan Gus Dur sebagai manusia. Bahwa manusia bisa salah dan lupa. Upaya ini sebagai usaha Cak Nun untuk supaya tidak mengkultuskan Gus Dur.
Menapak tilasi Gus Dur yang utama adalah dari keikhlasan beliau. Gus Dur berjuang tanpa pamrih. “Gus Dur itu handphone bukan Cashing. Lha…. Pemimpin sekarang itu lebih menampakkan cashing sedangkan handphonenya mati” terang Cak Nun dengan bersemangat.
Hadirin sangat antusias medengarkan Cak Nun dengan gayanya yang ceplas-ceplos terkesan lebih mengena dan mudah untuk diterima. Maka ketika Cak Nun berbicara tentang pluralisme dan multikulturalisme, yang hadirin adalah masyarakat plural juga, Cak Nun pun tidak menjelaskan secara bertele-tele. “Plural iku yo macem-macem. Kalau orang arab mengenal “yasqutu” (jatuh) maka orang jawa ada; ceblok, rutuh, dlosor, jlungub, tibo.”
Sebelum menutup pidatonya, cak nun menyuruh santrinya membaca syair buatannya untuk Gus Dur. Sekaligus Cak Nun memberikan filosofinya. Acara do’a bersama itu ditutup do’a oleh KH. Maimun Zubair Sarang Jawa Tengah.
Acara selesai kami merungsek di tengah jejalan pezirah yang ramai untuk mendekati makam Gus Dur. Dengan sedikit diskusi dari teman-teman kami, akhirnya kami mendapatkan antrean lancar, namun memang belum bagian kami. Ternyata antrean itu hanya melewati. Kami belum puas. Misi kami adalah untuk dapar berdhikir didekat makam Gus Dur.
Sebelum tulisan ini kami tutup, maaf ya, kami mau bicara soal pluralisme sedikit saja. Perihal pluralisme, sering disinggung Cak Nun dalam berbagai pertemuan. Yang diketahui penulis, Cak Nun pernah menyampaikan bahwa sejak zaman kerajaan Mojopahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.
“Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” Ujar Cak Nun

Menurut Cak Nun, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan kristen, dengan budha, dengan katolik, dengan hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.
Gambar di ambil dari http://surabaya.detik.com/images/content/2009/06/03/466/caknun-dalam.jpg
BUMI KALI GARUNG NGAwI
Selesai Ditulis 22.10/13/01/’10
Terimakasih kepada Bapak, Ibu, Nenek yang bisa memahami aku sedang jatuh cinta yang aku bisa menghabiskan semua waktuku bersamanya.

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.