BE THE SUCCESS ENTEPRENEUR! SO WHAT

 Oleh: Marzuki Bersemangat
Saat kuliah terbuka itu saya berada di deretan paling depan. Bagi saya kelas itu adalah kelas paling bergengsi yang pernah ku ikuti. Selain karena tempatnya ,tapi juga sebab dosennya yang istimewa,  tentu saja istimewa di hati saya tapi juga istimewa bagi masyarakat Indonesia, dulunya CEO Jawa Pos Group namun sekarang menteri BUMN. Dan, beliau sering menndapat julukan komandan koboi.  Siapakah beliau??

"Beri kesempatan kepada anak muda, ia yang akan mengubah dunia, saya selalu mengatakan hal ini diberbagai kesempatan. Anda sekarang sebagai pemuda, adalah sebuah kesempatan besar untuk menjadi pengusaha; tubuhnya kuat dan berani nekat. Namun pemuda itu kurang pengalamannya. Sedangkan saya, pengalaman banyak tapi tenaganya loyo. Jadi, kita sama-sama punya kelemahan dan kelebihan. Tapi, bila nanti anda umur 30-35 tahun, anda punya tenaga yang kuat tapi juga pengalaman yang luas, satu lagi, nanti ekonomi Indonesia akan semakin kuat. Maka mulailah dari sekarang! Mulailah dari hal yang kecil! Jangan mulai  dengan bermimpi besar tapi memulainya nanti”.

Itulah cuplikan  sedikit pidato Bapak Dahlan Iskan yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri di Surabaya, yang dihadiri para mahasiswa-mahasiswi dari berbagai penjuru jagad raya ini.

“kenapa kita harus memulai dari hal yang kecil?", tanya beliau kepada para peserta kuliah,”Ayo maju-maju kesini!”, Seru beliau. “kenapa kita harus memulai dari yang kecil, pertama, resiko kecil. Jadi untuk rugipun resikonya sangat kecil dan kemungkinan untuk bangkitanpun sangat besar kemungkinannya, Pak. Tapi semisal kita mulainya dari yang besar. Maka kalau bangkrut kemungkinan untuk bangkit sulit, Pak”, jawab Muh Agus dari Universitas Muhammadiyah Malang dengan Bersemangat.

“Oke! Jadi mulailah dari yang kecil dan mulailah dari sekarang. Dan, saya akan mendo’akan , semoga anda cepat  jatuh  .....", tentu pernyataan kalimat terakhir itupun  disambut gelak tawa para peserta. "Lho, iya, karena kalau belum jatuh itu belum sah. kalau sudah jatuh baru akan tau, bagaimana rasanya jatuh dan belajar apa yang harus dipelajari. kedua, kalau anda sudah mulai berusaha, saya akan mendo'akan anda cepat-cepat tertipu. semua pengusaha itu pernah tertipu. sebab, kalau anda tidak tertipu maka bisa-bisa andalah penipunya.he..he..he..he...".

Bapak Dahlan Iskan juga meminta beberapa peserta untuk maju,menyeritakan perihal usahanya yang pernah ditipu orang. salah satunya Fendy dari UPN Surabaya, yang membeli sapi jantan, lalu diternakkan (dipeliharakan) oleh saudaranya sendiri dan setelah dipelihara beberapa tahun lantas dijual pada hari raya Idhul Adha kok harganya malah turun, usut punya usut ternyata memang ditipu saudaranya itu. Dan, seketika itu juga disambut gelak tawa oleh peserta.


"saya meramalkan orang ini nanti akan menjadi entepreneur sukses, karena orangnya nekat. pengusaha besar itu orangnya nekat-nekat", tutur beliau.

Dalam penutupan kuliahnya Bapak Dahlan Iskan berpesan, "sesuatu yang sangat menggiurkan itu harus dicurigai. Sesuatu yang terlalu menarik itu harus dicurigai, sampai hari ini saya itu begitu. kalau ada orang yang menawari pada saya bisnis yang katanya  lancar atau dengan  iming-iming bunga yang besar itu patut saya curigai, apa maksudnya dari orang itu".


HAPPY BLOGING


 
Pada pertemuan kemarin (25/05/2012) di Akademi Berbagi Madiun, kami kedatangan tamu kehormatan yaitu Mas Karel Anderson. Beliau (cie...beliau) aslinya dari Madiun namun kini mukim di Jakarta karena bekerja di www.detik.com, sebuah media online terbesar di negeri ini. secara, beliau juga adalah penulis online juga; www.karelanderson.com. Berikut ini tips happy bloging dari beliau:

  1. Carilah tempat yang senyaman mungkin.
  2. Kalau bingung mau nulis apa, tulislah apa yang ada di sekitarmu
  3. Jujur. maksudnya kita harus jujur dengan apa yang kita tulis.
  4. Berpikirlah dari sudut pandang berbeda. misalnya; ketika kita menyaksikan fenomena alay anak zaman sekarang, maka cobalah kita telusuri mereka dari sudut pandang yang berbeda, bahwa ternyata dinamika alay itu sangat banyak macamnya. Dan, itu bisa jadi ide tersendiri untuk kita tulis.
  5. Tulislah gagasan kita sendiri.
  6. Cobalah dalam menulis awali dengan keresahan. sebab biasa menulis dengan emosi itu intuisi mengalir deras.
  7. Buatlah tulisan sederhana namunn menarik
  8. Jadilah bloger yang kreatif, semisal  selenggarakanlah lomba menulis di blogmu. oke!!

                                                           Selamat Berjuang!!

ENIGMA KOTA GADIS

Oleh: Marzuki Bersemangat

Seperti konstelasi bintang penunjuk arah yang saya pahami, kini semua enigma tentang Madiun sebagai kota gadis tampak terang benderang bagiku. Enigma itu muncul saat saya membaca semboyan kota Madiun ini, yang tentu juga yang terpampang di dalam kota ini. Kenapa ada enigma dalam pikiran saya tentang semboyan Madiun kota Gadis? Sebab dulunya Madiun yang saya kenal lekat dalam pikiran saya adalah bersemboyan Madiun Bangkit, dan lama sekali saya jauh lantas tepatnya 2012 saya mulai mengakrabi kembali dengan kota Madiun kini telah bermetamorfosis menjadi bersemboyan Madiun  kota Gadis, yakni : Perdagangan dan Industri, tentu ini saya ma’lumi, sebab Pemerintah Kota Madiun kini tengah gencar mengembangkan sektor sekunder (Industri) dan sektor tersier (Perdagangan) ini. Terbukti selama periode 2003 s/d 2008, sektor sekunder mengalami kenaikan dari 40% menuju 59 %. Sektor tersier meningkat dari 57,32 menjadi 58,45%. (Baca: www.wikipedia.org/wiki/Kota_Madiun)

 

Kawan, letak enigma saya adalah pada sebuah pertanyaan yang siang malam bergelayut di dalam batok kepala saya. Apakah pantas Madiun hanya disebut sebagai kota Gadis? Karena menurut analisa saya kota Madiun kini bukan hanya layak disebut sebagai kota Gadis, lebih dari itu ia juga berhak menyandang; Pertama kota bersejarah, dimana Madiun adalah kota yang secara historis ia mempunyai saksi sejarah besar dalam masa-masa kelam Negara Indonesia ini, yakni G30/S/PKI. Tentu pembaca yang budiman bisa menemukan adanya monumen  kresek, yang berlokasi 8 km  kearah timur dari kota Madiun. Peninggalan sejarah yang lain adalah Nglambangan. Merupakan peninggalan Majapahit berupa : Pura Lambangsari, Pesiraman. Lokasi ini digunakan upacara ritual pada saat bulan syuro. Disini juga terdapat beberapa tempat yang dikeramatkan; yakni rumah Eyang Kromo Diwiryo, Waktu Dakon yang dulu digunakan untuk menyimpan pusaka, Punden Lambing Kuning, Lambung Selayur, Sumur Kuno dan Sendang Jambangan. Kedua Madiun kota Pelajar, karena memiliki sejumlah perguruan tinggi ;IKIP PGRI Madiun, Universitas Negeri Madiun, Akademi Perkeretaapian Indonesia, Akademi Penerbangan Iswahyudi, dan Politeknik Negeri Madiun, juga ada Universitas Widya Mandala, Universitas Islam Indonesia, Universitas Merdeka Madiun, Universitas Muhammadiyah, STAN Madiun, STIKIP Widya Yuwana dan sebagainya. Sedangkan sekolah lanjutan atas, SMU (sekolah menengah atas) ada 6 Negeri dan 3 Swasta, SMK (sekolah menengah kejuruan ) ada 5 Negeri dan 14 swasta. Pelajar-pelajar di kota Madiun tidak hanya dari dalam kota namun juga banyak dari Kabupaten dan luar Kabupaten Madiun. Terbukti dengan membludaknya kost-kostan di sekitar Kampus maupun sekolah yang ditempati mukim para pelajar. Ketiga Madiun kota kuliner, bila pembaca yang budiman gemar terhadap rasa cipta makanan. Maka apa salahnya mampir ke kota Madiun untuk mencicipi aneka rasa makanan. Sebab di Kota Madiun ada 7 makanan khas yang siap santap dan mantap rasanya, yakni pecel Madiun, Brem, Madumongso, lempeng, kue satu, emping garut, Sego Jotos. Kawan, tentu dengan banyaknya makanan khas Madiun ini ia layak disebut sebagai kota kuliner. Bila malam silahkan mengunjungi Jln. Diponegoro ataupun bisa ke sekitaran alon-alon Madiun, saya yakin bila anda tidak siap mental akan dibuat menelan air liur memandangi aneka macam makanan itu. Keempat Madiun Kota Wisata, bagi pembaca yang gemar memacu adrenalin dengan pendakian, Gunung Liman di Kabupaten Madiun yang berada di puncak tertinggi pegunungan Wilis menjanjikan sensasi pendakian yang luar biasa. Sepanjang perjalanan banyak sekali ditemukan flora fauna dan arca di jalur pendakian dari Pulosari, Kecamatan Kare yang tentu ini menambah suasana wisata lebih greget. Tempat-tempat wisata yang lain ada: Waduk  Bening Widas, Wana Wisata Grape, Taman Rekreasi Umbul, Air terjun seweru/ Serondo, Waduk Notopuro, Waduk Kedungbrubus, Alon-alon Madiun, Dungus, THR, Waduk Dawuhan, Piranha Swimming Club, water zone Dumilah park Madiun. Belum lagi kini di Kota Madiun ada beberapa investor dari luar kota yang menanamkan modalnya di kota ini untuk wisata, salah satunya perusahaan yang bergerak di bidang bisnis properti PT Indraco menginvestasikan dananya sebesar Rp 200 miliar untuk pembangunan Suncity Festival di Kota Madiun, Jawa Timur. (baca : KOMPAS.com /28/11/2011). Begitu ragamnya tempat wisata di Kabupaten dan Kota Madiun yang tentu layak mendapat  julukan Kota Wisata. Kelima Madiun disebut kota Budaya sebab kota ini mewarisi budaya Pencak silat Setia Hati.

 

Pemerintah Kota Madiun tentu saja sangat lebih berhak untuk memberi nama semboyan pada kotanya. Saya yakin mereka punya alasan yang lebih signifikan dari pada guratan pena saya yang tak punya  taji ini. Namun minimal saya sudah menuangkan unek-unek saya pada sebuah tulisan tentang, Madiun bukan hanya kota yang tekstual maknanya sebagai perdagangan dan industri saja. Namun lebih dari itu Madiun mempunyai aneka kekayaan kultur, kuliner, seni, intertaint dan sebagainya. Selebihnya saya kembalikan pada kawan-kawan semua yang budiman. Wa Allahu A’lamu.a

DIbalik Megahnya Pasar Madiun


OLEH: MARZUKI BERSEMANGAT
Saat aku memulai tulisan ini hatiku bergidik. Acakadut. Lantas hati ini serasa ditaburi irisan bawang-bawang yang masih basah. Perih. Sebab, kedua telingaku kusumpal dengan headphone yang membunyikan lagu milik adele, yakni some one lile you, jangankan aku, manusia sesongong pentholan band Dewa 19, Ahmad Dhani, iapun tertunduk meneteskan air mata waktu Regina menyanyikan lagu itu, di Indonesian Idol sesion eliminasi top 15. Dan entah, entah kenapa radio Dcs FM 100.50 MHz Madiun ini selalu sok tahu selera hatiku.
Jam tangan digitalku bergerak pada 13.15 WIB. Namun matahari sejak pagi tadi masih malu-malu menunjukkan dirinya di atas kota Madiun. Kulihat spidometer motorku telah berputar sekitar 27 Km sedari rumahku. Sekarang saya berada di Jl. Sulawesi. Kunikmati sejenak suasana lengang ini disebuah depot Lombok Idjoe tepi utara jalan dengan secangkir coffee. Aku senang mendengarkan obrolan-obrolan para karyawan-karyawan dari berbagai elemen itu. Aku serasa life observer. Bagiku, mengamati manusia itu lebih rumit daripada sekedar memahami rumus matematika itu. Secara dzatiyah, Manusia itu makro kosmos. Berdinamika. Dunia itu mikro kosmos. Berdasar itulah sampai kini aku tak mau menghakimi manusia. Dan aku apatis tentang perspektif orang padaku.
Setengan jam berlalu nge_ coffee break akupun menancap motor menuju Jl. Dr. Cipto. Diujung jalan ini sampailah aku didepan PBM (Pasar Besar Madiun). Pasar yang tampak megah nan mengkilat sebab balutan keramik pada dinding-dinding depan itu. Dari Jl. Dr. Cipto aku menyebrangi Jl. Panglima Sudirman untuk ke PBM. Aku masih didepan pasar mondar-mondir mencari tempat yang nyaman untuk nongkrong. Kulihat ada warung pecel, tentu ini tuntutan perut yang mulai berdemo. Secepat aku memarkir motor sekilat aku memesan pecel khas madiun ini. Kududuki kursi yang tingaal satu menunggu pembeli itu.
“Pekene penampungan teng Stadion Wilis ajeng pindah teng mriki to , Pak?” (Pasarnya penampungan dari stadion Wilis mau pindah ke sini ya, Pak?”) Tanyaku pada orang yang duduk disebelahku.
Memang, sejak 2008 lalu, PBM untuk sementara dialokasikan sebelah utara stadion wilis Madiun. Tempat itu dulunya tetumbuhan heterogen. Lantas Pemkot Madiun membangun beberapa bidak rapi dengan kayu dan berdinding triplek. Ini sebagai upaya penertiban pedagang pasar besar pasca kebakaran.
Dan, kini empat tahun sudah para pedagang PBM menempati pasar penampungan itu. Bukan waktu yang singkat. Pasalnya proyek pembangunan pasar itu sudah molor dari kontrakannya. Dan, berulang kali PT. Lince Romauli Raya itu berjanji dan berjanji. Kawan, awal januari 2012 kemarin adalah somasi terakhir untuk segera mengkhatamkan proyek tersebut. Ancaman putus kontrak bila membelot.
Aku pernah hampir setahun bergumul dengan riuh-rendah pasar penampungan stadion Wilis Madiun. Dan, tentu aku merasakan becek dan berantakannya air saat hujan mengguyur. Bila malam hari saat pedagang sepi maka tikus-tikus sebesar paha-paha akan mengacak-acak dagangan. Ngeri. Tak terbayang memang, sebuah kota Madiun mempunyai pasar layaknya perumahan kumuh, apalagi kini Madiun terkenal dengan julukan kota GADIS ,(Arti dari madiun kota gadis adalah madiun kota perdagangan dan industri. Dulunya sebelum memakai nama madiun kota gadis, madiun memakai nama madiun bangkit yang artinya adalah bersih, aman, indah dan tertib. Pemerintah kota madiun memberi nama madiun kota gadis dikarenakan pemerintah kota madiun akan mengembangkan kota madiun dalam sektor industri dan perdagangan. Sumber www.kotamadiun.com ). Belum lagi dari sisi pengunjung pasar, “sepi banget, Mas”, kata salah seorang pedagang saat diwawancarai oleh Wartawan perihal pengunjung di pasar penampungan stadion wilis itu.
“Njih, triyose tanggal pitu April 2012 niki, nanging njih dereng cetho kok, Mas”, (Iya, katanya tanggal 7 April 2012 ini, tapi ya belum jelas juga sih, Mas”,)
Begitulah jawaban bapak yang duduk disebelahku tadi. Sungguh jawaban yang tak meyakinkan. Pasar yang tampak mempesona dari depan itupun tidak bisa menipu mata bapak itu, betapa bangunan yang konon menelan anggaran Rp 76,5 M dari APBD Kota Madiun tahun 2010 dan 2011 (sumber : www.antarajatim.com), ternyata asal jadi belaka. Dan, kabar akan pindahnya pasar penampungan ke PBM sudah akrab terdengar namun tak pernah terwujud. Menurut hemat penulis ada 3 hal yang menyebabkan pedagang enggan kembali ke PBM; pertama, karena proyek pembangunan pasar besar itu sama sekali tidak benar-benar digarap secara serius. Terbukti dengan sering macetnya pembangunan. Sempat santer terdengar di Masyarakat, jika banyak kuli mengeluh lantaran sudah beberapa bulan mereka belum mendapatkan uang saku. Kedua, para pedagang trauma dengan kebakaran PBM yang sudah dua kali tahun 1999 dan 2008. Ketiga, para pedagang kecewa dengan stand-stand dan lapak-lapak pasar yang ukurannya kecil dibanding dulu, juga kebijakan sekarang yang mengharuskan satu orang mendapat satu stand. Padahal dulu ada yang punya stand lebih dari dua hingga 15 stand. Konon arsitek PBM itu sengaja didatangkan dari negeri orang. Berharap hight quality secara international class, possible. Namun, impossible. Native Madiun tak sebodoh mereka kira.
Harapanku untuk PBM, bisalah menjadi wadah bagi pedagang yang dulu pernah berjualan di PBM, yang sempat tercerai berai tempatnya. Kedua, Dinas PBM bisa lebih sensitif terhadap permasalahan warganya. Wa’allahu A’lamu.
Opst! Aku tak sadar pecel pesananku tadi sudah didepanku. Lapar sekali. Kawan, udah makan belum, makan nie he he….

Esai-Esai Ringan Sembari Minum Kopi





"Tenggelamkan dirimu dalam kelemahan yang hakiki", KH. Imron Djamil Tambakberas Jombang



"Wahai garuda-garudaku! tetaplah istiqomah  menjadi garuda meskipun cucukmu belum tumbuh. Pastinya sebentar lagi cucuk dan kuku-kukumu akan tumbuh". Diadaptasi dari dawuh Cak Nun.

Anak Indonesia Harapan Masa Depan


Oleh : Marzuki

Proklamasi 17 Agustus 1945 merupakan sejarah terbesar bagi negara Indonesia. Sejarah yang didalamnya penuh telikungan dan pengorbanan. Memang, pengorbanan selalu memakan korban, kata Lenin, Bapak Revolusioner Rusia.

Tapi sayang, generasi yang saya tunggangi hanya gemar mendewakan sesuatu yang oportunis dan artifisial. Remaja yang kini telah terjangkit epidemi budaya mall; suatu budaya yang mengambil wacana dunia mall. (Darmaningtyas; dalam bukunya Pendidikan rusak-rusakan). Telephone genggam (Hp) lebih diartikan produk modern bukan diartikan secara fungsional. Maka tak heran, aksesoris yang melekat tidak mencerminkan perilaku yang konsisten. Membawa handphone namun ingkar janji tanpa memberi pemberitahuan.

Puluhan abad yang lalu hiduplah seorang nabi berkebangsaan arab bernama Muhammad, yang pernah dulu bersabda bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat terhadap manusia lainnya. Begitu sederhana teori beliau untuk menjadi manusia yang terbaik. Sekali lagi, menjadi manusia yang berguna bukan menjadi sampah masyarakat. Tentu disini, pesan ini lebih saya tekankan kepada para pemuda-pemudi sebagai generasi penerus bangsa ini. Lebih khusus lagi, anak Indonesia harapan masa depan. Anak Indonesia harus mampu mengembangkan potensi-potensinya. Yakni meluaskan kemanfaatan yang ada pada dirinya untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih luas.

Waktu yang hilang tak akan pernah tergantikan, begitulah kata mutiara yang tertulis didalam buku Al-hikam karya Ibnu Ato’illah As-syakandari. Betapa, anak indonesia harus berusaha memanfaatkan waktu dengan semaksimal mungkin untuk belajar. Kalau bukan kita yang mempersiapkan untuk menjadi pemimpin Indonesia masa depan lantas siapa lagi. Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk bercita-cita memimpin negeri ini. Dan, tak mudah untuk menjadi pemimpin negeri ini, semuanya harus mempersiapkan diri, begitulah pesan Bapak Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono. Semangat Budi Oetomo pada 1908 dengan deklarasi “Kaum Moeda Indonesia”-nya harus tetaplah kita pelihara. Pemuda seharusnya lah maju jangan berhenti, karena berarti mati, atau malah mundur yang berarti hancur. Dulu, sewaktu Indonesia belum memamah kemerdekaan ia telah berhasil melahirkan orang-orang seperti Bung Karno, Sjahrir dan Hatta. Sekarang?

Semangat tanya itulah yang bergelayut di otak penulis. Semoga secuil aksi saya ini bisa bermanfaat. Seenggak-enggaknya onggokan unek-unek saya ini sudah terlepaskan, atau minimal saya sudah beraksi daripada tidak sama sekali. Lebih dari, Wa Allahu A’lamu.

Tagged; aku anak Indonesia, Aku harus bisa, Sekolah untuk Indonesia

KATARSIS


Oleh: Marzuki
Di sekolah, setiap hari otak aku diracuni oleh senyum-senyum manis Allison meski aku tak ubahnya wisatawan yang berbunga hati hanya dengan memandang saja. Allison ini sekonyong-konyong menawarkan padaku seutas tali cinta yang dilempar-lemparnya melalui gaya-gaya bicara dan gaya –gaya sikapnya. Sebagai laki-laki yang normal aku dihadapkan untuk memilih satu dari dua opsi yang rumit. Antara ketekunan belajar dan menangkap saja cinta Allison. Opsi kedua merupakan sarat risiko bagiku, karena itulah menyangkut perasaan. Bukankah perasaan menuntut peran sangat dominan dalam tapak-tapak langkah manusia? Bukankah prioritas sekolah adalah belajar dengan tekun? Namun, bukankah pacaran mampu menjadi tiang-tiang kokoh pembangkit spiritualitas belajar? Ah, otak ku selalu berkecamuk perang argumentasi yang bertendensi pada Allison.
Hari senin ini aku bangun pagi benar. Senyum Allison terus saja bergelayut di batok kepalaku meski baru bangun tidur. Seusai solat subuh rutinitasku membaca buku atau Koran sembari menunggu sampainya waktu berangkat sekolah. Namun hari ini aku parah berat. Aku hanya duduk termenung di depan rumah dan otak ini makin bereksplorasi ria data-data tentang Allison; rindu senyum manisnya, rindu merdu suaranya saat-saat bercengkerama dengan teman-temannya, rindu gaya cerdasnya mengeluarkan pendapat saat-saat diskusi kelas. Sungguh 90% bagian otak ini tersita untuk Allison.
Aku berteriak lirih pada benda-benda di sekelilingku,”Apakah ini yang namanya cinta?”
Semuanya diam. Tampak dicuekin, mukaku merah. Aku pandangi dalam-dalam rumput di depanku. Dan, rumput itu entah, entah kenapa tampak mengusirku: Hei, orang gila, pergi kau!
Aku mundur tiga langkah. Mengalah. Dan berbisik keras pada rumput menjengkelkan itu.
“Brow, apakah kau tahu, yang kurasakan ini benar-benar cinta?”
Aku terkejut. Rumput di depanku itu bergoyang-goyang, seolah-olah mau mengajak berbicara dengan bahasa tubuhnya itu.
“hai James,…”
Aku makin tercengang dengan sapaan itu.
“Cinta itu hanyalah ketegangan perasaanmu saja. Katarsis!”
Aku memperhatikan rumput itu tanpa sama sekali berkedip. Diam. Namun aku tak sependapat dengan argumen rumput itu. Bukan. Cinta bukanlah katarsis.
“James, asal kamu tahu ya, cinta yang kau alami itu melibatkan hormon-hormon seksual,……”
Rumput itu tahu kalau saya tak sependapat dengannya. Maka terus saja nyerocos meguatkan argumennya.
“Tahukah kau? Hormon testoteronnya Tejo dan hormon progesterone Surti, itu bergejolak menggerakkan aliran darah mereka berdua saat-saat bertemu”
Bingung. Sama sekali aku tak sependapat dengan argument makkhluk itu. Namun argument apa untuk menguatkan pendapatku. Aku mengerutkan dahi tanda berpikir keras. Belum aku menemukan argumen, rumput itu menggertakku dengan mengibaskan daunnya ke arahku.
“Heh! Ngapain kamu hanya bengong. Maukah kau kusebut manusia bodoh?”
“Tidak!”
Akhirnya aku berani mengeluarkan suara meski hanya satu kata saja bentuk penyangkalan. Aku tidak mau kau anggap bodoh. Kamu hanyalah rumput. Namun…
Rumput itu berbisik keras,”Dan perlu kau ingat-ingat! Ketegangan gejolak gerakan-gerakan aliran darah mereka, antara Surti dan Tejo, itu bias saja mencapai titik puncak, yakni kebosanan. Katarsis! Itulah cinta yang kau alami, hei orang bodoh!”
Aku tersentak hebat dengan kata terakhir bisikan dari makanan lezat sapi itu. Aku berupaya keras menguras otak ingin sekali membantah argument itu. Semakin aku berpikir justru rumput itu makin bergoyang-goyang menertawakan ku: Bodohnya kau orang udik!
Kini sedikit-sedikit aku mulai mengagumi sosok rumput itu. Cerdas! Aku pun jadi samar-samar mengingat salah satu lagu Ebiet G Ade yang berjudul Berita kepada kawan yang sebagian liriknya ada yang berbunyi,” Atau alam mulai enggan Bersahabat dengan kita Coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang. O, betapa Tuhan menciptakan makhluk-NYA pastilah membawa manfaat dan sama sekali tak boleh diremehkan. Walau hanyalah seonggok rumput. Aku berusaha menggerak-gerakkan bibir ini untuk tersenyum manis pada rumput itu namun sepertinya ada suara-suara bising yang mengganggu kemesraanku.
“James, ayo berangkat!”, teriak keras John Kimsey dari seberang jalan yang suaranya diiringi dengan menggeber gas Harley Davidsonnya.
Brooooom…..bum! Bum…broooooom….
“jaaaaames”
Broooooooom
Aku diam. Aku tahu itu panggilan kawanku, John Kimsey. Namun rasa-rasanya berat sekali meninggalkan kemesraanku bersama rumput ini. Tapi, aku tetaplah harus berangkat sekolah. Aku amat rindu pada senyum Allison. Aku harus sekolah!
“Ooooooooe hooooooe ayooooo! James”
“Oke! Sebentar, John!”
Aku menjawab panggilan John lebih cepat dari geberan gas Harley Davidson itu. Aku sudah menyiapkan semua properti sekolahku sejak bangun tidur dan telah berseragam usai shubuh. O, aku tak lupa cium tangan orang tua sebelum berangkat sekolah.
Broooooom…….bum! Bum……..broooooom
Tampaknya John kelamaan menungguku. Aku berlari kecil kearah John. Opst! Muka John merah. Tak bersahabat. Aku harus menampakkan rendah hati dan meminta maaf.
“Sory banget, John”
“Yuuuuuk, cabut!”
Broooom….. bum! Broooooom…..
Jarak tempuh ke sekolah  7 km. jarak yang relative dekat. Lha wong Harley Davidson. John Kimsey amat konsentrasi bila berkendara motor. Bagi John, seni yang membuat seluruh panca indra bekerja adalah naik motor.
Aku merasa seperti bermain ayunan dibonceng motor ini. Segar. Begitu segarnya sampai otakku terbawa mengingat kembali pada forum liar dengan rumput tadi. Cinta itu katarsis, begitulah argument rumput tadi. Aku sama sekali tak sependapat. Bagiku, cinta adalah hasil yang dicapai akibat kecenderungan naluriah. Pendapatku karena teringat waktu dulu aku mengaji. Bahwa Al-Ghozali di dalam Ihya’ Ulum Ad-din mendefinisikan cinta sebagai kecenderungan naluri kepada sesuatu yang dirasa menyenangkan dan menentramkan jiwa. Cinta bukan sama sekali hanya kekalutan atau ketegangan perasaan semata, namun cinta mampu menumbuhkan ketentraman jiwa.
Kini aku sadar niat baik rumput, betapa ia sebenarnya berupaya menyadarkanku untuk jangan terlarut dengan perasaan ini. Aku adalah siswa yang harus tekun belajar. Aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Masa depanku masih panjang. Memang, cinta adalah kebutuhan, tepatnya kebutuhan naluriah. Namun belajar merupakan kewajiban bagi siswa. Akupun membuat keputusan, biarkan sajalah cinta ini mengalir apa adanya mengikuti alur-alur kehidupan. Prioritasku adalah belajar.
“Turun James!”
Aku kaget. Tanpa terasa telah sampai di sekolah. Dan John Kimsey memandangku.
“Wah! Mukamu tampak pucat pasi James, sakit ya? Bagaimana kalau aku antar kamu pulang? Nanti aku sajalah yang akan urus perizinan absen kelas. Oke!”, John bersemangat.
“Memangnya aku kenapa? Wong aku sehat-sehat begini kok! uhuks..uhuks…He…..he….he….”, sembari aku berlagak layaknya lakom film popeye is sailor.
“lha begitu dong! Senyum! Cemberut saja dari tadi”
“Kawan! Sebentar ya…aku mau ada bisnis”
“loh James! Kemana?”, teriak John, tak rela kutinggal.
Aku berlari kecil ke Mushola sekolah yang berjarak 150 m dari tempat parkir. Aku mau solat dhuha dan berdo’a untuk menstabilkan gejolak hatiku. Aku tidak mau berlarut-larut otakku ter-instal oleh data-data tentang Allison. Aku ingin bangkit dari keterpurukanku. Aku rindu pada sosokku dulu yang tekun belajar. Sosok yang selalu membusungkan dada bila berjalan. Sosok yang mampu memberikan pencerahan pada teman-teman. Kini, rasa-rasanya untuk berdiri saja sulit. O, betapa cinta membuatku tak berdaya.
Aku langsung mengambil air wudhu di Mushola. Suasana mushola putra sungguh sepi. Entah, bagaimana suasana mushola putrid? Namun biasanya mushola putri lebih ramai. Ada atmosfer yang berbeda memasuki mushola ini. Hatiku lebih tenang. Gejolak cinta ini sangat pedih bila aku harus jauh dari Tuhan. Akupun sholat dhuha yang lantas aku berserah diri pada Allah Swt.
“Ya Allah, berikanlah rupa-rupa kebaikan dengan cintaku ini. Bila memang benar-benar Allison adalah jodohku, aturlah dengan system-sistem canggih-Mu. Dan bila memang bukan engkau ciptakan dari salah satu tulang rusukku, alangkah baiknya Engkau jauhkan saja perasaan cintaku pada Allison ini”
Seremonial ini sangat berarti bagiku. Bukan artinya cintaku pada Allison tenggelam. Bukan! Namun aku merasakan cintaku ini lebih membawa ketentraman jiwa.
Usai aku ritual ini suasana mushola masih tampak sepi. Aku sempatkan diri mengintip mushola putrid sebelum pergi ke kelas. Dan, tiba-tiba saja kaki ini seperti sama sekali tidak menyentuh tanah, tangan yang kugunakan menyibak kain penutup candela mushola putri ini tiba-tiba saja gemetar. Karena dua bola mataku menemukan sesosok perempuan yang begitu dekat dengan hati ini. Saat menoleh ke wajahku perempuan itu tampak terkejut sesaat lantas senyum simpul.
“Assalamu’alaikum, Allison”, ucap salamku mesra.
“Wa’alaikum salam, eh……James, ada apa? Memang kamu tidak bersiap-siap upacara?”
“Ya, masih kurang dua puluh menit kok”
“Ayo! Jangan-jangan mau sembunyi ya….tidak ikut upacara, he……he……”
“Eh, Allison itu cantik-cantik tapi suka memprovokasi ya”
Ah! Begitu saja marah. Hati-hati saja, cepat jadi kakek-kakek!”
“tidak apa-apalah, yang penting nenek-neneknya kamu! Ha….ha…ha…”
Sungguh pertemuanku dengan Allison ini menghamburkan segala kelu kesahku. Senyumnya menaklukkan kesombonganku sebagai lelaki. Aku tak mampu lagi untuk merapal konsep-konsep rayuanku. Aku lunglai. Aku menatap matanya dengan tatapan cinta. Dan saat dua bola mata Allison merespon tatapan dua bola mataku, benar-benar aku tak sadarkan diri.

Kebebasan “Wal” Kebablasan

Oleh : Marzuki
Adrenalin ini rasa-rasanya tersulut-sulut lantas berkobar-kobar api motivasi ingin menjadi revolusioner sejati saat-saat mendengar putri Indonesia, yakni RA Kartini. Remaja perempuan yang tergugah jiwanya melihat lingkungan sekitar yang serba terdominasi oleh lelaki, lelaki dan lelaki. Pria, pria dan sekali lagi pria. Aturan-aturan yang tersusun sopan dari nenek moyang kemudian mengakar kuat dan seakan-akan menanggung dosa besar bila berani mengacuh, dimana perempuan hanya boleh bermimpi untuk hidup dinamis, akademis layaknya perempuan-perempuan eropa masa itu. Budaya lelaki yang seenaknya saja menikahi perempuan lebih dari satu merupakan barang yang sangat lumrah dimata Kartini, namun bukan sekali ramah di hati Kartini. Keinginan gerak kaki perempuan untuk melangkah kejenjang pendidikan tinggi, hanya memunculkan rasa iri saja, dimana laki-laki bebas menentukan arah kompas masa depannya. Adat yang memingit perempuan saat umur 14 tahun merupakan masa-masa betapa perempuan tersiksa, dimana melihat teman-teman lelakinya bisa bebas berkelana. Usai dari pingitan adalah ketika ada pria yang melamarnya dan membawanya pulang kerumah suaminya, dan bagaimanakah perasaan perempuan yang harus menikah dengan manusia yang sama sekali tak pernah dikenalnya?, dimana perempuan dituntut “sendiko dawuh” (patuh) dengan sabda-sabda suaminya. Ya, pemandangan inilah yang menggerak-gerakkan urat Kartini belia untuk mengangkat hak, kedudukan dan derajat kaumnya yang secara social dipandangnya rendah. Benih-benih yang tertanam kuat dalam jiwa kartini inipun tumbuh berkembang hingga mendirikan sekolah spesialis perempuan di tanah kelahirannya, Jepara. Walaupun duri-duri tajam bertebaran merintangi gadis manis ini, idealismenya dalam mendidik kaumnya sedikitpun tak tergoyahkan, bahkan sampai beliau menikah. Beliau ahli pikir, pemikirannya yang kritis dan menggugah pembaca ini sebagian terdokumentasi secara rapi dalam buku Dooe Duisternis Tot Licht, habis gelap terbitlah terang, berupa surat-surat kepada sahabat-sahabatnya di Belanda. Sekali lagi, Kartini merupakan pemikir, motivator, sekaligus pelopor emansipasi wanita yang dimanifestasikan dalam kegiatan sehari-harinya yang sama sekali tak pernah lepas dari perjungan; membantu rakyat kecil, meneliti problema-problema social, dan tentu saja mengejar atau mendidik putra-putri pertiwi.
Kini Indonesia berada ditahun 2010, millennium ketiga, bukan sekali menginjak tanah-tanah adat tahun 1890-an. Sekarang perempuan-perempuan telah hidup bebas terbang dengan sayap-sayap hak asasi manusia. Mereka kini telah dimanjakan dengan rupa-rupa pendidikan di universitas-universitas tinggi, perempuan karir menjamur dimana-mana dalam berbagai sub-sub pekerjaan, dan argumentasi mereka dalam memilih-memilah laki-laki sebagai pendampinya sungguh-sungguh dihargai. Dan Kartini-Kartini baru selalu muncul dan tak pernah lelah-lelahnya mereka mempermasalahkan-menimbang-memperjuangkan kesetaraan hak, kedudukan dan derajat wanita. Ya, sampai-sampai negeri loh jinawi ini telah mengizinkan dipimpin presiden perempuan, yakni ibu megawati Soekarno Putri.
Namun kartini-kartini baru ini seolah-olah ada yang lupa menekan-nekan rem pengendali batas-batas kebebasan, kalau sungguh-sungguh menentang diklaim kebablasan. Ya, betapa banyak perempuan-perempuan perkasa yang kokoh mempertahankan gengsinya hidup di ketiak suami lantas bekerja keras dan lupa walaupun hanya menyeduh secangkir teh atau kopi untuk suaminya, apalagi peduli dalam urusan-urusan seni pengelolaan “Home” dan House. (Catatan; dalam bahasa inggris memang terdapat dua kata pembahasaan rumah,”home” dan “house”. Rumah tangga biasa memakai “home”, dalam rumah, makanya lantas sering mendengar “broken home”, keretakan rumah tangga. Sedangkan “house” biasa digunakan untuk menunjukkan bentuk fisik bangunan rumah).
Nah coba telongok, begitu bertebaran mahasiswi-mahasiswi muslim, aktivis kampus yang vokal dan giat mewacanakan gender (jenis kelamin) dalam pergumulan organisasinya, ironisnya mereka mengabaikan norma-norma agama dalam interaksinya, baik sosial ataupun vertical (catatan: hubungan dengan Tuhan). Lantas apakah mereka boleh dibilang tidak mengerti, bahwa sosok Kartini yang mereka teruskan perjuangannya adalah manusia religius, yakni memegang teguh hukum-hukum agama?
Harapan penulis untuk kartini-kartini baru ini hanyalah, waspadalah untuk tetap menempelkan kaki ini diatas rem-rem pengendali! Berupa, ya “flash back” kembali meski sebentas saja kemungkinan terbesit niat-niat membengkok awal tujuan memulai perjuangan, atau membuka-buka buku, mutho’laah lagi merenungi dalam-dalam, apa makna emansipasi?
Semangat untuk merenung inilah yang selama ini bergelayut di hati penulis, menggumpal, menggumpal lalu membuncah tak tertahan lagi dan duarr! Meletus mengalirkan tinta membentuk secuil tulisan yang amat dangkal, klise dan tentu saja sektoral-partikular ini. Meskipun demikian, bukankah gerakan kecil ini lebih baik daripada tidak melakukan sama sekali? (Marzuki Bersemangat)

Tentang penulis :

Marzuki Ibn Tarmudzi, pernah mencicipi sedikit segarnya lautan ilmu di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang, Jawa Timur. Hobinya yang suka nyorat-nyoret kertas ini dimulai semenjak nyantri. Kini, hobinya itu dituangkan di berbagai media online, itung-itung sebagai aksi dari ; “بلغوا عني ولو أية “,” sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat ”.